Perempuan Petani Pino Raya

“Belum Mati, Belum Akan Mundur”: Perempuan Petani Pino Raya Bertahan di Tengah Konflik Sawit

📅 Dipublikasikan: 06/26/2026• ✍️ Oleh: Alwin Feraro

“Pedas padi dimakan kerau,” ujar Ilis.

Ucapan janda empat anak kelahiran 1979 yang sedang berjongkok di atas potongan batang kayu sebesar betis orang dewasa di sebelah kanan depan seghudung itu, seketika memecah obrolan.

Sambil menatap lurus ke arah pohon kopi di lawang pepohonan sawit, jemari tangan kanannya, yang bertumpu di lutut kanan, menggenggam erat tali ambung berisi parang, pakaian kerja, serta bekal makan dan minum, sementara jemari tangan kirinya, yang bertumpu di lutut kiri, terkepal rapat.

“Lum mati, lum ke jerau,” timpal Neptasari.

Sembari menoleh ke kiri untuk memandang Ilis, perempuan dua anak kelahiran 1992 yang berjongkok di potongan batang kayu yang sama itu perlahan menganggukkan kepala. Jemari tangan kanan dan kirinya, yang bertumpu di atas masing-masing lutut, mencengkeram erat bagian atas ambung miliknya yang juga berisi parang, pakaian kerja, serta bekal.

“Belum mati, belum akan mundur,” sambung Yuhiti yang jongkok di atas tanah, sekitar tiga meter secara diagonal dari sebelah kiri Ilis, di dekat tiang atap sudut kiri depan seghudung.  Dengan menatap lurus ke arah barisan ubi kayu yang tumbuh subur di lawang pepohonan kelapa sawit, kedua tangan janda tiga anak kelahiran 1970 itu memeluk erat lutut kirinya.

“Itulah prinsip kami dalam memperjuangkan tanah kami, kebun kami,” ujar Suarni Megawati, sembari perlahan menggeser pandangan dari rerumputan ke arah ambung yang dipegang erat oleh Neptasari.

Dengan jemari tangan kiri, yang bertumpu di lutut kiri, terkepal rapat, sementara jemari tangan kanan memegang erat bagian atas ambung berisi parang, pakaian kerja, serta bekal, janda dua anak kelahiran 1980 ini berjongkok di atas tanah sekitar satu meter di depan Yuhiti.

Wipa, yang berjongkok di atas tanah tepat di sebelah kanan Yuhiti dengan kedua tangan menyilang di atas lutut, serta Ida, yang berjongkok di atas potongan batang kayu sebesar paha orang dewasa sekitar satu meter di sebelah kiri Suarni dengan posisi tangan serupa, perlahan mengangguk serempak.

Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, Wipa, janda empat anak kelahiran 1980, dan Ida, perempuan empat anak kelahiran 1990 itu, terus menatap tajam ke arah barisan ubi kayu, kopi, serta rerumputan yang tumbuh subur di lawang pepohonan kelapa sawit di hadapan mereka.

Ngambiak Ari

Kamis (18/6/2026) siang itu, Yuhiti, Ilis, Neptasari, Suarni, Wipa, dan Ida akan melakukan Ngambiak Ari di kebun Yuhiti. Saya, bersama Kepala Divisi Advokasi Walhi Bengkulu, Julius Nainggolan, berkesempatan mengikuti kegiatan sebagian perempuan Serawai petani yang mempertahankan kebun mereka dari cengkeraman perusahaan sawit itu, berkat ajakan Direktur Walhi Bengkulu, Dodi Faisal.

Kami tiba di kebun Yuhiti setelah berjalan kaki selama hampir satu setengah jam. Berangkat secara berombongan sekitar pukul 08.30 dari rumah Yuhiti, kami melintasi jalan beton desa dan jalan aspal lintas Pino Raya–Pagar Alam, Sumatera Selatan, lalu menapaki jalan setapak berlumpur yang membelah kebun-kebun sawit serta aliran Sungai Air Suban. Medan yang kami lalui cukup bervariasi: mulai dari jalan datar, tanjakan landai hingga yang terjal dengan kemiringan mencapai hampir 60 derajat, serta turunan yang curam maupun landai.

Di tengah perjalanan, kami sempat beristirahat selama 15 menit di bawah pohon kemang di puncak Pematang Cigin, yang lingkar batangnya melebihi rentangan tangan dua orang dewasa yang saling bergandengan melingkar. Dari puncak tersebut, terlihat lembah yang perlahan berubah menjadi hamparan pepohonan kelapa sawit.

“Ngambiak Ari dilakukan sebanyak dua kali dalam seminggu, yakni setiap Senin dan Kamis, dengan lokasi kebun yang bergiliran,” ujar Wipa sembari berdiri dan melangkahkan kaki mengambil dan mendekatkan ambung miliknya, juga berisi sebilah parang, pakaian kerja, serta bekal, yang berada di samping belakang kanan Suarni.

“Selain mempercepat pekerjaan di kebun dan memperkuat solidaritas, Ngambiak Ari penting dilakukan dalam menghadapi kedatangan pihak perusahaan ke kebun,” tambah Suarni, tetap dengan jemari tangan kiri terkepal rapat dan jemari tangan kanan memegang erat bagian atas ambung.

