Gambar BengkuluNews

Dari Yapping sampai FYP: Bahasa Anak Muda di Era Media Sosial

Dari Yapping sampai FYP: Bahasa Anak Muda di Era Media Sosial

Fenomena ini tentu bukan hanya milik anak muda di kota-kota besar. Anak muda di Bengkulu juga menjadi bagian dari perubahan komunikasi tersebut. Istilah internet hadir berdampingan dengan bahasa dan logat lokal seperti Melayu Bengkulu, Rejang, Serawai, dan Lembak. Ilustrasi. AI Generated

Oleh: Ririn Dwi Yulianti

“Yapping banget.” “Fix masuk FYP.” “Delulu sih kamu.” Kalimat-kalimat seperti ini mungkin terdengar biasa bagi anak muda sekarang. Tanpa sadar, kita bisa mengucapkannya dalam percakapan sehari-hari, baik ketika berbicara langsung dengan teman maupun saat berkomentar di media sosial.

Beberapa tahun lalu, istilah-istilah tersebut mungkin masih terdengar asing. Sekarang, kata seperti yapping, delulu, FYP, solulu, hingga trululu justru semakin mudah ditemukan dalam percakapan anak muda, termasuk di Bengkulu. Fenomena ini menunjukkan bahwa media sosial tidak hanya mengubah cara kita memperoleh informasi. Lebih dari itu, media sosial ikut mengubah cara kita berkomunikasi.

Media sosial memiliki satu kekuatan yang sulit ditemukan dalam komunikasi sebelumnya: kecepatan. Satu kata bisa muncul di sebuah video, digunakan berulang kali oleh pengguna lain, kemudian menyebar ke berbagai platform. Tidak perlu menunggu bertahun-tahun agar sebuah istilah dikenal. Jika cukup menarik dan sering muncul di beranda, dalam waktu singkat istilah tersebut bisa menjadi bagian dari percakapan sehari-hari.

Contohnya adalah kata yapping. Istilah yang berasal dari bahasa Inggris ini digunakan untuk menggambarkan seseorang yang terlalu banyak atau terlalu panjang berbicara. Di media sosial, kata tersebut sering digunakan dengan nada bercanda, tetapi bisa pula menjadi sindiran tergantung situasinya. Kita juga tidak selalu mempelajari istilah-istilah tersebut secara sengaja. Kita cukup melihatnya berulang kali di TikTok, Instagram, Twitter, atau platform lainnya. Lama-kelamaan, kita memahami artinya dan mulai menggunakannya sendiri. Di titik inilah media sosial menjadi lebih dari sekadar tempat berbagi konten. Ia juga menjadi ruang belajar bahasa secara informal.

Penggunaan bahasa viral sering dianggap hanya sebagai kebiasaan ikut-ikutan. Padahal, ada hal yang lebih menarik di baliknya. Anak muda tidak hanya menerima istilah dari media sosial, tetapi juga mengubah cara penggunaannya sesuai dengan situasi. Sebuah kata bisa dipakai sebagai candaan, sindiran, ekspresi perasaan, bahkan menjadi cara untuk membangun kedekatan dengan teman. Artinya, bahasa di media sosial terus berkembang karena penggunanya ikut berkreasi.

Masalahnya muncul ketika kebiasaan komunikasi dari media sosial mulai terbawa ke semua situasi. Berbicara dengan teman dekat tentu berbeda dengan berbicara kepada dosen, orang tua, atau dalam situasi formal. Istilah seperti yapping atau delulu mungkin terasa lucu ketika digunakan bersama teman, tetapi belum tentu tepat ketika digunakan dalam komunikasi yang membutuhkan kesopanan dan kejelasan. Karena itu, kemampuan berkomunikasi bukan hanya soal mengetahui banyak istilah. Kita juga perlu tahu kapan sebuah bahasa tepat digunakan dan kepada siapa bahasa tersebut ditujukan.

Ada hal lain yang sering luput dari perhatian: mengapa istilah tertentu bisa begitu cepat populer? Jawabannya tidak hanya karena istilah tersebut menarik. Ada algoritma yang ikut bekerja di belakangnya. Konten yang sering ditonton, disukai, dibagikan, atau dikomentari memiliki peluang lebih besar untuk terus muncul di hadapan pengguna. Akibatnya, kita bisa melihat istilah yang sama berulang kali sampai akhirnya terasa familiar.

Karena itu, generasi muda perlu lebih kritis terhadap pengaruh algoritma. Algoritma dapat memperbesar potongan realitas tertentu sehingga sesuatu yang terlihat sangat populer di lini masa belum tentu benar-benar mewakili kondisi masyarakat secara keseluruhan. Kalau dipikir-pikir, hal serupa juga terjadi pada bahasa. Ketika satu istilah terus muncul di beranda kita, kita bisa merasa semua orang menggunakannya. Padahal, mungkin kita hanya berada dalam lingkungan digital yang terus memperlihatkan jenis konten yang sama. Dengan kata lain, bukan hanya kita yang memilih apa yang ingin dilihat. Dalam batas tertentu, apa yang terus kita lihat juga ikut membentuk cara kita berpikir, berbicara, dan berinteraksi.

Fenomena ini tentu bukan hanya milik anak muda di kota-kota besar. Anak muda di Bengkulu juga menjadi bagian dari perubahan komunikasi tersebut. Istilah internet hadir berdampingan dengan bahasa dan logat lokal seperti Melayu Bengkulu, Rejang, Serawai, dan Lembak. Artinya, perkembangan bahasa anak muda tidak harus dilihat sebagai pergantian total dari bahasa lama ke bahasa baru. Keduanya bisa muncul dalam ruang komunikasi yang sama.

Seorang anak muda bisa saja menggunakan istilah FYP atau yapping saat bermain media sosial, lalu kembali menggunakan bahasa sehari-hari dan logat daerah ketika berbicara dengan keluarga atau teman. Di sinilah kita bisa melihat bahwa identitas komunikasi anak muda semakin beragam. Mereka bisa berpindah dari satu gaya bahasa ke gaya bahasa lain tergantung tempat, lawan bicara, dan situasi. Perubahan bahasa sebenarnya bukan sesuatu yang harus ditakuti. Bahasa memang selalu berkembang mengikuti masyarakat yang menggunakannya. Yang lebih penting adalah bagaimana kita menyikapinya.

Jangan sampai kita begitu cepat menghafal istilah yang sedang viral, tetapi lupa bahwa komunikasi bukan hanya tentang terlihat up to date. Komunikasi juga membutuhkan kemampuan membaca situasi, memahami lawan bicara, dan menyampaikan pesan dengan tepat. Media sosial boleh membuat kita semakin kreatif dalam menggunakan bahasa. Namun, jangan sampai algoritma justru menentukan seluruh cara kita berkomunikasi.

Pada akhirnya, yapping, delulu, dan FYP mungkin hanya sebagian kecil dari istilah yang akan terus berganti. Besok mungkin muncul istilah baru yang kembali memenuhi kolom komentar dan percakapan anak muda. Yang tidak boleh ikut hilang adalah kemampuan kita untuk memilih: memilih kapan harus mengikuti bahasa yang sedang viral, kapan harus menggunakan bahasa yang lebih formal, dan kapan harus berbicara dengan cara yang sederhana agar pesan benar-benar dipahami. Karena di tengah dunia yang semakin cepat, kemampuan berkomunikasi dengan tepat mungkin jauh lebih penting daripada sekadar mengetahui istilah apa yang sedang viral.

Penulis adalah Mahasiswi Ilmu Komunikasi Universitas Bengkulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!