Perempuan Petani Kopi Desa Kopi Tangguh Iklim (Koppi Sakti) Bengkulu di Desa Batu Ampar, Kabupaten Kepahiang.

Cerita Perempuan Petani Kopi Pulang ke Cara Leluhur

📅 Dipublikasikan: 01/28/2026• ✍️ Oleh: Alwin Feraro

“Ada penyesalan,” kata Mardalena. Ucapannya seketika membuat perempuan petani kopi lainnya membisu.

Seolah menunggu pekikan nyaring sesiar yang bersembunyi di pepohonan di kebun kopi mereda, ia pun ikut larut dalam kesunyian senja itu. Matanya menatap buku tulis bermotif batik dengan sulur dan bunga berwarna merah, cokelat, hijau dan kuning yang dipegangnya di depan kakinya yang bersila.

“Coba dari dulu kita mempertahankan cara-cara nenek moyang,” sambungnya pelan.

”Mungkin, ibarat kata, cuaca yang tidak karuan seperti sekarang ini tidak terjadi,” tambahnya. Tangannya mulai membolak-balik halaman buku tulis berisi riwayat hidup yang ditulisnya sendiri itu.

“Mungkin iklim yang tidak karuan tidak terjadi,” katanya dengan suara merendah. Tanpa diberi aba-aba, kepala Nurlela Wati, Supartina Paksi, Mercy Fitry Yana, Heni, Lena Sari Susanti, dan Julian Novianti seketika bergerak pelan ke atas dan ke bawah secara bersamaan.

“Kenapalah tidak dari dulu kita meneruskan cara-cara nenek moyang?” sambung Mercy pelan. Tangan kanannya bergerak menarik-ulur ritsleting tas cokelat bermotif kotak-kotak di depan kedua lututnya yang merapat miring.

“Mudah-mudahan semakin banyak perempuan petani kopi yang juga ingin menghidupkan kembali cara-cara nenek moyang,” harapnya sembari tersenyum.

“Bergotong Royong Mengisi Beronang”

Selasa sore (20/1/26) itu, kami berkumpul di saung Pusat Usaha dan Pendidikan Koalisi Perempuan Petani Kopi Desa Kopi Tangguh Iklim (Koppi Sakti) Bengkulu di Desa Batu Ampar, Kabupaten Kepahiang.

Sambil menyandarkan punggung ke dinding pelupuh bambu setinggi lengan orang dewasa, para penggerak Koppi Sakti Bengkulu dari Kabupaten Kepahiang dan Rejang Lebong duduk bersila membentuk dua barisan yang saling berhadapan di atas karpet plastik cokelat muda bermotif batik.

Seolah bergotong royong mengisi beronang bambu kosong dengan hasil panen sementara, perempuan petani kopi dari Desa Batu Ampar, Pungguk Meranti, Tebat Tenong Luar, dan Mojorejo itu bergantian membagikan cerita perubahan yang terus berproses dalam perjalanan melingkar yang panjang dalam membangun Kebun Kopi Tangguh Iklim.

Lebat, Bernas dan Lengket

“Kalau kita ingin kebun kita bagus, kesehatan tanah harus dirawat,” kata Mercy.

“Ini pelajaran penting yang saya peroleh setelah berhenti meracun rumput, membuat lubang angin, membuat mulsa organik, menggunakan pupuk organik, dan menanam tanaman lain di kebun.”

“Dengan pulihnya kesehatan tanah, batang kopi menjadi lebih kokoh,” tambahnya sambil meletakkan lengan kanannya di kayu lis penutup bagian atas pelupuh.

“Daunnya juga lebih rimbun dan lebih hijau, serta mengkilap. Buahnya pun lebih lebat dan bernas, dan juga lengket, tidak mudah gugur meski diguyur hujan deras.”

“Sebelumnya, jarang sekali hasil panen buah selang bisa banyak. Paling banyak hanya dua karung,” tambah Julian.

“Kalau sekarang, jumlahnya berbeda,” kata Julian sembari meletakkan sikut di paha kaki kiri dan telapak tangan ke dagu.

“Hasil panen buah selang di kebun kopi saya baru-baru ini saja sudah tembus tujuh karung.”

Mercy menganggukkan kepalanya dan menimpali, “Jumlah hasil panen buah selang di kebun kopi saya juga bertambah.”

“Hasil panen baru-baru ini sudah tembus lima karung.”

Buah selang Ringankan Pikiran

“Tahun yang sudah-sudah, bulan 11, bulan 12, bulan 1 adalah bulan-bulan genting,” Julian melanjutkan.

“Menjalani hari terasa sangat berat, serasa besok tidak ada hari lagi. Tapi, sekarang sudah tidak lagi terasa berat. Hasil panen buah selang sudah cukup meringankan pikiran,” tambahnya sambil tertawa kecil, yang diikuti tawa perempuan petani kopi lainnya.

“Biasanya, pada bulan-bulan itu, setiap hari harus cari lokak kerja harian di kebun orang,” Lena menimpali sembari terus tertawa kecil.

Sembari mengangkat tangan kanannya, lalu menggerakan jari telunjuknya ke jilbab hitam berlis putih yang membalut kepalanya, ia melanjutkan, “Beban pikiran meningkat. Setiap hari mikir makan apa. Pagi mikir untuk sore, sore mikir untuk pagi.”

