
Ilustrasi. AI Generated
Oleh: Siti Nisaussangadah, M.I.Kom.
Tahun 2024 dapat dikatakan sebagai tahun politik karena terdapat agenda besar, yakni perhelatan pesta demokrasi yang digelar melalui Pemilihan Umum (Pemilu) dan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) serentak. Menurut catatan sejarah, Pemilu 2024 menjadi pelaksanaan pemilu ketiga belas yang diselenggarakan di Indonesia.
Tentu, dalam suasana politik saat pilkada, sebagai masyarakat kita selalu menunggu berbagai informasi mengenai para calon melalui pemberitaan media, baik media elektronik maupun media digital saat ini. Kita tahu bersama bahwa tanggung jawab suatu media cukup besar dalam menjaga keseimbangan dalam menyampaikan informasi kepada publik.
Misalnya, sebagai lembaga penyiaran publik, TVRI Bangka Belitung juga diharapkan mampu menampilkan berita yang netral, berimbang, dan sesuai dengan prinsip kode etik jurnalistik. Tidak bisa dipungkiri bahwa tantangan demikian hadir di tengah momentum Pilkada 2024, ketika sorotan terhadap keberimbangan media makin kuat.
Pilkada 2024 telah dilaksanakan serentak pada 27 November 2024 di 545 daerah, termasuk di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. KPU Provinsi Kepulauan Bangka Belitung secara resmi menetapkan dua pasangan calon Pilgub Bangka Belitung 2024, yaitu Hidayat Arsani–Hellyana dan Erzaldi Rosman Djohan–Yuri Kemal Fadlullah.
Selama masa kampanye, TVRI secara konsisten menyampaikan informasi politik kepada masyarakat melalui program acara TVRI Bangka Belitung Hari Ini yang tayang setiap pukul 16.00–17.00 WIB. Meski demikian, tantangan netralitas bagi TVRI Bangka Belitung tidak bisa dihindari.
Berdasarkan hasil riset Reuters Institute tahun 2024, TVRI berada di angka 61 persen atau menduduki peringkat pertama sebagai media paling dipercaya publik. Angka itu sama dengan yang dicapai Kompas, disusul CNN dengan perolehan 60 persen (Antara, 2024).
Hasil analisis terhadap 20 berita dalam program Bangka Belitung Hari Ini menunjukkan bahwa TVRI Bangka Belitung telah berupaya menjaga objektivitas, namun masih menghadapi keterbatasan teknis dan sumber daya.
Analisis dengan pendekatan wacana kritis Theo van Leeuwen (2008) serta konsep objektivitas Westerståhl untuk menilai sejauh mana nilai keberimbangan dan faktualitas terjaga di dalam pemberitaan politik lokal telah dilakukan selama masa kampanye.
Terlihat bahwa dari rentang waktu selama 60 hari masa kampanye, sebagian besar berita dalam Bangka Belitung Hari Ini menampilkan kandidat cagub dan cawagub sebagai aktor aktif atau pihak yang melakukan tindakan, seperti menyampaikan program kampanye dan mendengar aspirasi masyarakat.
Namun, sebagian lainnya menunjukkan kandidat sebagai objek pemberitaan; sorotan berita yang dikemas justru lebih tertuju pada lembaga penyelenggara atau pengawas pemilu seperti KPU, Bawaslu, atau Panwaslu. Upaya ini tentu sudah berdasarkan hasil koordinasi tim redaksi untuk menjaga jarak sebagai bentuk ketidakberpihakan media.
Berdasarkan sisi faktualitas, berita yang disiarkan TVRI Bangka Belitung telah memenuhi unsur 5W + 1H, dengan pemisahan yang jelas antara opini dan fakta. Namun, ada hal lain seperti kelengkapan informasi; beberapa berita belum sepenuhnya memberikan porsi yang seimbang kepada semua pasangan calon.
Dari 20 berita yang berhasil dianalisis, hanya tujuh berita yang benar-benar menampilkan kedua pasangan calon dalam ruang yang sama dan proporsional. Padahal, seharusnya dengan masa kampanye hingga satu bulan lamanya, porsi pemberitaan kandidat secara seimbang dapat dilakukan secara kontinu sehingga informasi yang disampaikan menjawab keinginan masyarakat untuk mengetahui kegiatan yang telah dilakukan serta program kerja yang akan dilaksanakan demi kesejahteraan masyarakat.
Tidak bisa dipungkiri, keterbatasan sumber daya menjadi tantangan utama yang dialami TVRI Babel. Tim redaksi menjelaskan bahwa dalam proses peliputan saat ini hanya terdapat dua tim organik yang harus menempuh jarak jauh dengan peralatan terbatas. Belum lagi kondisi geografis dan jangkauan sinyal yang belum maksimal membuat peliputan ke daerah terpencil tidak dapat dilakukan secara optimal. Tim redaksi dalam menjalankan tugas selalu berpegang pada kode etik jurnalistik dan menolak segala bentuk siaran berbayar dari kandidat.
Sebagai lembaga independen, sudah selayaknya seluruh proses liputan mengikuti Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3SPS) serta ketentuan SKB KPU–Bawaslu–KPI. TVRI juga berusaha menyediakan porsi tayang yang adil pada jam prime time (17.00–18.00 WIB) agar kedua pasangan calon memiliki kesempatan yang sama untuk tampil di layar publik.
Meski belum sempurna, TVRI Bangka Belitung terus berupaya meningkatkan profesionalisme kerja dan memegang teguh netralitas dalam setiap tayangan berita. Peningkatan kualitas liputan dilakukan dengan memperkuat kapasitas jurnalis, menambah sumber daya peliputan, serta memperluas jangkauan siaran agar informasi politik dapat dinikmati secara merata oleh seluruh masyarakat Bangka Belitung.
Dalam konteks tahun politik, menjaga kepercayaan publik terhadap media menjadi hal yang paling penting. Objektivitas bukan hanya tentang menyampaikan fakta, melainkan kemampuan menyampaikan kepentingan publik tanpa terpengaruh tekanan politik maupun kepentingan ekonomi.
Semoga pemimpin yang terpilih untuk lima tahun ke depan di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, yang dikenal sebagai Bumi Serumpun Sebalai, yakni pasangan calon Gubernur dan Wakil Gubernur Hidayat Arsani dan Hellyana, mampu menjadikan daerah ini lebih berdaya melalui program untuk mewujudkan Babel sejahtera dengan empat konsep, yaitu kesehatan, ekonomi, pendidikan, dan hukum.
Penulis adalah Dosen Ilmu Politik, FISIP Universitas Bangka Belitung

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!