“Kalau ada masalah, kami bisa saling membantu,” sambung Yuhiti. Sambil menggerakkan tangan kanannya dari lutut, mengambil jilbab kain ungu di lutut kirinya, lalu mengibas-ngibaskannya ke arah wajahnya, Yuhiti menambahkan, “Misalnya ada pihak perusahaan datang ke kebun mau melarang bekerja atau mau menebang tanaman, kami bisa bersama-sama menghadapinya.”

“Dulu, kami sering kocar-kacir berlarian, menghindar, dan bersembunyi di semak belukar di pinggir kebun setiap kali pihak perusahaan datang,” timpal Ida, lalu menggeser ambung miliknya, yang juga berisi sebilah parang, pakaian kerja, serta bekal, dari sebelah kanan kakinya, kemudian mendekapnya dengan kedua tangan di depan kedua kakinya.

“Seiring waktu, kami akhirnya bersepakat untuk tidak berlari lagi, tetapi harus menghadapinya,” kata Ilis. Sembari melepaskan genggaman jemari kanannya dari tali ambung, lalu menyilangkan kedua tangan di atas kedua lutut di bawah jilbab kain cokelat yang dikenakannya, Ilis melanjutkan,”Kami berpikir, menghadapi pihak perusahaan tidak akan membuat kami mati.”

“Sekarang kami juga sudah berani melarang pihak perusahaan masuk ke kebun. Berhenti! Berhenti! Ini tanah kami, ini kebun kami!” seru Neptasari, menirukan teriakan mereka saat memergoki pihak perusahaan datang.

“Kami pernah beramai-ramai, bersama ibu-ibu lainnya dan petani laki-laki, menghadang pihak perusahaan yang membawa buldozer ke kebun,” tambah Neptasari sambil menggeser jemari tangan kanan dan kirinya yang memegang bagian atas ambung hingga saling berhimpitan.

Tanam Beragam Tanaman di Lawang dan Matau Limau

Tak terasa, jam sudah menunjukkan pukul 10.40. Yuhiti, Ilis, Neptasari, Suarni, Wipa, dan Ida baru tersadar bahwa mereka harus melakukan Ngambiak Ari untuk menebas rerumputan. Sembari mengenakan pakaian kerja yang diambil dari ambung masing-masing, mereka sempat membahas gagasan untuk menanam sayuran, rempah, dan buah-buahan di lawang dan matau limau pepohonan sawit.

“Apa yang kita bahas tadi malam, menanam terong, tomat, cabai rawit, jahe, kencur, kunyit, serai, lengkuas, kacang, ubi, atau lainnya di lawang dan matau limau, perlu kita coba,” ujar Ilis sambil menyelipkan sarung parang serta parangnya di sisi kiri pinggang  pada gulungan kain hijau yang melingkar di pinggangnya.

“Selain sayuran dan rempah, kita juga perlu menanam pisang, pepaya, alpukat, nangka, durian, jengkol, kopi, atau pohon lainnya di lawang dan matau limau,” timpal Wipa setelah selesai mengenakan kemeja lengan panjang bermotif garis-garis cokelat tua, cokelat muda, dan krem untuk melapisi kaus putih lengan pendek yang dipakainya sejak dari rumahnya.

“Jadi, kebun kita tidak hanya ditanami satu jenis tanaman saja,” tambah Wipa sambil mengambil parang dari ambungnya. “Sepakat…, sangat sepakat…, setuju…, sangat setuju,” timpal Ida, Suarni, Neptasari, dan Yuhiti bersahutan. Sembari mengangguk-angguk, Ida dan Suarni mengambil parang dari ambung, sementara Neptasari dan Yuhiti mengambil serta menyelipkan sarung dan parang mereka ke sisi kiri gulungan kain yang melingkar di pinggang.

Setelah siap, mereka pun bergerak dari seghudung menuju lawang pepohonan sawit, lalu mulai bekerja dari bagian bawah, merangkak perlahan ke arah kebun yang menanjak. Sambil terus mengayunkan parang dari kanan ke kiri, mereka berbagi cerita. Sesekali, tawa mereka pecah, menyela suara tebasan ke rerumputan di tengah teriknya matahari. Aroma rumput yang baru ditebas dan terinjak, bercampur dengan bau tanah yang lembap, perlahan menguap serta menyusup ke indra penciuman.

“Pohon kopi jangan ditebang. Jangan sampai seperti orang perusahaan yang pernah menebang semua pohon kopi saya,” kata Yuhiti sembari menebas rerumputan di dekat salah satu pohon kopi yang di sela-sela daunnya mulai bermunculan putik bunga. “Kalau saja tidak ditebang, tahun ini mestinya sudah bisa panen kopi. Dedek dan Julius mungkin bisa menyicipnya,” sambung Yuhiti. Ia berhenti sejenak, menegakkan tubuh, memindahkan parang ke tangan kiri, lalu tangan kanannya menyentuh dedaunan pohon kopi seolah membelainya, sembari tersenyum kecil.