“Sekarang, sudah bisa menolak ajakan kerja harian di kebun orang,” tambahnya.

“Sekarang, setiap bulan ada hasil panen buah selang yang bisa kita peroleh,” sambung Nurlela. Sambil mengubah posisi duduknya dari bersila menjadi berselonjor, ia menambahkan, “Walau tidak banyak, tapi cukup untuk meringankan pikiran.”

“Sekarang sudah tidak perlu lagi cari kerja upahan di kebun orang,” kata Supartina pelan, sambil menggoyang-goyangkan lutut kanan yang didekap kedua tangannya.

“Cukup dari hasil kebun kopi kita sendiri saja.”

Tidak Lagi Makan Bunga Kopi

“Saya pernah punya pengalaman, baru sudah panen kopi, duitnya langsung habis karena harus membayar utang di sana dan di sini,” timpal Julian kembali tertawa kecil.

“Kalau kata orang, hasil panen habis di bawah batang.”

Sembari ikut tertawa, Heni menambahkan, “Bahkan, ketika bunga kopi baru muncul, terkadang juga sudah harus berutang untuk makan hari ke hari, yang dibayar setelah panen.”

“Ibarat kata, makan bunga kopi.”

“Sekarang sudah berbeda. Apalagi sudah tidak perlu lagi keluar uang atau berutang untuk beli racun rumput dan pupuk kimia,” tambahnya.

Sembari tangan kanannya mengurut-urut keningnya, ia melanjutkan, “Dalam setahhun, biaya untuk beli racun rumput dan pupuk kimia itu berkisar tiga sampai empat juta rupiah.”

Tanaman Sela untuk Keberanian

“Hasil dari tanaman sela juga sangat membantu,” kata Supartina.

“Sekarang, sudah berani ngomong ke suami, ‘Pak, besok ajaklah orang, sekian orang, untuk kerja di kebun.’ Sebelumnya, mana berani ngomong seperti itu. Uang belanja saja menunggu dari suami.”

“Sebelumnya,” sambung Lena, “beli baju baru anak hanya saat Lebaran. Untuk membelinya pun terkadang harus cari pinjaman.”

“Kalau sekarang, kapan pun bisa beli baju baru untuk anak. Hasil panen cabai rawit beberapa kilogram saja sudah bisa,” katanya sembari tersenyum lebar.

Po’ong, Tighau, dan Ranti Berdatangan

“Cabai rawit di dekat lubang angin yang berisi mulsa organik untuk buat pupuk organik di kebun saya, suburnya bukan kepalang,” kata Mardalena. “Pohonnya tinggi, daunnya rimbun dan hijau mengkilap, dan buahnya lebat.”

Seraya meniru logat populer Jakarta, ia melanjutkan, “Suburnya kebangetan!” Seketika tawa pun pecah di saung itu.

Ketika tawa mulai mereda, Nurlela menambahkan, “Di sekitar lubang angin juga tumbuh po’ong (pakis). Sebelum-sebelumnya, sama sekali tidak pernah ada.”

“Hampir di sekitar semua lubang angin tumbuh po’ong,” timpal Heni. “Macam-macam pula jenisnya.”

“Di kebun saya juga banyak tumbuh macam-macam po’ong,” sambung Supartina. “Salah satunya po’ong ikan yang bisa dimakan. Rencananya saya mau ajak suami untuk memperbanyak.”

“Saya dan anak saya juga punya rencana yang mirip,” Nurlela melanjutkan. “Jika po’ong yang tumbuh itu tidak bisa dimakan, akan kami ganti dengan menanam po’ong yang bisa dimakan.”

“Mungkin karena tanah sudah lembap akibat air hujan yang tertampung di lubang angin terserap ke dalam tanah, makanya po’ong mulai tumbuh,” sambungnya. “Itu juga dampak setelah berhenti total menyemprot racun rumput.”

“Sejak berhenti menyemprot racun rumput, sekarang saya juga mulai sering ketemu tighau (jamur) yang tumbuh di batang pepohonan dan batang kopi yang mati,” kata Heni. “Sebelum-sebelumnya, tidak pernah ada.”

Sembari jari jemari tangan kanannya memukul-mukul lembut paha kaki kanannya, ia melanjutkan, “Ada tighau cecurut, tighau kukuran, tighau kuping, tighau mato kebau, tighau jelemak, tighau bungo kupi, dan lainnya. Selain untuk lauk di kebun, saya juga sudah mulai sering membawa tighau pulang.”

“Di tempat kami juga mulai tumbuh banyak tighau,” timpal Julian. “Selama ini kita selalu meracun rumput, jadi tighau tidak mungkin tumbuh. Setelah tidak meracun rumput lagi, tighau mulai mau tumbuh.”

“Ranti rimbo juga mulai banyak tumbuh,” kata Lena. “Kalau masih meracun rumput, tidak akan tumbuh ranti rimbo.”

“Di tempat kami, lumai juga mulai tumbuh alami,” timpal Mercy.

“Selain untuk lauk keluarga, hasil manennya juga bisa dijual,” Lena melanjutkan. “Sekarang ini, kalau saya pulang dari kebun, anak saya sering menanyakan apa yang saya bawa untuk dia bisa jual ke tetangga. Untuk uang jajannya.”

