
Tim Dosen dan Guru TK
BENGKULU – Buku cerita selama ini mungkin lebih sering dipandang sebagai teman anak sebelum tidur. Namun di tangan guru PAUD, buku cerita bisa menjadi lebih dari sekadar bacaan.
Cerita dapat menjadi pintu masuk untuk mengenalkan bahasa, membangun imajinasi, sekaligus menumbuhkan kebiasaan membaca sejak anak masih berada di usia dini.
Hal inilah yang coba didorong tim dosen Program Studi Pendidikan Anak Usia Dini melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat di TK Dewi Sartika, Bengkulu.
Kegiatan bertema “Peningkatan Keterampilan Guru PAUD dalam Pembelajaran Bahasa AUD Berbasis Literatur melalui Pemanfaatan Buku Cerita” tersebut dipimpin Dr. Didik Suryadi, M.A., bersama Melia Eka Daryati, M.Pd. dan Febri Yuridnir Rahimah, M.Pd.

Bukan sekadar memberikan teori, para guru diajak memahami bagaimana buku cerita dapat digunakan sebagai bagian dari proses pembelajaran bahasa anak.
Dr. Didik Suryadi mengatakan, kegiatan ini menjadi ruang untuk berbagi pengetahuan sekaligus keterampilan kepada guru TK dalam memanfaatkan buku bacaan.
“Tujuan kita sharing pengetahuan, sharing keterampilan kepada guru TK, khususnya dalam menggunakan buku bacaan untuk proses pembelajaran di TK,” ujar Didik.
Menurutnya, yang lebih penting adalah memastikan pengetahuan tersebut dapat diterapkan guru ketika kembali ke sekolah masing-masing. Sebab, kemampuan bahasa anak tidak tumbuh hanya melalui pembelajaran sesaat, melainkan membutuhkan stimulasi yang dilakukan secara terus-menerus.
“Jangka panjangnya agar para guru TK ini tidak hanya punya pengetahuan, tapi juga keterampilan untuk membelajarkan, untuk menstimulasi kemampuan bahasa anak di masing-masing sekolah,” katanya.
Kegiatan ini diikuti dalam lingkup satu gugus yang mencakup sembilan PAUD dan TK.
Melia Eka Daryati menjelaskan, kegiatan tersebut merupakan bagian dari pengabdian Program Studi PAUD kepada masyarakat. Fokusnya kali ini diarahkan pada pengembangan pembelajaran bahasa anak melalui literatur.
Namun ada satu hal yang turut menarik perhatian dalam kegiatan tersebut, yakni bagaimana teknologi kecerdasan buatan atau AI mulai dapat dimanfaatkan guru untuk menghasilkan bahan bacaan.
Guru tidak harus selalu bergantung pada buku yang sudah tersedia. Dengan bantuan teknologi, bahan cerita bahkan dapat dirancang sesuai tema pembelajaran yang ingin disampaikan kepada anak.

“Dengan bantuan AI bisa banyak produktivitas bahasa yang bisa kita gunakan. Salah satunya produknya itu dengan buku digital dari AI dan guru-guru juga bisa merancang sesuai dengan topik ataupun dengan tema yang mau mereka rancang waktu proses pembelajaran,” jelas Melia.
Meski begitu, teknologi tetap ditempatkan sebagai alat bantu. Peran guru dalam membacakan dan menghidupkan cerita di hadapan anak tetap menjadi bagian penting. Melia bahkan mendorong agar membaca buku menjadi kebiasaan yang dilakukan setiap hari.
“Pembacaan buku itu setidaknya bisa konsisten, setiap hari dilakukan di kegiatan pembuka, minimal 10 sampai 15 menit,” ujarnya.
Guru juga diperkenalkan dengan metode read aloud, atau membaca nyaring. Dengan metode ini, cerita tidak sekadar dibacakan, tetapi disampaikan dengan cara yang dapat membuat anak terlibat dalam proses mendengarkan dan memahami cerita.
Bagi tim dosen, kebiasaan sederhana tersebut justru diharapkan menjadi pondasi penting dalam perjalanan literasi anak. Sebab target akhirnya bukan hanya membuat anak mampu membaca. Lebih jauh, anak diharapkan tumbuh menjadi pribadi yang memang menyukai aktivitas membaca.
“Jangka panjangnya, harapan tumbuhnya generasi yang tidak hanya bisa membaca tetapi juga senang membaca,” kata Didik.
Menurutnya, usia dini merupakan fase penting untuk menanamkan kemauan dan kemampuan membaca. Ketika pengalaman pertama anak terhadap buku dibangun dengan menyenangkan, membaca diharapkan tidak hadir sebagai kewajiban, melainkan sebagai kebutuhan dan kebiasaan.
“Kami ini dalam posisi memberikan semacam pondasi, agar kemauan dan kemampuan membaca sudah punya landasan sejak usia dini,” ujarnya.
Didik berharap, upaya yang dimulai dari ruang-ruang kelas PAUD tersebut nantinya dapat memberikan dampak lebih luas terhadap budaya literasi anak Indonesia.
“Kalau itu bisa terjadi, kalau itu bisa terwujud, maka generasi kita ke depannya akan menjadi generasi yang suka membaca,” katanya.
Bahkan, ia berharap kontribusi kecil melalui kegiatan pengabdian tersebut dapat ikut mendorong peningkatan kemampuan literasi membaca anak-anak Indonesia.
“Harapan kami bisa menyumbangkan peningkatan skor literasi membaca untuk anak-anak di Indonesia,” pungkasnya.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!