Kebun: Identitas dan Ruang Hidup

“Tanpa tanah atau kebun, kami bukan petani, bukan perempuan petani,” kata Pipa Lia Putriana yang duduk berselonjor di atas tumpukan karpet plastik biru dan oranye saat berdiskusi bersama Yuhiti, Ilis, Neptasari, Suarni, Wipa, Dimi Sismiati, Yupi, dan Hartati pada Rabu (17/6/2026) malam.

Dalam diskusi di ruang tengah rumah Yuhiti itu, saya dan Julius juga diberi kesempatan untuk terlibat dan duduk membentuk persegi panjang bersama mereka.

“Kami memang bisa bekerja, misalnya mencari upahan di kebun orang, tetapi itu bukan sebagai petani, melainkan buruh tani,” tambah Pipa, yang duduk di sebelah kanan Yuhiti di baris kanan, perlahan mengangkat tangan kanannya, lalu memegang kepalanya yang mengenakan jilbab kain cokelat tua.

Mendengarnya, tanpa aba-aba, Yuhiti, Ilis, Neptasari, Suarni, Wipa, Dimi Sismiati, Yupi, dan Hartati menganggukan kepala secara serempak. Suarni, yang duduk bersila di atas karpet plastik berwarna-warni bercorak beragam di baris kiri sembari menyandarkan badannya pada kursi busa kayu di belakangnya, langsung menambahkan, “Tanah atau kebun adalah sumber kehidupan dan penghidupan kami, perempuan petani.”

“Kebun itu seperti anak. Kami menyayangi kebun seperti kami menyayangi anak. Makanya, hampir setiap hari kami mendatangi kebun untuk merawatnya,” ujar Wipa yang duduk berselonjor di atas karpet plastik biru di sebelah kiri Suarni dan di depan kaki Ilis yang duduk di kursi. “Tidak ke kebun beberapa hari saja, rasanya ada yang hilang, ada rasa rindu,” sambung Wipa.

“Di kebun sendiri, kami bebas mau menanam apa saja,” kata Ilis sembari menggoyang-goyangkan kedua kakinya ke kanan dan ke kiri. “Kami bisa menanam bermacam-macam tanaman, bukan hanya untuk dijual, tetapi juga untuk memenuhi kebutuhan sendiri, dan dibagikan kepada tetangga kebun maupun di desa,” sambung Ilis.

Neptasari, yang duduk di atas karpet plastik biru di sebelah kiri Wipa, sembari menyelonjorkan kaki kanan dan menyilangkan kaki kirinya, juga menambahkan, “Dengan menanam bermacam-macam tanaman, terutama sayuran, rempah, dan buah-buahan, bukan hanya bisa menambah pendapatan, tetapi juga bisa mengurangi pengeluaran.”

“Makanya, kita perlu membentuk kelompok. Dengan berkelompok, kita bisa merancang rencana mau menanam tanaman apa saja di kebun kita, selain sawit,” sambung Pipa, yang direspon dengan anggukan serempak Yuhiti, Ilis, Neptasari, Suarni, Wipa, Dimi, Yupi, dan Hartati.

Yuhiti, yang duduk berselonjor di atas karpet oranye sembari menyilangkan kedua tangannya di depan dada, menambahkan, “Dengan adanya rancangan tersebut, maka ngambiak ari tidak lagi hanya untuk menebas. Kita juga bisa ngambiak ari untuk menanam, merawat tanaman, atau lainnya.” Sekali lagi, tanpa aba-aba, Ilis, Neptasari, Suarni, Wipa, Dimi, Yupi, Hartati, serta Pipa mengangguk serempak.

Perempuan Petani Pino Raya

Perempuan Petani Pino Raya

Semoga Allah Membuka Nurani Hakim

Kedua mata Pipa seketika berlinang air mata, dan wajahnya perlahan memerah. Tangan kanannya, yang menggenggam sebilah parang, memukul-mukul pelan tanah serta tumpukan kayu yang mulai terbakar di perapian di bawah pondok kebunnya. Sementara itu, tangan kirinya berulang kali mengusap kedua mata dengan lengan baju kaus panjang merah yang dikenakannya.

Ia menghidupkan perapian untuk mengusir nyamuk di sekitar pondok kebunnya, tak lama setelah ia bersama suaminya yang merupakan Ketua Forum Masyarakat Pino Raya (FMPR), Edi Hermanto, Arman, Julius, dan saya tiba di kebun pada Rabu (17/6/2026) siang.

Setelah beberapa saat tak kuasa berkata-kata, Pipa akhirnya membuka mulut. “Bingung dan sedih,” ujar perempuan tiga anak kelahiran 1987 ini, yang tak lagi memukul-mukul pelan tanah dan tumpukan kayu, tetapi mengesek-gesekan ujung parang ke tanah bekas pukulannya. “Suami saya kena tembak, tapi malah jadi tersangka,” sambung Pipa.

Pipa, yang duduk di atas bangku kayu kecil dengan kedua kaki bersilang, tak langsung melanjutkan pembicaraan. Sembari berupaya menahan isak tangis, matanya yang berlinang air menatap tajam ke arah tanah yang telah membentuk garis lurus berlubang akibat gesekan parang. Beberapa saat kemudian, ia pun berkata, “Semoga suami saya bebas. Mohon didoakan suami saya bebas.”