Sembari bercanda, ia melanjutkan, “Kalau ibu-ibu mau beli, silakan pesan. COD!” Seketika tawa kembali pecah di saung itu.

“Ibu-ibu juga boleh datang ke kebun saya untuk mramban,” kata Heni ikut bercanda, sembari menggeser piring melamin putih bermotif jalinan hijau berisi gorengan ke tengah. Suara tawa pun semakin ramai.

Tahi gelang Bermunculan

Ketika tawa mereda, Mardalena menambahkan, “Di lubang angin juga banyak terlihat akar baru, putih-putih, akar baru kopi.”

“Selain itu, di sekitar lubang angin dan mulsa organik juga bermunculan, kalau kata orang, tahi gelang. Tahi cacing tanah yang berukuran besar.”

“Benar, banyak tumbuh akar serabut kopi baru,” timpal Nurlela.

“Selain karena lembap, dan banyak makanan karena mulsa organik di lubang angin sudah jadi pupuk, sepertinya dinding lubang angin juga memudahkan akar bernapas, sehingga mengundang tumbuh banyak akar serabut baru.”

“Dulu, nenek atau ibu ngomong, kalau muncul tahi gelang, itu tandanya tanah subur,” sambung Supartina. “Dengan bermunculan banyak tahi gelang, itu tandanya tanah di kebun kita sudah subur lagi, sudah sehat lagi.”

Rumput Tumbuh Kembali, Ganti hari Hidup Kembali

“Sebelumnya juga banyak rumput yang tidak tumbuh,” sambung Heni. “Sekarang, mulai tumbuh lagi, seperti rumput angit, rumput cabe-cabean, rumput siso, rumput jabung, dan banyak lagi. Tumbuhnya pun subur-subur.”

“Kalau rumput-rumput itu sudah tumbuh, tandanya tanah kita mulai subur lagi, mulai sehat lagi,” kata Nurlela. “Semakin subur rumput-rumput itu tumbuh, tandanya tanah kita semakin sehat.”

“Dulu,” timpal Heni, “rumput kita anggap mengganggu, racun kita anggap membantu.”

“Sekarang dibalik. Racun yang mengganggu, bahkan merusak. Merusak tanah, merusak tanaman sela, merusak kopi, merusak pohon lainnya.”

Sambil menggeser sedikit posisi punggungnya yang menyandar di pelupuh bambu, ia melanjutkan, “Sekarang, rumputlah yang membantu. Banyak rumput berarti kebun sehat. Banyak rumput berarti banyak air, banyak mulsa organik, banyak pupuk organik, dan banyak hasil panen.”

“Dibanding meracun,” tambah Supartina, “memang merigas rumput membutuhkan lebih banyak waktu dan tenaga.”

“Tapi, dengan merigas, kita bisa menjaga kelembapan dan kesehatan tanah, menanam tanaman lain, dan menjaga kesehatan pohon kopi dan tanaman lainnya.”

”Biarlah lambat, tapi banyak manfaat. Daripada cepat, tapi banyak mudarat,” tambahnya.

“Kami di sini sudah menghidupkan kembali ganti hari,” Supartina melanjutkan. “Untuk sementara, ganti hari merigas rumput. Mudah-mudahan kedepannya juga bisa ganti hari merawat lubang angin dan membuat pupuk organik di lubang angin.”

“Iya Bu, kami juga sudah berencana menghidupkan kembali ganti hari,” timpal Mercy. “Rencanannya, tahap awal ganti hari merigas rumput, tapi kedepannya kami juga berharap bisa ganti hari merawat lubang angin dan membuat pupuk organik di lubang angin.”

Kebun Sejuk, Kerja Nyaman

“Sekarang ini,” Mercy melanjutkan, “untuk merigas rumput di kebun juga sudah lebih enak. Tidak panas seperti sebelumnya. Rimbunnya pohon kopi membuat suhu di kebun menjadi sejuk.”

“Sebelumnya, cepat merasa gerah. Manen buah kopi pun harus cepat-cepat. Sebisa mungkin menghindari tengah hari. Walau pakai penutup kepala tambahan, masih terasa panas. Kalau tidak pakai, terasa bedengkang kepala.”

“Sejak pohon kopi jadi rimbun, sudah tidak susah lagi mencari tempat beristirahat di kebun,” sambung Supartina.

“Jadi ingat sewaktu kecil, sering bermain, bahkan tidur-tiduran di bawah rindangnya pohon kopi, jengkol, alpukat dan pohon lainnya.”

“Dan, kalau diperhatikan, tidak banyak buah kopi gugur yang terlihat di bawah pohon kopi yang rimbun atau pohon kopi yang dibayangi oleh pohon alpukat, jengkol, durian atau pohon lainnya.”

“Menanam pohon durian, alpukat, jengkol dan nangka sepertinya memang tidak mengganggu,” sambung Lena.

“Apalagi, kalau jarak tanamnya diatur. Sebaliknya, bisa melindungi pohon kopi dari tetesan air hujan dan terik sinar matahari.”

“Selain itu, buahnya juga bisa dimakan sendiri dan dijual. Hitung-hitung hasil panennya bisa menjadi tambahan, bahkan bisa menjadi tabungan,” katanya, sembari tangan kanannya memainkan pena plastik hitam di depan kakinya yang bersila.

