Logo

Jalan Berbeda Kaesang dengan Sang Ayah

Jalan Berbeda Kaesang dengan Sang Ayah

Kaesang Pangarep lebih memilih bergabung dengan Partai Solidaritas Indonesia (PSI) daripada Partai Demokrasi Indonesia perjuangan (PDIP), partai yang didukung oleh Ayahnya, Presiden Jokowi. Ini merupakan keputusan yang mencerminkan cepatnya perubahan dinamika politik di negara ini. Tidak butuh waktu panjang hanya berselang dua hari dari bergabungnya Kaesang dengan partai, Kaesang langsung ditetapkan sebagai Ketum PSI pada Senin, 25 September 2023 saat Kopdarnas PSI di Djakarta Theater.

Keputusan Kaesang untuk tidak bergabung dengan PDIP mungkin juga menciptakan dinamika politik dalam keluarga Jokowi. Hal ini dapat mempengaruhi dinamika internal dalam PDIP dan menjadi perhatian politik yang signifikan di tingkat nasional.

Kaesang, yang dikenal sebagai anak dari Presiden Jokowi, akan membawa warna baru di panggung perpolitikan dengan pendekatan yang berbeda dalam kepemimpinannya, yang didorong oleh strategi komunikasi politik yang kuat dengan nama besar Ayahnya.

Selain nama besar Ayahnya, dipilihnya Kaesang menjadi Ketua Umum PSI sebagai penyegaran citra politik PSI. Seringkali citra PSI yang penuh dengan kritik kotroversi  yang selalu dilayangkan kepada Anis Baswedan saat menjabat Gubernur DKI Jakarta dan Penolakan PSI terhadap perda bernuansa agama tentu menjadi tantangan tersendiri bagi Kaesang dalam menjalankan perannya sebagai ketum PSI yang baru. Menerik kita lihat apakah strategi komunikasi PSI tetap seperti yang sebelumnya ataukah akan bertransformasi mengikuti strategi atau gaya komunikasi Kaesang.

Bergabungnya Kaesang dengan PSI yang memiliki pengikut setia di media sosial, dapat membantu dalam kampanye politik dan membangun ceruk suara PSI di kalangan generasi muda.       Aktifnya Kaesang di platform media sosial seperti Instagram, Twitter, dan YouTube. Ini akan membantu menghubungkan PSI dengan generasi muda yang aktif di media sosial.

Ambang batas parlemen menjadi tantangan besar bagi partai baru sperti PSI yang akan berkontestasi di pemilu 2024, seperti yang kita ketahui pada pemilu 2019 PSI gagal memenuhi ambang batas parlemen, hal ini menjadi dorongan PSI dalam bermanuver politik dengan menempatkan tokoh sentral untuk mendulang suara pada pemilu mendatang.

Dalam teori kepemimpinan ada dua model kepemimpinan yang dapat kita analisa dari peristiwa ini, pertama kepemimpinan Transformasional, model kepemimpinan ini seringkali memiliki visi yang kuat dan mampu menggerakkan orang lain untuk berpartisipasi dalam mencapainya. Seorang kaesang apakah memiliki visi yang kuat serta gagasan-gagasan yang baru untuk mentransformasi PSI menjadi yang berbeda ataukah dengan model kepemimpinan kedua, yaitu kepemimpinan pelayanan, dimana Kaesang menggambarkan pemimpin sebagai pelayan yang berorientasi pada kepentingan pengikut, dengan fokus pada pertumbuhan dan perkembangan PSI sesuai visi awal berdirinya partai tersebut.

Direktur Eksekutif Charta Politika Yunarto Wijaya dalam siaran CNN Indonesia mengatakan “ketika dikaitkan dengan strategi marketing politik dari awal PSI berupaya melekatkan diri dengan Jokowi kemudian keluar istilah Jokowisme, tegak lurus dengan Jokowi, itu bisa dinilai dari kesamaan nilai-nilai maupun dalam konteks strategi marketing politik mendapatkan efek ekor jas dari Jokowi dan sekarang PSI menempatkan anak biologis Jokowi”. Namun menurut Yunarto yang menjadi catatan penting adalah mekanisme partai politik yang begitu sangat instan itu, harus bisa dijelaskan dalam kerangka fungsi partai politik tentang rekrutmen dan kaderisasi dalam konteks yang sehat dan tidak melemahkan nilai-nilai demokrasi di Negara ini.

Dengan Kaesang bergabung dengan partai yang berbeda daripada partai yang didukung oleh ayahnya, juga muncul pertanyaan tentang sejauh mana Kaesang memiliki kemerdekaan politik dalam membuat keputusan dan mendefinisikan visinya sendiri dalam politik ataukah ada cawe-cawe dari sang Ayah. Ini menjadi topik diskusi dan spekulasi di kalangan pengamat politik dan masyarakat.

Oleh : Wedo Setiawan, S.I.Kom

(Mahasiswa Magister Ilmu Komunikasi FISIP UNIB)