“Semoga Allah mau membuka nurani para hakim,” tambah Pipa pelan berharap, sembari terus menahan isak tangis.

Beberapa saat setelah air matanya berhenti mengalir, Pipa mengungkapkan bahwa dirinya tak menyesali keputusan suaminya yang menerima kepercayaan menjadi Ketua FMPR, meski akhirnya sang suami menjadi korban penembakan dan justru ditetapkan sebagai tersangka. “Dalam perjuangan, pasti ada rintangan,” kata Pipa sembari berdiri dari duduknya dengan tetap memegang parang.

Sambil melangkah menuju ke tengah kebunnya untuk memanen pisang sabo dan pisang panjang, Pipa melanjutkan, “Apalagi perjuangan ini untuk banyak orang, terutama bagi kami yang memiliki suratan tangan menjadi petani.”

Terpisah, Suarni, saat berada di seghudung kebun Yuhiti pada Kamis (18/6/2026) siang, juga tak kuasa menahan air matanya mengalir perlahan ketika mengingat peristiwa penembakan dan penetapan dirinya sebagai tersangka. “Kejam. Saya yang nyaris menjadi korban penembakan malah ditetapkan sebagai tersangka,” kata Suarni.

“Saya ini adalah seorang janda yang harus menghidupkan dua orang anak,” sambung Suarni yang berulang kali menggerakkan tangan kanannya untuk mengelap air mata yang mengalir di pipi dengan ujung jilbab biru muda yang dikenakannya.

Suarni juga tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika nantinya hakim tidak membebaskannya. “Dengan wajib lapor setiap Senin dan Kamis saja, saya sudah terhambat untuk berkebun. Bagaimana jika saya tidak bebas?” kata Suarni sembari mengubah duduknya dari jongkok menjadi bersila di atas tanah serta menggeser posisi duduknya sedikit ke kanan.

Sementara itu, Yuhiti, saat berada di seghudung kebunnya pada Kamis (18/6/2026) siang, mengaku masih menyimpan luka mendalam atas penetapan status tersangka terhadap suaminya, Suharnudin, yang notabene adalah korban penembakan. Bukan hanya melukai harga diri, penetapan status tersangka ikut memperburuk kondisi kesehatan Suharnudin pascapenembakan.

Hingga Suharnudin mengembuskan napas terakhir, status tersangka masih terus melekat pada namanya. “Semoga Allah memberikan balasan yang setimpal,” kata Yuhiti dengan suara parau yang tak kuasa menahan isak tangis.

Tanpa aba-aba, secara serempak Ilis, Neptasari, Suarni, Wipa, dan Ida merespon dengan ucapan, “Amin Ya Allah

Bagikan Artikel:
Live Bengkulu Oleh Alwin Feraro • 01/28/2026

Cerita Perempuan Petani Kopi Pulang ke Cara Leluhur

“Ada penyesalan,” kata Mardalena. Ucapannya seketika membuat perempuan petani kopi lainnya membisu. Seolah menunggu pekikan nyaring sesiar yang bersembunyi di pepohonan di kebun kopi mereda, ia pun ikut larut dalam kesunyian senja itu. Matanya menatap buku tulis bermotif batik dengan sulur dan bunga berwarna merah, cokelat, hijau dan kuning yang dipegangnya di depan kakinya yang […]

Perempuan Petani Kopi Desa Kopi Tangguh Iklim (Koppi Sakti) Bengkulu di Desa Batu Ampar, Kabupaten Kepahiang.
Live Bengkulu Oleh Alwin Feraro • 01/01/2026

Segenggam Padi Riun, Sejarah yang Nyaris Tenggelam di Sungai Lisai

Hasan Mukti menarik napas panjang, lalu melepaskannya perlahan. Sembari duduk bersila di atas karpet plastik merah, pandangannya lurus menatap pintu kayu yang terbuka lebar. Dari seberang rumah, terdengar deru pertemuan sungai Lisai dan Seblat yang mengalir tanpa henti. Beban yang menyesak di dadanya selama tiga tahun terakhir mulai meluruh. Bersama anggota Komunitas Adat Sungai Lisai, […]

Anggota Komunitas Adat Sungai Lisai
Live Bengkulu Oleh Alwin Feraro • 12/17/2025

Ketika Perempuan Menjaga Hidup di Kebun Kopi

Siti Hermi sama sekali tak pernah menduga. Keputusan dia dan suaminya, Depi, mengubah cara memperlakukan kebun kopi sekitar tahun 2007 berdampak fatal. Satu per satu sumber penghidupan di kebun kopi yang menjadi penopang hidup keluarganya perlahan hancur. “Khususnya cabai rawit, yang menjadi penopang utama keluarga saya untuk menjalani kehidupan sehari-hari, terutama sebelum musim panen kopi,” […]

Siti Hermi, Perempuan Petani Kopi
Live Bengkulu Oleh Alwin Feraro • 12/02/2025

Gerakan Membangun Kebun Kopi Tangguh Iklim Perlu Dimasifkan untuk Kurangi Risiko Bencana Hidrometeorologi

Gerakan perempuan petani kopi membangun Kebun Kopi Tangguh Iklim tak lagi sekadar dianggap relevan, melainkan mendesak untuk dimasifkan. Di tengah cuaca ekstrem yang kian sulit diprediksi akibat perubahan iklim, membangun Kebun Kopi Tangguh Iklim juga berarti mengurangi risiko bencana hidrometeorologi. “Justru harus dimasifkan,” kata Ketua Forum Daerah Aliran Sungai (DAS) Provinsi Bengkulu, M. Fajrin Hidayat, […]

Koppi Sakti Bengkulu menghidupkan kembali berbagai kearifan/praktik lokal dalam pengelolaan kebun kopi yang selaras dengan aksi mitigasi dan adaptasi perubahan iklim.