Rindu Kebun, Relasi Romantis

Ia juga melanjutkan, “Sekarang ini, rasanya pengen setiap hari ke kebun.”

“Biasanya, suami yang mengajak ke kebun. Kalau sekarang, saya yang mengajak suami. Kalau suami tidak mau ke kebun, saya tetap ke kebun.”

Sembari tangannya masih trus memanikan pena, ia melanjutkan, “Kalau tidak ke kebun, kepala terasa sakit. Jauh berbeda bila ke kebun, bukan hanya kepala yang tidak merasa sakit, hati juga merasa senang.”

“Bukan hanya mengajak ke kebun, tapi juga mengajak suami mendiskusikan apa yang akan dikerjakan di kebun,” sambung Supartina. “Besok, bagaimana kalau kita mengerjakan ini atau mengerjakan itu, menanam ini atau itu, atau saya mau mengerjakan ini, silakan bapak mengerjakan itu.”

“Tidak lagi sekadar ikut suami, tetapi sudah mendiskusikan rencana,” timpal Julian. “Jadi, pergi ke kebun bersama suami terasa berbeda dibandingkan sebelum-sebelumnya, termasuk saat bekerja di kebun, dan pulang dari kebun.”

Sambil tersenyum-senyum, ia menambahkan, “Terasa lebih romantis.” Seketika saung itu kembali ramai dengan suara tawa.

Biarlah Dianggap Bodoh, Yang Penting Bahagia

“Mungkin,” sambung Mercy, “banyak pihak menganggap langkah kita membangun Kebun Kopi Tangguh Iklim dengan menghidupkan kembali cara-cara nenek moyang ini tidak “modern” atau “maju”.”

“Bahkan, mungkin dianggap bertentangan oleh pemerintah (daerah).”

“Kalaupun pemerintah (daerah) menganggap kita bodoh, tertinggal, dan terbelakang, biarlah,” timpal Supartina.

“Yang penting, hasil kebun kita lebih memuaskan, kebun kita lebih sehat, rumah tangga kita lebih harmonis, dan kita lebih bahagia,” sambungnya, yang direspons dengan anggukan mantap perempuan petani kopi lainnya sambil saling memandang.

Bangga, Dari Nenek Moyang untuk Anak Cucu

“Yang jelas,” tambah Mardalena, “kita sudah membuktikan dan merasakan sendiri berbagai perubahan yang telah terjadi pada tanah, kebun, kopi, tanaman lain, diri kita sendiri, dan keluarga kita.”

“Semoga ke depannya, perubahan-perubahan lain yang akan terjadi membuat kita dan kebun kopi kita menjadi lebih baik lagi,” harapnya, yang juga direspons dengan anggukan mantap perempuan petani kopi lainnya.

“Bagaimanapun juga,” sambung Nurlela, “kita harus bangga dengan konsep Kebun Kopi Tangguh Iklim.”

“Sebab kita sendirilah, perempuan petani kopi yang sering dianggap tidak tahu apa-apa dan tidak pernah ke mana-mana, yang membuatnya. Kita pun membuatnya dengan menghidupkan kembali cara-cara nenek moyang kita, dan kita menerapkannya untuk masa depan anak cucu kita.”

Bagikan Artikel:
Live Bengkulu Oleh Alwin Feraro • 06/26/2026

“Belum Mati, Belum Akan Mundur”: Perempuan Petani Pino Raya Bertahan di Tengah Konflik Sawit

“Pedas padi dimakan kerau,” ujar Ilis. Ucapan janda empat anak kelahiran 1979 yang sedang berjongkok di atas potongan batang kayu sebesar betis orang dewasa di sebelah kanan depan seghudung itu, seketika memecah obrolan. Sambil menatap lurus ke arah pohon kopi di lawang pepohonan sawit, jemari tangan kanannya, yang bertumpu di lutut kanan, menggenggam erat tali […]

Perempuan Petani Pino Raya
Live Bengkulu Oleh Alwin Feraro • 01/01/2026

Segenggam Padi Riun, Sejarah yang Nyaris Tenggelam di Sungai Lisai

Hasan Mukti menarik napas panjang, lalu melepaskannya perlahan. Sembari duduk bersila di atas karpet plastik merah, pandangannya lurus menatap pintu kayu yang terbuka lebar. Dari seberang rumah, terdengar deru pertemuan sungai Lisai dan Seblat yang mengalir tanpa henti. Beban yang menyesak di dadanya selama tiga tahun terakhir mulai meluruh. Bersama anggota Komunitas Adat Sungai Lisai, […]

Anggota Komunitas Adat Sungai Lisai
Live Bengkulu Oleh Alwin Feraro • 12/17/2025

Ketika Perempuan Menjaga Hidup di Kebun Kopi

Siti Hermi sama sekali tak pernah menduga. Keputusan dia dan suaminya, Depi, mengubah cara memperlakukan kebun kopi sekitar tahun 2007 berdampak fatal. Satu per satu sumber penghidupan di kebun kopi yang menjadi penopang hidup keluarganya perlahan hancur. “Khususnya cabai rawit, yang menjadi penopang utama keluarga saya untuk menjalani kehidupan sehari-hari, terutama sebelum musim panen kopi,” […]

