
Ilustrasi. AI Generated
Oleh : Siti Nisaussangadah, M.I.Kom.
Hampir tidak ada hari tanpa scroll. Begitu membuka media sosial, jari bergerak cepat menyusuri beragam konten yang memenuhi layar. Video hiburan, tren fesyen, resep masakan, hingga drama Korea silih berganti muncul di For You Page (FYP). Tanpa disadari, aktivitas ini bisa menghabiskan waktu berjam-jam. Tidak ada yang salah dengan menikmati hiburan. Namun, di balik kebiasaan tersebut, ada satu pertanyaan yang patut direnungkan: sudahkah mahasiswa, khususnya mahasiswa Ilmu Politik, menyisihkan waktu untuk mengikuti perkembangan isu-isu politik yang sedang menjadi perhatian publik?
Politik Tidak Pernah Jauh dari Kehidupan
Bagi mahasiswa Ilmu Politik, politik bukan sekadar materi yang dipelajari menjelang ujian atau dibahas saat kuliah berlangsung. Politik hadir dalam kehidupan sehari-hari. Kenaikan harga kebutuhan pokok, kebijakan pendidikan, polemik di parlemen, hingga isu korupsi merupakan bagian dari dinamika politik yang berdampak langsung pada masyarakat. Ironisnya, banyak mahasiswa justru lebih cepat mengetahui kabar yang sedang viral dibandingkan perkembangan kebijakan publik yang memengaruhi kehidupan mereka sendiri.
Padahal, memperoleh informasi politik kini jauh lebih mudah. Berita tidak lagi hanya hadir melalui televisi atau surat kabar. YouTube, Instagram, TikTok, podcast, hingga media daring menyajikan informasi dalam berbagai format yang lebih ringkas, menarik, dan mudah diakses. Tantangannya bukan lagi soal sulitnya memperoleh informasi, melainkan kemauan untuk memilih serta mengikuti informasi yang berkualitas.
Ketika Hiburan Lebih Mendominasi daripada Informasi
Pengalaman mengajar memberikan gambaran yang cukup menarik. Dalam satu kelas yang terdiri atas sekitar 30 mahasiswa, hanya beberapa orang yang secara rutin mengikuti berita politik melalui media massa atau akun media yang kredibel. Selebihnya lebih akrab dengan berbagai konten yang sedang viral di media sosial. Ketika diskusi di kelas dimulai, hanya sedikit mahasiswa yang mampu menghubungkan teori dengan peristiwa politik yang sedang terjadi. Padahal, kemampuan membaca realitas sosial dan politik merupakan bekal penting bagi mahasiswa Ilmu Politik.
Temuan tersebut sejalan dengan penelitian yang dilakukan pada mahasiswa Program Studi Ilmu Politik Universitas Bangka Belitung. Penelitian itu menunjukkan bahwa mahasiswa lebih tertarik mengikuti isu politik ketika informasi disajikan dengan cara yang komunikatif, ringan, dan dekat dengan keseharian mereka. Tayangan Meet Nite Live yang merupakan program dari TV Nasional yakni Metro TV misalnya, mampu meningkatkan perhatian mahasiswa terhadap isu korupsi, geopolitik, dan kebijakan publik karena dikemas secara santai tanpa mengurangi substansi. Mahasiswa yang lebih sering mengakses konten politik melalui media digital juga menunjukkan pemahaman yang lebih baik serta kemampuan berpikir yang lebih kritis terhadap berbagai persoalan publik.
Temuan ini memperlihatkan bahwa persoalannya bukan karena politik selalu rumit atau membosankan. Yang lebih menentukan adalah bagaimana informasi tersebut disampaikan dan sejauh mana mahasiswa memiliki kemauan untuk mengaksesnya. Ketika isu politik dikemas dengan bahasa yang sederhana, dekat dengan kehidupan sehari-hari, dan mudah dipahami, minat mahasiswa untuk mengikuti perkembangan politik pun meningkat
Mengikuti Isu Politik adalah Investasi Pengetahuan
Kebiasaan mengikuti informasi politik memberikan manfaat yang nyata dalam proses pembelajaran. Mahasiswa menjadi lebih mudah menghubungkan teori dengan realitas yang terjadi di masyarakat, lebih percaya diri saat berdiskusi, serta mampu menyampaikan pendapat berdasarkan data dan fakta, bukan sekadar asumsi. Kemampuan berpikir kritis seperti inilah yang menjadi salah satu tujuan utama pendidikan tinggi, terutama bagi mahasiswa yang kelak diharapkan mampu berkontribusi dalam kehidupan demokrasi.