Non Governmental Organization

Catatan AMAN Bengkulu: Konflik Wilayah Adat Kian Meluas, Negara Dinilai Abai

BENGKULU – Sepanjang tahun 2025, persoalan konflik lahan antara komunitas masyarakat adat dan berbagai sektor usaha masih menjadi luka panjang di Provinsi Bengkulu. Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) mencatat ratusan ribu wilayah adat berada dalam tekanan akibat tumpang tindih klaim lahan dengan negara maupun korporasi. “Konflik wilayah adat ini menyebar di seluruh Provinsi Bengkulu, dan […]

12/29/2025
Menurut AMAN, konflik yang kerap bersentuhan dengan klaim kawasan hutan negara berakar dari praktik tata kelola yang tidak transparan sejak awal.

Tekanan Global Menguat terhadap Lambannya Proses Legislasi RUU Masyarakat Adat di Indonesia

Desakan pembahasan dan pengesahan Rancangan Undang-Undang (RUU) Masyarakat Adat terus menguat. Seruan resmi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Jenewa pada 6 November 2025 mendesak Pemerintah Indonesia segera memberikan perlindungan penuh terhadap masyarakat adat yang menghadapi kekerasan, kriminalisasi, dan ketidakpastian hukum atas wilayah adat dan hak kolektif mereka. Lebih dari 15 tahun RUU Masyarakat Adat masuk dalam […]

11/19/2025

Komunitas Adat Semende Ulu Nasal Dirikan Sekolah Adat Tunggu Tubang

BENGKULU – Komunitas adat Muara Dua, Semende Ulu Nasal di Kabupaten Kaur meresmikan Sekolah Adat pertama mereka pada Sabtu, 18 Oktober 2025. Sekolah hasil gotong royong dengan konstruksi kayu beratap kayu Sirap berukuran 11×6 meter ini, menyandang nama Tunggu Tubang sebagai identitas mereka. “Tunggu Tubang, itu konsep leluhur kami yang memandatkan harta pusaka keluarga untuk […]

10/18/2025
Komunitas adat Muara Dua, Semende Ulu Nasal di Kabupaten Kaur

Masyarakat Adat Enggano Minta Pemerintah Larang Budidaya Sawit

Seluruh komunitas adat Pulau Enggano meminta Pemerintah di Provinsi Bengkulu untuk memusnahkan seluruh tanaman sawit yang kini ada di Enggano. Menurut masyarakat, keberadaan sawit akan mengancam kelestarian pulau dan memicu perusakan hutan milik masyarakat adat. Milson Kaitora, Paabuki atau pimpinan Kepala Suku di Pulau Enggano mengatakan, saat ini di beberapa desa di Enggano sudah banyak […]

09/01/2025

Polres Kaur Bubarkan Massa Aksi yang Blokir Lahan Perkebunan Sawit

BENGKULU – Polres Kaur berhasil membubarkan massa aksi yang melakukan pemblokiran dan pendudukan lahan perkebunan sawit yang dikelola oleh PT. Dinamika Selaras Jaya (DSJ) di Divisi I dan Divisi IV. Massa aksi tersebut merupakan gabungan dari beberapa organisasi masyarakat, yaitu Forum Peduli Wilayah Kedurang Bengkulu Selatan (FPWKBS), Aliansi Selamatkan Bengkulu Selatan (ASBS), dan Gerakan Rakyat […]

07/16/2025

Tuntutan Warga Enggano Dijawab Presiden, AMAN: Terima Kasih

BENGKULU – Tuntutan warga Enggano atas solusi krisis di pulau itu akhirnya terjawab. Presiden Prabowo Subianto resmi menerbitkan instruksi presiden terkait upaya mempercepat pembangunan pulau terluar Indonesia di Provinsi Bengkulu, Pulau Enggano. “Terima kasih untuk ibu Rieke Diah Pitaloka, Komisi VI DPR yang sudah hadir ke Bengkulu dan mendorong komunikasinya ke Wakil Ketua DPR Sufmi […]

06/24/2025
Tuntutan Warga Enggano ini juga disampaikan lewat anggota DPR Rike Diah Pitaloka saat meninjau Pulau Baai

DPRD Sebut Penanganan Abrasi Bengkulu Harus Bertahap, Berbasis Prioritas Korban

Anggot DPRD Provinsi Bengkulu, Zainal mengatakan bahwa penanganan abrasi pesisir tidak dapat dilakukan secara sekaligus, melainkan harus bertahap sesuai kemampuan anggaran dan tingkat kerentanan wilayah. Hal ini disampaikan Zainal dalam dialog multipihak perlindungan masyarakat dan wilayah pesisir Bengkulu, yang digelar Genesis, Selasa 23 Juni 2026. Zainal menyebut, pemerintah selama ini tidak melakukan pembiaran pada korban […]