Siti Hermi, Perempuan Petani Kopi
Live Bengkulu Oleh Alwin Feraro • 12/02/2025

Gerakan Membangun Kebun Kopi Tangguh Iklim Perlu Dimasifkan untuk Kurangi Risiko Bencana Hidrometeorologi

Gerakan perempuan petani kopi membangun Kebun Kopi Tangguh Iklim tak lagi sekadar dianggap relevan, melainkan mendesak untuk dimasifkan. Di tengah cuaca ekstrem yang kian sulit diprediksi akibat perubahan iklim, membangun Kebun Kopi Tangguh Iklim juga berarti mengurangi risiko bencana hidrometeorologi. “Justru harus dimasifkan,” kata Ketua Forum Daerah Aliran Sungai (DAS) Provinsi Bengkulu, M. Fajrin Hidayat, […]

Koppi Sakti Bengkulu menghidupkan kembali berbagai kearifan/praktik lokal dalam pengelolaan kebun kopi yang selaras dengan aksi mitigasi dan adaptasi perubahan iklim.

Non Governmental Organization

Catatan AMAN Bengkulu: Konflik Wilayah Adat Kian Meluas, Negara Dinilai Abai

BENGKULU – Sepanjang tahun 2025, persoalan konflik lahan antara komunitas masyarakat adat dan berbagai sektor usaha masih menjadi luka panjang di Provinsi Bengkulu. Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) mencatat ratusan ribu wilayah adat berada dalam tekanan akibat tumpang tindih klaim lahan dengan negara maupun korporasi. “Konflik wilayah adat ini menyebar di seluruh Provinsi Bengkulu, dan […]

12/29/2025
Menurut AMAN, konflik yang kerap bersentuhan dengan klaim kawasan hutan negara berakar dari praktik tata kelola yang tidak transparan sejak awal.

Tekanan Global Menguat terhadap Lambannya Proses Legislasi RUU Masyarakat Adat di Indonesia

Desakan pembahasan dan pengesahan Rancangan Undang-Undang (RUU) Masyarakat Adat terus menguat. Seruan resmi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Jenewa pada 6 November 2025 mendesak Pemerintah Indonesia segera memberikan perlindungan penuh terhadap masyarakat adat yang menghadapi kekerasan, kriminalisasi, dan ketidakpastian hukum atas wilayah adat dan hak kolektif mereka. Lebih dari 15 tahun RUU Masyarakat Adat masuk dalam […]

11/19/2025

Komunitas Adat Semende Ulu Nasal Dirikan Sekolah Adat Tunggu Tubang

BENGKULU – Komunitas adat Muara Dua, Semende Ulu Nasal di Kabupaten Kaur meresmikan Sekolah Adat pertama mereka pada Sabtu, 18 Oktober 2025. Sekolah hasil gotong royong dengan konstruksi kayu beratap kayu Sirap berukuran 11×6 meter ini, menyandang nama Tunggu Tubang sebagai identitas mereka. “Tunggu Tubang, itu konsep leluhur kami yang memandatkan harta pusaka keluarga untuk […]

10/18/2025
Komunitas adat Muara Dua, Semende Ulu Nasal di Kabupaten Kaur

Masyarakat Adat Enggano Minta Pemerintah Larang Budidaya Sawit

Seluruh komunitas adat Pulau Enggano meminta Pemerintah di Provinsi Bengkulu untuk memusnahkan seluruh tanaman sawit yang kini ada di Enggano. Menurut masyarakat, keberadaan sawit akan mengancam kelestarian pulau dan memicu perusakan hutan milik masyarakat adat. Milson Kaitora, Paabuki atau pimpinan Kepala Suku di Pulau Enggano mengatakan, saat ini di beberapa desa di Enggano sudah banyak […]

09/01/2025

Polres Kaur Bubarkan Massa Aksi yang Blokir Lahan Perkebunan Sawit

BENGKULU – Polres Kaur berhasil membubarkan massa aksi yang melakukan pemblokiran dan pendudukan lahan perkebunan sawit yang dikelola oleh PT. Dinamika Selaras Jaya (DSJ) di Divisi I dan Divisi IV. Massa aksi tersebut merupakan gabungan dari beberapa organisasi masyarakat, yaitu Forum Peduli Wilayah Kedurang Bengkulu Selatan (FPWKBS), Aliansi Selamatkan Bengkulu Selatan (ASBS), dan Gerakan Rakyat […]

07/16/2025

Tuntutan Warga Enggano Dijawab Presiden, AMAN: Terima Kasih

BENGKULU – Tuntutan warga Enggano atas solusi krisis di pulau itu akhirnya terjawab. Presiden Prabowo Subianto resmi menerbitkan instruksi presiden terkait upaya mempercepat pembangunan pulau terluar Indonesia di Provinsi Bengkulu, Pulau Enggano. “Terima kasih untuk ibu Rieke Diah Pitaloka, Komisi VI DPR yang sudah hadir ke Bengkulu dan mendorong komunikasinya ke Wakil Ketua DPR Sufmi […]

06/24/2025
Tuntutan Warga Enggano ini juga disampaikan lewat anggota DPR Rike Diah Pitaloka saat meninjau Pulau Baai

