Seruan Hari Bumi

Sumatera Menolak Punah: Seruan Hari Bumi untuk Hentikan Energi Kotor

📅 Dipublikasikan: 04/24/2025• ✍️ Oleh: Alwin Feraro

Hari Bumi bukan sekadar peringatan simbolik, ia adalah panggilan untuk bertindak. Di tengah krisis iklim yang semakin nyata, Sumatera berdiri di persimpangan: transisi energi atau perlahan punah di bawah bayang-bayang ketamakan.

Pulau Sumatera, yang dulu dikenal sebagai rumah bagi hutan tropis lebat dan keanekaragaman hayati yang luar biasa, kini terancam oleh ekspansi energi kotor. Salah satu ancaman terbesar adalah sumber energi listrik di Sumatera yang didominasi oleh PLTU batubara, yang tidak hanya merusak lingkungan secara lokal, tetapi juga mempercepat krisis iklim secara global.

Emisi karbon, perusakan ekosistem, konflik lahan, serta dampak kesehatan masyarakat adalah harga mahal yang harus dibayar demi sumber energi yang usianya sudah seharusnya berakhir.

Tema “Sumatera Menolak Punah” yang diangkat pada Hari Bumi adalah bentuk penegasan sikap. Ini adalah seruan untuk melawan kebijakan yang tidak berpihak pada keberlanjutan hidup, menolak sumber energi yang mengorbankan generasi masa depan, dan memperjuangkan transisi energi bersih, adil, dan berkelanjutan.

Melalui rangkaian kegiatan Hari Bumi 2025 ini, kami dari Koalisi Sumatera Menolak Punah ingin menghadirkan ruang kolaborasi, edukasi, dan mobilisasi aksi yang menempatkan Sumatera sebagai barisan terdepan dalam perlawanan terhadap krisis iklim.

Berdasarkan hasil pemantauan terhadap sembilan PLTU batubara di Sumatera selama dua tahun terakhir — PLTU Nagan Raya Aceh, PLTU Pangkalan Susu Sumut, PLTU Ombilin Sumbar, PLTU Tenayan Raya Riau, PLTU Keban Agung Lahat, PLTU Sumsel 1, PLTU Teluk Sepang Bengkulu, PLTU Semaran Jambi, PLTU Sebalang dan Tarahan Lampung — ditemukan 47 pelanggaran pengelolaan lingkungan hidup.

Dari total temuan tersebut, 12 di antaranya telah dilaporkan ke penegak hukum di Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) RI. Namun, hal ini tidaklah cukup untuk mempercepat penghentian aktivitas PLTU batubara di Sumatera.

Sementara itu, rezim Prabowo saat ini semakin beringas dan terkesan membabi buta mendukung proyek-proyek batubara. Hilirisasi batubara dalam bentuk gas, dukungan terhadap eksploitasi nikel sebagai media pengganti minyak bumi, dan Danantara yang juga berpotensi mendukung gasifikasi batubara serta industri-industri turunannya adalah bentuk nyata bahwa rezim ini tidak berniat menjadikan Indonesia sebagai contoh baik transisi energi dunia.

Pembiayaan eksploitasi pada sumber daya alam seperti hilirisasi batubara merupakan kebijakan yang kontraproduktif dengan agenda transisi energi yang sedang dilakukan negara Indonesia.

Ali Akbar, Konsolidator Sumatera Terang untuk Energi Bersih (STuEB) yang juga merupakan Ketua Kanopi Hijau Indonesia, menyatakan, “Belum ada pergerakan yang signifikan dari negara untuk menjalankan agenda transisi energi. Yang muncul adalah strategi akal-akalan seperti co-firing, gasifikasi batubara, dan biomassa, yang semuanya bertujuan untuk melanggengkan batubara sebagai bahan bakar utama pembangkit listrik di Sumatera.”

Syukur dari Apel Green Aceh menyoroti bahwa pembakaran batubara di PLTU Nagan Raya selama ini telah menghasilkan abu pekat dan debu yang mengganggu kenyamanan serta kesehatan warga yang tinggal di sekitar wilayah operasional pembangkit.