06/24/2026
Sumber : Dokumentasi Genesis Pemukiman Desa Air Padang Terdampak Abrasi

Genesis Bengkulu: 1.885 Bangunan di Bengkulu Terancam Abrasi

Yayasan Genesis Bengkulu mengungkap skala kehilangan daratan, ancaman terhadap pemukiman masyarakat, degradasi ekosistem pesisir, serta kewajiban hukum pemerintah dalam penanganan abrasi di Provinsi Bengkulu. Data ini disampaikan dalam Dokumen Kajian Darurat Abrasi Pesisir Provinsi Bengkulu. Berdasarkan data tersebut abrasi telah menghilangkan 712,81 hektare daratan pesisir yang tersebar di 109 desa pada tujuh kabupaten dan kota […]

06/24/2026
Sumber : Dokumentasi Genesis Pemukiman Kelurahan Belakang Gedung dipigir jurang abrasi

Imbas Kematian Gajah yang Berulang, Izin PT BAT dan PT API Sepatutnya Dievaluasi hingga Dicabut

Genesis mencermati pernyataan Menteri Kehutanan Indonesia, Raja Juli, terkait evaluasi Persetujuan Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH) PT Bentara Agra Timber (PT BAT) dan PT Anugerah Pratama Inspirasi (PT API) pasca berulangnya kematian Gajah Sumatera serta terus berlangsungnya tekanan terhadap hutan  Bentang Alam Seblat di Provinsi Bengkulu. Menurut Genesis, kondisi yang terjadi di dalam kawasan PBPH kedua […]

05/08/2026
Dua ekor gajah yang mati di kawasan Hutan Produksi di Kabupaten Mukomuko

Mati di Dalam Kawasan ‘Lestari’: Tragedi Gajah Sumatera di Hutan Produksi

Di sebuah lanskap yang seharusnya menjadi rumah terakhir bagi gajah Sumatera di Bengkulu, seekor induk dan anaknya ditemukan mati. Bukan di luar kawasan hutan, bukan di wilayah konflik terbuka dengan manusia, tetapi di dalam kawasan hutan produksi yang secara hukum seharusnya dikelola untuk keberlanjutan. Peristiwa ini terjadi di Hutan Produksi Air Teramang, dalam wilayah izin […]

05/01/2026
Dua ekor gajah yang mati di kawasan Hutan Produksi di Kabupaten Mukomuko

FPB Datangi DPRD Seluma, Soroti Mandeknya Penanganan Konflik Agraria dengan PT SIL

BENGKULU – Forum Petani Bersatu (FPB) Seluma mendatangi Kantor Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Seluma pada Senin, 9 Februari 2026. FPB datang menuntut DPRD Seluma untuk memfasilitasi penyelesaian konflik agraria yang telah berlangsung lebih dari satu dekade antara FPB dan PT Sandabi Indah Lestari (PT SIL). Kedatangan FPB disambut dalam sebuah audiensi yang dihadiri […]

02/09/2026

Komitmen vs Kenyataan: Genesis Bengkulu Beberkan Krisis Hutan Seblat

BENGKULU – Genesis Bengkulu menanggapi kunjungan Wakil Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (Wamen LHK) ke Bentang Alam Seblat yang menyatakan “pemerintah berkomitmen menyelamatkan habitat Gajah Sumatera” dengan merilis data lapangan yang menunjukkan fakta sebaliknya. Hutan alam di kantong populasi Seblat terus hilang setiap tahun, bahkan di dalam kawasan konservasi. “Komitmen tidak bisa diukur dari kunjungan […]

11/05/2025
Genesis Bengkulu

Kanopi Hijau: Pemerintah Biarkan Pencemaran Abu Batubara di 13 Lokasi Bengkulu

BENGKULU –  Kanopi Hijau Indonesia kembali mengungkap praktik pembuangan limbah abu batubara (Fly Ash Bottom Ash/FABA) oleh PT TLB secara sembarangan di luar area PLTU Teluk Sepang. Temuan ini menambah daftar lokasi pembuangan FABA di Bengkulu menjadi 13 titik. Lokasi tambahan yang ditemukan berada di Desa Padang Ulak Tanjung, Kecamatan Talang Empat, Kabupaten Bengkulu Tengah. […]

06/02/2025

Koalisi STuEB Laporkan 15 Kejahatan Lingkungan 8 PLTU Batu Bara di Sumatera

JAKARTA – Sebanyak 15 laporan dugaan kejahatan lingkungan dari delapan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) batubara di Pulau Sumatera resmi dilayangkan oleh koalisi masyarakat sipil kepada Direktorat Jenderal Penegakan Hukum Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Republik Indonesia. Laporan-laporan tersebut merupakan hasil pemantauan oleh Koalisi Sumatera Terang untuk Energi Bersih (STuEB), yang terdiri dari 15 […]