DPRD Sebut Penanganan Abrasi Bengkulu Harus Bertahap, Berbasis Prioritas Korban

Anggot DPRD Provinsi Bengkulu, Zainal mengatakan bahwa penanganan abrasi pesisir tidak dapat dilakukan secara sekaligus, melainkan harus bertahap sesuai kemampuan anggaran dan tingkat kerentanan wilayah. Hal ini disampaikan Zainal dalam dialog multipihak perlindungan masyarakat dan wilayah pesisir Bengkulu, yang digelar Genesis, Selasa 23 Juni 2026. Zainal menyebut, pemerintah selama ini tidak melakukan pembiaran pada korban […]

06/24/2026
Sumber : Dokumentasi Genesis Pemukiman Desa Air Padang Terdampak Abrasi

Genesis Bengkulu: 1.885 Bangunan di Bengkulu Terancam Abrasi

Yayasan Genesis Bengkulu mengungkap skala kehilangan daratan, ancaman terhadap pemukiman masyarakat, degradasi ekosistem pesisir, serta kewajiban hukum pemerintah dalam penanganan abrasi di Provinsi Bengkulu. Data ini disampaikan dalam Dokumen Kajian Darurat Abrasi Pesisir Provinsi Bengkulu. Berdasarkan data tersebut abrasi telah menghilangkan 712,81 hektare daratan pesisir yang tersebar di 109 desa pada tujuh kabupaten dan kota […]

06/24/2026
Sumber : Dokumentasi Genesis Pemukiman Kelurahan Belakang Gedung dipigir jurang abrasi

Imbas Kematian Gajah yang Berulang, Izin PT BAT dan PT API Sepatutnya Dievaluasi hingga Dicabut

Genesis mencermati pernyataan Menteri Kehutanan Indonesia, Raja Juli, terkait evaluasi Persetujuan Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH) PT Bentara Agra Timber (PT BAT) dan PT Anugerah Pratama Inspirasi (PT API) pasca berulangnya kematian Gajah Sumatera serta terus berlangsungnya tekanan terhadap hutan  Bentang Alam Seblat di Provinsi Bengkulu. Menurut Genesis, kondisi yang terjadi di dalam kawasan PBPH kedua […]

05/08/2026
Dua ekor gajah yang mati di kawasan Hutan Produksi di Kabupaten Mukomuko

Mati di Dalam Kawasan ‘Lestari’: Tragedi Gajah Sumatera di Hutan Produksi

Di sebuah lanskap yang seharusnya menjadi rumah terakhir bagi gajah Sumatera di Bengkulu, seekor induk dan anaknya ditemukan mati. Bukan di luar kawasan hutan, bukan di wilayah konflik terbuka dengan manusia, tetapi di dalam kawasan hutan produksi yang secara hukum seharusnya dikelola untuk keberlanjutan. Peristiwa ini terjadi di Hutan Produksi Air Teramang, dalam wilayah izin […]

05/01/2026
Dua ekor gajah yang mati di kawasan Hutan Produksi di Kabupaten Mukomuko

FPB Datangi DPRD Seluma, Soroti Mandeknya Penanganan Konflik Agraria dengan PT SIL

BENGKULU – Forum Petani Bersatu (FPB) Seluma mendatangi Kantor Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Seluma pada Senin, 9 Februari 2026. FPB datang menuntut DPRD Seluma untuk memfasilitasi penyelesaian konflik agraria yang telah berlangsung lebih dari satu dekade antara FPB dan PT Sandabi Indah Lestari (PT SIL). Kedatangan FPB disambut dalam sebuah audiensi yang dihadiri […]

02/09/2026

Komitmen vs Kenyataan: Genesis Bengkulu Beberkan Krisis Hutan Seblat

BENGKULU – Genesis Bengkulu menanggapi kunjungan Wakil Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (Wamen LHK) ke Bentang Alam Seblat yang menyatakan “pemerintah berkomitmen menyelamatkan habitat Gajah Sumatera” dengan merilis data lapangan yang menunjukkan fakta sebaliknya. Hutan alam di kantong populasi Seblat terus hilang setiap tahun, bahkan di dalam kawasan konservasi. “Komitmen tidak bisa diukur dari kunjungan […]

11/05/2025
Genesis Bengkulu

Kanopi Hijau: Pemerintah Biarkan Pencemaran Abu Batubara di 13 Lokasi Bengkulu

BENGKULU –  Kanopi Hijau Indonesia kembali mengungkap praktik pembuangan limbah abu batubara (Fly Ash Bottom Ash/FABA) oleh PT TLB secara sembarangan di luar area PLTU Teluk Sepang. Temuan ini menambah daftar lokasi pembuangan FABA di Bengkulu menjadi 13 titik. Lokasi tambahan yang ditemukan berada di Desa Padang Ulak Tanjung, Kecamatan Talang Empat, Kabupaten Bengkulu Tengah. […]

06/02/2025

Koalisi STuEB Laporkan 15 Kejahatan Lingkungan 8 PLTU Batu Bara di Sumatera

JAKARTA – Sebanyak 15 laporan dugaan kejahatan lingkungan dari delapan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) batubara di Pulau Sumatera resmi dilayangkan oleh koalisi masyarakat sipil kepada Direktorat Jenderal Penegakan Hukum Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Republik Indonesia. Laporan-laporan tersebut merupakan hasil pemantauan oleh Koalisi Sumatera Terang untuk Energi Bersih (STuEB), yang terdiri dari 15 […]