Menurutnya, polusi yang dihasilkan bukan hanya sekadar mengganggu, tapi sudah sampai pada tahap mengancam keselamatan hidup masyarakat. Berdasarkan data, setidaknya 512 kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) dan 174 kasus penyakit kulit diyakini kuat berkaitan dengan polusi udara dari aktivitas PLTU.

“Untuk keselamatan rakyat, maka solusi terbaik cuma satu: pensiun dini PLTU 1C2 Nagan Raya. Pemerintah harus berani ambil langkah tegas demi menyelamatkan lingkungan dan masyarakat,” tutup Syukur.

Wilton Amos Panggabean dari YLBHI – Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Pekanbaru mengatakan, “Riau tanpa batubara merupakan langkah tepat mengatasi krisis iklim, karena keberadaan PLTU Tenayan Raya justru menambah derita bagi masyarakat Riau di tengah fenomena cuaca yang ekstrem.

Selain itu, nelayan di Okura juga terdampak karena tidak bisa lagi mengonsumsi air dari Sungai Siak. Tidak adanya komitmen pemerintah untuk menghentikan laju emisi karbon berdampak pada menurunnya kualitas hidup masyarakat Riau, khususnya bagi mereka yang tinggal di sekitar PLTU.”

Hardi Yuda dari Lembaga Tiga Beradik Jambi menambahkan bahwa kondisi Provinsi Jambi sangat mengkhawatirkan. Lubang-lubang bekas tambang batubara terbuka lebar tanpa reklamasi — ini adalah kejahatan lingkungan. Dana reklamasi yang seharusnya digunakan untuk pemulihan bekas tambang disalurkan entah ke mana.

Di Kabupaten Muaro Jambi, situs cagar budaya nasional terluas di Asia Tenggara terancam rusak akibat dikepung stockpile batubara. Sedangkan di Desa Semaran, Kabupaten Sarolangun, setiap hari masyarakat dihadapkan dengan polusi udara akibat PLTU Semaran yang dioperasikan PT Permata Prima Elektrindo. Tentunya masih banyak persoalan lainnya yang diakibatkan oleh pertambangan batubara di Provinsi Jambi. Hingga saat ini, dari persoalan tersebut belum terlihat adanya upaya pemerintah untuk memperbaiki kondisi tersebut; hal ini terkesan dibiarkan.

Sumiati Surbakti dari Yayasan Srikandi Lestari Sumatera Utara menjelaskan, pengurus negara ini sangat kecanduan dengan batubara, padahal sudah sangat jelas bahwa batubara itu sangat bermasalah dari hulu ke hilir, tapi tetap saja terus dipertahankan tanpa memikirkan penderitaan rakyat.

Sudah banyak yang menjadi korban, baik dari hulu ketika batubara diambil dari perut bumi hingga ketika batubara digunakan. “Wajar jika ada yang mengatakan kalau kita sebenarnya masih belum merdeka, cuma ganti tangan saja,” kata Sumiati yang akrab disapa Mimi.

Sumaindra dari LBH Lampung menambahkan, “Penyediaan energi oleh negara yang dihasilkan melalui energi fosil akan terus menimbulkan persoalan, dan setiap persoalan yang terjadi selalu rakyat yang terus menjadi korban. Energi kotor yang dihasilkan melalui PLTU sejauh ini dari hulu hingga hilir perlu dilihat sebagai upaya yang memperburuk lingkungan dan pelanggengan pelanggaran HAM.

Provinsi Lampung dengan pemenuhan energi listrik melalui PLTU — salah satunya PLTU Sebalang — telah memberikan dampak terhadap masyarakat, yang berakibat pada wilayah tangkap nelayan serta beberapa kasus sebelumnya mengenai akses jalan publik masyarakat.”

