
Oleh : Khaori Suci Armadani
Di tengah meningkatnya kesadaran akan sampah plastik, ada satu jenis limbah yang justru paling sering diabaikan yaitu puntung rokok. Kecil, kerap tak terlihat, namun menjadi salah satu penyumbang pencemaran terbesar di lingkungan.
Aktivitas merokok masih menjadi hal yang lumrah di berbagai ruang publik.
Namun, di balik asap yang cepat menghilang, tersisa jejak yang jauh lebih lama, puntung rokok yang dibuang sembarangan. Banyak orang menganggap benda kecil ini tidak berdampak signifikan, padahal dalam jumlah besar, puntung rokok menjadi ancaman nyata bagi tanah, air, hingga ekosistem sekitar.
Akbar (24), seorang perokok aktif, mengaku tidak melihat rokok sebagai masalah lingkungan. Menurutnya, dampak yang ditimbulkan terlalu kecil untuk dianggap serius. “Menurut saya, merokok itu bukan masalah lingkungan. Puntung rokok kan kecil, masa iya bisa berbahaya atau jadi limbah besar,” ujarnya.
Pandangan tersebut mencerminkan cara pikir yang cukup umum di masyarakat, di mana ukuran fisik suatu sampah sering kali dijadikan tolok ukur dampaknya. Padahal, puntung rokok mengandung bahan seperti selulosa asetat—sejenis plastik yang sulit terurai—serta zat kimia berbahaya yang dapat mencemari tanah dan air. Dalam jumlah besar, limbah ini berkontribusi pada akumulasi sampah yang tidak terlihat, tetapi terus bertambah setiap harinya.
Berbeda dengan Akbar, Rahma (20) justru melihat rokok sebagai persoalan serius, tidak hanya bagi kesehatan, tetapi juga lingkungan. Ia menilai bahwa kebiasaan membuang puntung rokok sembarangan memperparah kondisi pencemaran. “Dampaknya itu besar, bukan cuma ke kesehatan, tapi juga lingkungan. Hal kecil seperti puntung rokok justru jadi limbah terbanyak walau sering tidak disadari,” ungkapnya.
Perbedaan pandangan ini menunjukkan adanya kesenjangan kesadaran di masyarakat. Di satu sisi, rokok masih dipahami sebatas kebiasaan individu, sementara di sisi lain, dampak lingkungannya belum sepenuhnya menjadi perhatian bersama.
Selain mencemari tanah dan air, puntung rokok juga kerap menjadi pemicu kebakaran, terutama di area kering seperti lahan kosong atau hutan saat musim kemarau. Bara api yang masih tersisa pada puntung yang dibuang sembarangan dapat dengan mudah menyulut api, yang kemudian berkembang menjadi bencana lebih besar. Hal ini menunjukkan bahwa limbah kecil ini tidak hanya berdampak pasif, tetapi juga berpotensi memicu kerusakan lingkungan secara langsung.
Minimnya kesadaran dan fasilitas pembuangan khusus juga memperparah kondisi ini. Di banyak tempat umum, tempat sampah khusus puntung rokok masih jarang ditemukan, sehingga perokok cenderung membuangnya sembarangan. Di sisi lain, edukasi mengenai dampak lingkungan dari rokok juga belum masif, membuat masalah ini terus berulang tanpa penanganan yang serius.
Puntung rokok mungkin tampak sepele, namun akumulasinya menyimpan persoalan besar yang kerap luput dari perhatian. Tanpa kesadaran dan perubahan perilaku, limbah kecil ini akan terus menjadi bagian dari krisis lingkungan yang tak terlihat, tetapi nyata dampaknya.
Penulis adalah Mahasiswi S1 Jurnalistik UNIB

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!