05/06/2025

Kanopi Hijau Indonesia dan AMAN Bengkulu Luncurkan Sekolah Energi Bersih Jilid 3

BENGKULU – Kanopi Hijau Indonesia (KHI) berkolaborasi dengan Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Bengkulu resmi meluncurkan program Sekolah Energi Bersih (SEB) Jilid 3. SEB menjadi ruang edukasi dan aksi nyata menuju transisi energi terbarukan, adil, dan berkelanjutan, dengan melibatkan generasi muda dan komunitas sebagai aktor utama. Ketua Kanopi Hijau Indonesia, Ali Akbar, mengatakan program SEB […]

04/26/2025

Sumatera Menolak Punah: Seruan Hari Bumi untuk Hentikan Energi Kotor

Hari Bumi bukan sekadar peringatan simbolik, ia adalah panggilan untuk bertindak. Di tengah krisis iklim yang semakin nyata, Sumatera berdiri di persimpangan: transisi energi atau perlahan punah di bawah bayang-bayang ketamakan. Pulau Sumatera, yang dulu dikenal sebagai rumah bagi hutan tropis lebat dan keanekaragaman hayati yang luar biasa, kini terancam oleh ekspansi energi kotor. Salah […]

04/24/2025
Seruan Hari Bumi

Warga Padang Kuas Kembali Datangi ESDM, Akui Hidup dalam Ketakutan

BENGKULU – Warga Desa Padang Kuas kembali mendatangi Dinas ESDM Provinsi Bengkulu untuk meminta pertanggungjawaban terhadap dampak Tower SUTT. Salah satu warga, Edi Purwono sebut bukan hanya ganti rugi, tapi minta hidup aman dan tidak ada lagi warga yang terdampak. “Warga mau minta hidup aman, tidak ada lagi fenomena yang menakutkan,” kata Edi, Jumat (11/04/2025). […]

04/11/2025

Gunungan Limbah PLTU Batubara Teluk Sepang Dibuang ke Area Pemukiman Warga

BENGKULU – Kanopi Hijau Indonesia (KHI) menyebut, pembuangan limbah fly ash dan bottom ash (FABA) dari PLTU batubara Teluk Sepang masih serampangan. Pembuangan itu dilakukan dengan cara dibagi-bagikan kepada warga menjadi tanah timbunan.

Berdasarkan monitoring yang dilakukan KHI, pada akhir Februari 2023 ditemukan tiga lokasi baru di sekitar permukiman warga, atau berada di luar area proyek […]

03/21/2025
Gunungan Limbah PLTU Batubara Teluk Sepang

“Belum Mati, Belum Akan Mundur”: Perempuan Petani Pino Raya Bertahan di Tengah Konflik Sawit

“Pedas padi dimakan kerau,” ujar Ilis. Ucapan janda empat anak kelahiran 1979 yang sedang berjongkok di atas potongan batang kayu sebesar betis orang dewasa di sebelah kanan depan seghudung itu, seketika memecah obrolan. Sambil menatap lurus ke arah pohon kopi di lawang pepohonan sawit, jemari tangan kanannya, yang bertumpu di lutut kanan, menggenggam erat tali […]

06/26/2026
Perempuan Petani Pino Raya

Segenggam Padi Riun, Sejarah yang Nyaris Tenggelam di Sungai Lisai

Hasan Mukti menarik napas panjang, lalu melepaskannya perlahan. Sembari duduk bersila di atas karpet plastik merah, pandangannya lurus menatap pintu kayu yang terbuka lebar. Dari seberang rumah, terdengar deru pertemuan sungai Lisai dan Seblat yang mengalir tanpa henti. Beban yang menyesak di dadanya selama tiga tahun terakhir mulai meluruh. Bersama anggota Komunitas Adat Sungai Lisai, […]

01/01/2026
Anggota Komunitas Adat Sungai Lisai

Ketika Perempuan Menjaga Hidup di Kebun Kopi

Siti Hermi sama sekali tak pernah menduga. Keputusan dia dan suaminya, Depi, mengubah cara memperlakukan kebun kopi sekitar tahun 2007 berdampak fatal. Satu per satu sumber penghidupan di kebun kopi yang menjadi penopang hidup keluarganya perlahan hancur. “Khususnya cabai rawit, yang menjadi penopang utama keluarga saya untuk menjalani kehidupan sehari-hari, terutama sebelum musim panen kopi,” […]

12/17/2025
Siti Hermi, Perempuan Petani Kopi

Gerakan Membangun Kebun Kopi Tangguh Iklim Perlu Dimasifkan untuk Kurangi Risiko Bencana Hidrometeorologi

Gerakan perempuan petani kopi membangun Kebun Kopi Tangguh Iklim tak lagi sekadar dianggap relevan, melainkan mendesak untuk dimasifkan. Di tengah cuaca ekstrem yang kian sulit diprediksi akibat perubahan iklim, membangun Kebun Kopi Tangguh Iklim juga berarti mengurangi risiko bencana hidrometeorologi. “Justru harus dimasifkan,” kata Ketua Forum Daerah Aliran Sungai (DAS) Provinsi Bengkulu, M. Fajrin Hidayat, […]

12/02/2025
Koppi Sakti Bengkulu menghidupkan kembali berbagai kearifan/praktik lokal dalam pengelolaan kebun kopi yang selaras dengan aksi mitigasi dan adaptasi perubahan iklim.