05/06/2025

Kanopi Hijau Indonesia dan AMAN Bengkulu Luncurkan Sekolah Energi Bersih Jilid 3

BENGKULU – Kanopi Hijau Indonesia (KHI) berkolaborasi dengan Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Bengkulu resmi meluncurkan program Sekolah Energi Bersih (SEB) Jilid 3. SEB menjadi ruang edukasi dan aksi nyata menuju transisi energi terbarukan, adil, dan berkelanjutan, dengan melibatkan generasi muda dan komunitas sebagai aktor utama. Ketua Kanopi Hijau Indonesia, Ali Akbar, mengatakan program SEB […]

04/26/2025

Sumatera Menolak Punah: Seruan Hari Bumi untuk Hentikan Energi Kotor

Hari Bumi bukan sekadar peringatan simbolik, ia adalah panggilan untuk bertindak. Di tengah krisis iklim yang semakin nyata, Sumatera berdiri di persimpangan: transisi energi atau perlahan punah di bawah bayang-bayang ketamakan. Pulau Sumatera, yang dulu dikenal sebagai rumah bagi hutan tropis lebat dan keanekaragaman hayati yang luar biasa, kini terancam oleh ekspansi energi kotor. Salah […]

04/24/2025
Seruan Hari Bumi

Warga Padang Kuas Kembali Datangi ESDM, Akui Hidup dalam Ketakutan

BENGKULU – Warga Desa Padang Kuas kembali mendatangi Dinas ESDM Provinsi Bengkulu untuk meminta pertanggungjawaban terhadap dampak Tower SUTT. Salah satu warga, Edi Purwono sebut bukan hanya ganti rugi, tapi minta hidup aman dan tidak ada lagi warga yang terdampak. “Warga mau minta hidup aman, tidak ada lagi fenomena yang menakutkan,” kata Edi, Jumat (11/04/2025). […]

04/11/2025

Gunungan Limbah PLTU Batubara Teluk Sepang Dibuang ke Area Pemukiman Warga

BENGKULU – Kanopi Hijau Indonesia (KHI) menyebut, pembuangan limbah fly ash dan bottom ash (FABA) dari PLTU batubara Teluk Sepang masih serampangan. Pembuangan itu dilakukan dengan cara dibagi-bagikan kepada warga menjadi tanah timbunan.

Berdasarkan monitoring yang dilakukan KHI, pada akhir Februari 2023 ditemukan tiga lokasi baru di sekitar permukiman warga, atau berada di luar area proyek […]

03/21/2025
Gunungan Limbah PLTU Batubara Teluk Sepang

Cerita Perempuan Petani Kopi Pulang ke Cara Leluhur

“Ada penyesalan,” kata Mardalena. Ucapannya seketika membuat perempuan petani kopi lainnya membisu. Seolah menunggu pekikan nyaring sesiar yang bersembunyi di pepohonan di kebun kopi mereda, ia pun ikut larut dalam kesunyian senja itu. Matanya menatap buku tulis bermotif batik dengan sulur dan bunga berwarna merah, cokelat, hijau dan kuning yang dipegangnya di depan kakinya yang […]

01/28/2026
Perempuan Petani Kopi Desa Kopi Tangguh Iklim (Koppi Sakti) Bengkulu di Desa Batu Ampar, Kabupaten Kepahiang.

Segenggam Padi Riun, Sejarah yang Nyaris Tenggelam di Sungai Lisai

Hasan Mukti menarik napas panjang, lalu melepaskannya perlahan. Sembari duduk bersila di atas karpet plastik merah, pandangannya lurus menatap pintu kayu yang terbuka lebar. Dari seberang rumah, terdengar deru pertemuan sungai Lisai dan Seblat yang mengalir tanpa henti. Beban yang menyesak di dadanya selama tiga tahun terakhir mulai meluruh. Bersama anggota Komunitas Adat Sungai Lisai, […]

01/01/2026
Anggota Komunitas Adat Sungai Lisai

Ketika Perempuan Menjaga Hidup di Kebun Kopi

Siti Hermi sama sekali tak pernah menduga. Keputusan dia dan suaminya, Depi, mengubah cara memperlakukan kebun kopi sekitar tahun 2007 berdampak fatal. Satu per satu sumber penghidupan di kebun kopi yang menjadi penopang hidup keluarganya perlahan hancur. “Khususnya cabai rawit, yang menjadi penopang utama keluarga saya untuk menjalani kehidupan sehari-hari, terutama sebelum musim panen kopi,” […]

12/17/2025
Siti Hermi, Perempuan Petani Kopi

Gerakan Membangun Kebun Kopi Tangguh Iklim Perlu Dimasifkan untuk Kurangi Risiko Bencana Hidrometeorologi

Gerakan perempuan petani kopi membangun Kebun Kopi Tangguh Iklim tak lagi sekadar dianggap relevan, melainkan mendesak untuk dimasifkan. Di tengah cuaca ekstrem yang kian sulit diprediksi akibat perubahan iklim, membangun Kebun Kopi Tangguh Iklim juga berarti mengurangi risiko bencana hidrometeorologi. “Justru harus dimasifkan,” kata Ketua Forum Daerah Aliran Sungai (DAS) Provinsi Bengkulu, M. Fajrin Hidayat, […]

12/02/2025
Koppi Sakti Bengkulu menghidupkan kembali berbagai kearifan/praktik lokal dalam pengelolaan kebun kopi yang selaras dengan aksi mitigasi dan adaptasi perubahan iklim.

