
Empat pemuda asal Provinsi Bengkulu mendapat kesempatan mewakili daerah dalam program kepemudaan tingkat nasional, Wirasena Youth Camp 2026, yang diselenggarakan oleh Kementerian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia (Kemenpora RI) pada 21–31 Oktober 2026 di Paviliun Raden Saleh, Artotel Curated, kawasan Taman Ismail Marzuki, Jakarta.
Keempat delegasi tersebut adalah Arnold Willyarto dari Kabupaten Bengkulu Selatan, Brahma Saputra dari Kabupaten Kepahiang, Fatimah Az Zahra dari Kabupaten Rejang Lebong, dan Salma Ishmah dari Kota Bengkulu. Mereka terpilih melalui seleksi terbuka nasional dan menjadi bagian dari lebih dari 150 pemuda dan pemudi dari berbagai provinsi di Indonesia yang mengikuti program tersebut.
Wirasena Youth Camp 2026 merupakan ruang pengembangan karakter, kepemimpinan, dan kolaborasi antarpemuda Indonesia. Mengusung semangat Menciptakan Pemuda Masa Depan, Mewujudkan Indonesia Emas 2045, program ini berfokus pada pembentukan generasi muda yang memiliki tiga karakter utama, yaitu Patriotik, Gigih, dan Berempati.
Selama sebelas hari pelaksanaan, peserta mengikuti berbagai rangkaian pembelajaran, mulai dari sesi kelas, diskusi, refleksi, Temu Tokoh, Temu Praktisi Muda, hingga dialog bersama Menteri Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia. Peserta juga mengikuti Pitching Day sebagai ruang penyampaian gagasan, upacara peringatan Hari Sumpah Pemuda, Deklarasi Komunitas Wirasena, serta rangkaian Indonesia Youth Summit.
Belajar dari Keberagaman, Bertumbuh dalam Persatuan
Salah satu pengalaman penting yang dirasakan para delegasi Bengkulu adalah kesempatan bertemu dan bertukar perspektif dengan pemuda dari berbagai latar belakang daerah, budaya, dan pengalaman di seluruh Indonesia.
Pertemuan tersebut memperlihatkan bahwa setiap daerah memiliki persoalan, potensi, dan cara pandang yang berbeda. Namun, perbedaan itu justru menjadi kekuatan untuk saling belajar, memahami, dan membangun kolaborasi.
Bagi Arnold Willyarto, pengalaman bertemu pemuda dari Sabang sampai Merauke, dari Pulau Miangas hingga Pulau Rote, memberikan pemahaman bahwa persatuan Indonesia tidak berarti menyeragamkan perbedaan, melainkan merawat keberagaman sebagai kekuatan bersama.
Nilai Patriotik mengajarkan pemuda untuk berani mengambil peran, membawa suara daerah, dan menghadirkan solusi bagi masyarakat. Nilai Gigih menekankan pentingnya kemampuan untuk terus belajar, bangkit, dan mengevaluasi diri dalam menghadapi tantangan. Sementara itu, Berempati mengajarkan pentingnya mendengarkan, memahami perspektif orang lain, serta membangun kepedulian tanpa terburu-buru menghakimi.
Pengalaman tersebut juga memperkuat pemahaman tentang kepemimpinan. Seorang pemimpin tidak hanya dituntut mampu memimpin, tetapi juga harus siap dipimpin, bersedia mendengarkan, dan terus belajar dari orang lain.
Membawa Pulang Pengalaman, Melanjutkan Kontribusi untuk Bengkulu
Keikutsertaan dalam Wirasena Youth Camp 2026 tidak berhenti pada pengalaman selama kegiatan. Keempat delegasi Bengkulu juga memiliki fokus kontribusi yang berbeda sesuai dengan bidang dan ruang pengabdian masing-masing.
Arnold Willyarto berkomitmen melanjutkan kontribusi melalui riset dan pengabdian kepada masyarakat pesisir, khususnya di Pulau Tikus dan Pulau Enggano. Brahma Saputra berfokus pada pengembangan kewirausahaan pemuda sebagai upaya mendorong kemandirian dan potensi ekonomi generasi muda.
Sementara itu, Fatimah Az Zahra ingin berkontribusi dalam pengembangan kapasitas pemuda melalui program mentorship atau pendampingan. Salma Ishmah membawa perhatian pada isu kesehatan mental sebagai bagian penting dalam membangun kualitas dan kesejahteraan generasi muda.
Perbedaan fokus tersebut menjadi gambaran bahwa kontribusi pemuda dapat dilakukan melalui berbagai bidang. Mulai dari lingkungan dan masyarakat pesisir, kewirausahaan, pengembangan kapasitas generasi muda, hingga kesehatan mental. Semuanya memiliki ruang untuk saling melengkapi dalam pembangunan daerah.
Bagi para delegasi, pengalaman di Jakarta juga menjadi kesempatan membangun jejaring persaudaraan dan kolaborasi lintas daerah yang diharapkan tetap berlanjut setelah program selesai.
Sebagaimana semangat yang disampaikan dalam refleksi kegiatan, pahlawan masa kini bukan hanya mereka yang mampu menghadapi perubahan zaman, tetapi juga pemuda yang terus bergerak mencari solusi dan menjadi inspirasi bagi masyarakat di sekitarnya.
Dari Bengkulu, keempat delegasi membawa semangat yang sama: terus belajar, berani mengambil peran, dan menghadirkan kontribusi nyata bagi daerah.
Sebab, perubahan tidak selalu dimulai dari langkah besar, tetapi dari keberanian untuk memulai. Dari Wirasena, belajar bersama. Dari daerah, bergerak bersama. Untuk Indonesia, berdampak bersama.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!