Pemda Dukung Perluasan Kebun Kopi Tangguh Iklim di Rejang Lebong

“Tentunya kami, Pemerintah Daerah Rejang Lebong, berterima kasih. Ibu-ibu telah mencetuskan solusi terhadap permasalahan keseharian yang dihadapi petani kopi saat ini,” kata Kepala Dinas Pertanian dan Perikanan Kabupaten Rejang Lebong Suradi, SP, M. Si saat berdiskusi dengan perwakilan Koalisi Perempuan Petani Kopi Desa Kopi Tangguh Iklim (Koppi Sakti) Bengkulu pada Selasa (11/11/25). Diskusi di ruang […]

11/21/2025
1. Perwakilan Koppi Sakti Bengkulu bersama Kepala Dinas Pertanian dan Perikanan Kabupaten Rejang Lebong, Suradi, SP, M. Si dan Kepala Bidang Perkebunan Dinas Pertanian dan Perikanan Kabupaten Rejang Lebong, Lince Malini, SP memegang poster Kebun Kopi Tangguh Iklim.

Lima Petani Pino Raya Ditembak Aparat Keamanan Perusahaan PT Agro Bengkulu Selatan

Ketegangan antara petani Pino Raya dan pihak PT Agro Bengkulu Selatan (PT ABS) berujung pada tindakan kekerasan bersenjata, menyebabkan empat orang petani tertembak dan satu orang lainnya mengalami luka serius pada Senin siang (24/11/2025). Peristiwa ini terekam dalam video warga dan memicu protes luas dari masyarakat. Insiden bermula sekitar pukul 10.00 WIB, ketika petani kembali […]

11/24/2025
Ilustrasi. AI Generated

Walhi Bengkulu Tolak Tambang Emas PT ESDM di Bukit Sanggul

BENGKULU – Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Bengkulu menolak keberadaan pertambangan emas dari PT Energi Swadaya Dinamika Muda (ESDM) di kawasan hutan Bukit Sanggul, Kabupaten Seluma. Direktur WALHI Bengkulu, Dodi Faisal sebut tambang tersebut berpotensi mempercepat perubahan iklim dan bencana ekologis di Provinsi Bengkulu. “Aktivitas pertambangan emas yang berlokasi di kawasan hutan Bukit Sanggul Kabupaten […]

05/03/2025
Walhi Bengkulu Tolak Tambang Emas PT ESDM di Bukit Sanggul

Walhi: Ekosistem Bengkulu Sekarang Tidak Baik

BENGKULU – Banyaknya persoalan ekosistem yang terancam di Provinsi Bengkulu, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Bengkulu mengajak kaum muda untuk sama-sama menyikapi dan merespon untuk kebaikan dan kesejahteraan masyarakat Bengkulu. Direktur Eksekutif WALHI Bengkulu, Dodi Faisal sebut semua harus bertindak. “Sebuah inisiatif dari walhi Bengkulu serta  dibantu oleh kawan-kawan NGO dimana ada masalah ekosistim yang […]

05/01/2025

Walhi Komentari Rencana Lelang Blok Potensi Batu Bara dari Kadis ESDM

BENGKULU – Direktur Wahana Lingkungan Hidup Indonesia  (WALHI) Daerah Bengkulu, Abdullah Ibrahim Rintonga mengomentari pernyataan Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Bengkulu tentang tiga blok potensi batu bara yang bakal dilelang. Menurutnya, pelelangan tersebut tidak boleh dilakukan secara sepihak lantaran ada hak-hak masyarakat di lokasi tersebut. “Ada hak-hak masyarakat lokal di sekitar […]

01/16/2025

Walhi Menduga Pembebasan Kawasan Hutan di Bengkulu untuk Kepentingan Politik

BENGKULU – Manajer Kampanye Hutan dan Perkebunan Eksekutif Nasional Walhi , Uli Arta Siagian mengungkapkan, usaha pelepasan kawasan hutan oleh Pemerintah Provinsi Bengkulu dalam revisi Perda No 2 Tahun 2012 bersifat transaksional. Uli menuding upaya ini merupakan bentuk transaksional antara elit politik untuk menunjang aktivitas pemilu dan pihak korporasi agar tidak melanggar saat mengesktrasi kawasan […]

02/02/2023

Walhi Sebut PT FBA Berusaha Hilangkan Bukti Aktivitas Tambang Pasir Besi

BENGKULU – Kadep Advokasi dan Program Walhi Bengkulu, Dodi Faisal menyebut saat ini PT Faminglevto Bakti Abadi (FBA) yang mengelola tambang pasir besi di Seluma berupaya menghilangkan bukti adanya aktivitas pertambangan. “Berdasarkan pemantauan di lapangan, tambang pasir besi yang diduga ilegal ini telah menimbun lubang tambang menggunakan alat berat dan juga akan mengangkut pasir keluar […]

07/06/2022

Artikel Terbaru Non-Governmental Organization