Pemda Dukung Perluasan Kebun Kopi Tangguh Iklim di Rejang Lebong

“Tentunya kami, Pemerintah Daerah Rejang Lebong, berterima kasih. Ibu-ibu telah mencetuskan solusi terhadap permasalahan keseharian yang dihadapi petani kopi saat ini,” kata Kepala Dinas Pertanian dan Perikanan Kabupaten Rejang Lebong Suradi, SP, M. Si saat berdiskusi dengan perwakilan Koalisi Perempuan Petani Kopi Desa Kopi Tangguh Iklim (Koppi Sakti) Bengkulu pada Selasa (11/11/25). Diskusi di ruang […]

11/21/2025
1. Perwakilan Koppi Sakti Bengkulu bersama Kepala Dinas Pertanian dan Perikanan Kabupaten Rejang Lebong, Suradi, SP, M. Si dan Kepala Bidang Perkebunan Dinas Pertanian dan Perikanan Kabupaten Rejang Lebong, Lince Malini, SP memegang poster Kebun Kopi Tangguh Iklim.

Lima Petani Pino Raya Ditembak Aparat Keamanan Perusahaan PT Agro Bengkulu Selatan

Ketegangan antara petani Pino Raya dan pihak PT Agro Bengkulu Selatan (PT ABS) berujung pada tindakan kekerasan bersenjata, menyebabkan empat orang petani tertembak dan satu orang lainnya mengalami luka serius pada Senin siang (24/11/2025). Peristiwa ini terekam dalam video warga dan memicu protes luas dari masyarakat. Insiden bermula sekitar pukul 10.00 WIB, ketika petani kembali […]

11/24/2025
Ilustrasi. AI Generated

Walhi Bengkulu Tolak Tambang Emas PT ESDM di Bukit Sanggul

BENGKULU – Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Bengkulu menolak keberadaan pertambangan emas dari PT Energi Swadaya Dinamika Muda (ESDM) di kawasan hutan Bukit Sanggul, Kabupaten Seluma. Direktur WALHI Bengkulu, Dodi Faisal sebut tambang tersebut berpotensi mempercepat perubahan iklim dan bencana ekologis di Provinsi Bengkulu. “Aktivitas pertambangan emas yang berlokasi di kawasan hutan Bukit Sanggul Kabupaten […]

05/03/2025
Walhi Bengkulu Tolak Tambang Emas PT ESDM di Bukit Sanggul

Walhi: Ekosistem Bengkulu Sekarang Tidak Baik

BENGKULU – Banyaknya persoalan ekosistem yang terancam di Provinsi Bengkulu, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Bengkulu mengajak kaum muda untuk sama-sama menyikapi dan merespon untuk kebaikan dan kesejahteraan masyarakat Bengkulu. Direktur Eksekutif WALHI Bengkulu, Dodi Faisal sebut semua harus bertindak. “Sebuah inisiatif dari walhi Bengkulu serta  dibantu oleh kawan-kawan NGO dimana ada masalah ekosistim yang […]

05/01/2025

Walhi Komentari Rencana Lelang Blok Potensi Batu Bara dari Kadis ESDM

BENGKULU – Direktur Wahana Lingkungan Hidup Indonesia  (WALHI) Daerah Bengkulu, Abdullah Ibrahim Rintonga mengomentari pernyataan Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Bengkulu tentang tiga blok potensi batu bara yang bakal dilelang. Menurutnya, pelelangan tersebut tidak boleh dilakukan secara sepihak lantaran ada hak-hak masyarakat di lokasi tersebut. “Ada hak-hak masyarakat lokal di sekitar […]

01/16/2025

Walhi Menduga Pembebasan Kawasan Hutan di Bengkulu untuk Kepentingan Politik

BENGKULU – Manajer Kampanye Hutan dan Perkebunan Eksekutif Nasional Walhi , Uli Arta Siagian mengungkapkan, usaha pelepasan kawasan hutan oleh Pemerintah Provinsi Bengkulu dalam revisi Perda No 2 Tahun 2012 bersifat transaksional. Uli menuding upaya ini merupakan bentuk transaksional antara elit politik untuk menunjang aktivitas pemilu dan pihak korporasi agar tidak melanggar saat mengesktrasi kawasan […]

02/02/2023

Walhi Sebut PT FBA Berusaha Hilangkan Bukti Aktivitas Tambang Pasir Besi

BENGKULU – Kadep Advokasi dan Program Walhi Bengkulu, Dodi Faisal menyebut saat ini PT Faminglevto Bakti Abadi (FBA) yang mengelola tambang pasir besi di Seluma berupaya menghilangkan bukti adanya aktivitas pertambangan. “Berdasarkan pemantauan di lapangan, tambang pasir besi yang diduga ilegal ini telah menimbun lubang tambang menggunakan alat berat dan juga akan mengangkut pasir keluar […]

07/06/2022

Artikel Terbaru Non-Governmental Organization