
Abrasi di Desa Pondok Kelapa II
Oleh : Indri Salsabilla
Di pesisir barat Kabupaten Bengkulu Tengah, tepatnya di Desa Pondok Kelapa II, garis pantai tak lagi menjadi batas yang pasti antara daratan dan laut. Ia terus bergerak mundur, perlahan namun konsisten, menggerus ruang hidup warga. Dalam tiga dekade terakhir, abrasi yang semakin kuat dan sedimentasi di muara DAS Lemau telah mengikis daratan hingga satu kilometer. Bagi masyarakat setempat, perubahan ini terasa nyata: rumah-rumah rusak, tanah hilang, dan laut yang dulu menjadi sumber penghidupan kini sulit diandalkan.
Situasi ini semakin berat dengan adanya aktivitas penambangan galian C dan menurunnya daya dukung lingkungan. Muara sungai yang kian dangkal membuat perahu nelayan sulit keluar masuk. Akses ekonomi terganggu, dan hasil tangkapan pun menurun. Kekhawatiran akan hilangnya desa dalam beberapa dekade ke depan bukan lagi wacana jauh, melainkan bagian dari percakapan sehari-hari warga.
Di tengah tekanan tersebut, para perempuan desa mengambil peran yang tidak kecil. Mereka merasakan langsung dampaknya kesulitan air bersih, keterbatasan pangan, dan meningkatnya beban kerja saat kondisi memburuk. Pada tahun 2019, mereka membentuk Kelompok Perempuan Sungai Lemau (KPSL) sebagai ruang bersama untuk menghadapi situasi ini.
Langkah yang mereka ambil berangkat dari pengalaman hidup sendiri. Mereka mendatangi lembaga pemerintah, menyampaikan kondisi yang mereka hadapi, dan mendorong adanya perlindungan kawasan pesisir serta kebijakan yang lebih memperhatikan kebutuhan masyarakat. Proses ini tidak selalu mudah, tetapi mereka tetap konsisten menyuarakan kepentingan komunitasnya.
Selain itu, mereka mulai mengembangkan sumber penghidupan lain. Lahan eks-HGU tambak dimanfaatkan untuk menanam ubi kayu, jagung, dan sayuran. Dari situ, kebutuhan pangan keluarga bisa lebih terjaga, sekaligus membuka peluang tambahan penghasilan. Upaya ini juga memperlihatkan kemampuan mereka beradaptasi di tengah perubahan yang tidak bisa dihindari.
Di pesisir, mereka melakukan penanaman mangrove secara bertahap. Tanaman ini menjadi pelindung alami dari abrasi dan membantu menjaga keseimbangan ekosistem. Kegiatan tersebut dilakukan dengan pengetahuan lokal yang telah lama mereka miliki, dipraktikkan bersama dalam kebersamaan.
Pengalaman KPSL menunjukkan bahwa perempuan di tingkat komunitas memiliki peran penting dalam menjaga lingkungan dan keberlanjutan hidup. Mereka bergerak dari kebutuhan sehari-hari, membangun solidaritas, dan mencari cara agar ruang hidup tetap terjaga. Tantangan masih besar, namun langkah-langkah yang mereka lakukan menjadi bagian dari upaya mempertahankan masa depan desa.
Di Desa Pondok Kelapa II, garis pantai terus berubah. Di tengah perubahan itu, para perempuan tetap bertahan, menjaga apa yang masih bisa dipertahankan, dan berupaya memastikan kehidupan tetap berjalan.
Sumber:

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!