Lebih jauh lagi, mengikuti perkembangan politik juga melatih mahasiswa untuk memahami berbagai sudut pandang, menganalisis kebijakan secara objektif, serta menyadari bahwa setiap keputusan politik memiliki dampak terhadap kehidupan masyarakat. Dengan demikian, belajar politik tidak berhenti di ruang kelas, tetapi berlangsung setiap hari melalui berbagai peristiwa yang terjadi di sekitar kita.
Mengubah Cara Memanfaatkan Media Sosial
Informasi digital begitu massif beredar saat ini, tantangan terbesar bukan lagi kekurangan informasi, melainkan kemampuan memilih informasi yang layak dikonsumsi. Algoritma media sosial akan terus menampilkan konten yang sesuai dengan kebiasaan penggunanya. Jika setiap hari yang dicari hanya hiburan, maka hiburan pula yang akan mendominasi layar. Sebaliknya, ketika mulai membiasakan diri mengikuti berita dan isu publik, media sosial juga dapat menjadi ruang belajar yang memperkaya wawasan.
Media sosial pada dasarnya hanyalah alat. Nilai manfaatnya sangat bergantung pada bagaimana penggunanya memanfaatkan platform tersebut. Apabila digunakan secara bijak, media sosial dapat menjadi jendela untuk memahami perkembangan politik, kebijakan pemerintah, hingga berbagai persoalan sosial yang sedang dihadapi masyarakat.
Langkah Sederhana Menjadi Mahasiswa yang Melek Politik
Membangun kebiasaan mengikuti perkembangan politik sebenarnya tidak memerlukan langkah yang rumit. Beberapa hal sederhana berikut dapat menjadi awal untuk meningkatkan literasi politik mahasiswa.
- Menyisihkan waktu sekitar 15–30 menit setiap hari untuk membaca berita dari media yang kredibel.
- Mengikuti akun media, lembaga, atau pengamat politik yang memiliki reputasi baik dan menyajikan informasi secara berimbang.
- Membandingkan informasi dari beberapa sumber sebelum menarik kesimpulan terhadap suatu isu.
- Menghubungkan materi yang dipelajari di kelas dengan berbagai peristiwa politik yang sedang berlangsung.
- Membiasakan diri berdiskusi menggunakan data dan fakta, bukan sekadar opini yang berkembang di media sosial.
- Memverifikasi informasi sebelum membagikannya kepada orang lain sebagai bentuk tanggung jawab dalam bermedia digital.
Kebiasaan-kebiasaan tersebut tidak hanya akan memperluas wawasan, tetapi juga membentuk kemampuan berpikir analitis, kritis, dan objektif yang sangat dibutuhkan oleh mahasiswa Ilmu Politik.
Saatnya Lebih dari Sekadar Scroll
Pada akhirnya, menjadi mahasiswa Ilmu Politik tidak cukup hanya menguasai teori di ruang kuliah atau memperoleh nilai akademik yang baik. Mahasiswa juga dituntut memiliki kepekaan terhadap persoalan masyarakat, mengikuti dinamika politik yang terus berkembang, serta mampu berpikir kritis dalam menyikapi berbagai isu publik.
Media sosial seharusnya tidak hanya menjadi tempat untuk mencari hiburan atau mengikuti tren yang sedang viral. Di balik layar yang setiap hari kita gulir, terdapat begitu banyak informasi yang dapat memperkaya wawasan, membuka cara pandang baru, dan meningkatkan kepedulian terhadap persoalan bangsa. Jika dimanfaatkan secara bijak, media sosial bukan sekadar ruang untuk scroll, melainkan juga ruang belajar yang membentuk karakter intelektual, memperkuat literasi politik, dan mempersiapkan mahasiswa menjadi warga negara yang kritis, peduli, serta siap memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat dan kehidupan demokrasi.
Penulis adalah Dosen Prodi Ilmu Politik, FISIP, Universitas Bangka Belitung

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!