Ia menilai stockpile batubara yang menjamur di Lampung — yang diduga ilegal — memberikan dampak kesehatan kepada masyarakat di sekitaran Desa Sukaraja. Masyarakat banyak mengalami ISPA dan penyakit kulit akibat debu batubara yang dihasilkan dari stockpile.

Karena itu, penting mendorong dan memastikan negara untuk melakukan transisi energi yang bersih, adil, dan berkelanjutan sebagai upaya pemenuhan energi yang partisipatif dan berpihak kepada masyarakat.

Direktur LBH Padang, Diki Rafiqi, menegaskan bahwa, “Negara telah gagal memenuhi kewajiban dasarnya dalam menjamin hak asasi manusia. Warga di sekitar PLTU, khususnya di PLTU Ombilin dan PLTU Teluk Sirih di Sumatera Barat, dibiarkan tanpa perlindungan, meski hidup dalam bayang-bayang ancaman kesehatan dan keselamatan akibat aktivitas PLTU. Negara membiarkan rakyatnya bertaruh nyawa demi kelangsungan hidup sehari-hari.”

Sahwan dari Yayasan Anak Padi Lahat mengatakan, “Lahat, salah satu daerah penghasil terbesar batubara di Provinsi Sumatera Selatan, jelas sangat berdampak buruk terhadap lingkungan, di mana bentang alam yang sangat indah sekitar Bukit Serelo kini berubah menjadi lubang tambang yang besar. Bukan itu saja, saat musim hujan banjir selalu menghantui — bisa jadi ini dikarenakan menyempit atau mendangkalnya sungai akibat aktivitas pertambangan. Tidak sampai di situ saja, angkutan batubara yang hilir-mudik juga menyebabkan polusi udara yang mengganggu kesehatan. Di Lahat juga terdapat PLTU Keban Agung, dan di sekitar PLTU ini ada petani yang mengaku penghasilannya menurun sejak PLTU ini beroperasi.”

Boni dari Perwakilan Perkumpulan Sumsel Bersih mengatakan bahwa, “Dalam momentum peringatan Hari Bumi tanggal 22 April 2025 ini, pemerintah Sumatera Selatan seharusnya bisa mengambil langkah besar dalam menyelamatkan masyarakat dari bencana alam yang diakibatkan oleh kerusakan lingkungan. Sepanjang tahun 2024–2025, berbagai daerah di Provinsi Sumsel diterpa bencana alam mulai dari banjir hingga kebakaran hutan. Hal ini disebabkan kerusakan lingkungan.”

Ia menilai percepatan transisi energi yang adil dan berkelanjutan merupakan hal yang penting dilakukan oleh Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan guna memitigasi kerusakan lingkungan. Maka, seruan stop dan evaluasi pembangunan PLTU batubara baru di Provinsi Sumsel menjadi penting, karena setiap pembangunan PLTU dan tambang akan berbanding lurus dengan hilangnya lahan pertanian dan perkebunan yang menjadi sumber perekonomian masyarakat.

Sementara saat ini, bauran energi Provinsi Sumsel sebesar 24,14% telah melebihi target bauran energi nasional, dengan Energi Baru dan Terbarukan (EBT) yang terpasang saat ini sebesar 989,12 MW, maka seharusnya Sumsel dalam mewujudkan transisi energi harus berani mengajukan pengurangan PLTU batubara sebesar pembangkit EBT yang telah terpasang.

Arlan dari Perwakilan Koalisi Aksi Penyelamat Lingkungan (KAPL) menyampaikan bahwa, “Sungai Musi sebagai jantung perekonomian masyarakat harus segera diselamatkan dari dampak negatif keberadaan angkutan batubara dan stockpile batubara yang menyebabkan terjadinya pendangkalan dan tercemarnya Sungai Musi.

Di sisi lain, aktivitas angkutan batubara dan tambang batubara di Sumsel sangat meresahkan masyarakat — mulai dari rusaknya lingkungan, hilangnya mata pencaharian masyarakat, dan menurunnya kualitas kesehatan. Maka, layak dituntut untuk cabut izin dan tutup semua stockpile yang ada di sepanjang Sungai Musi serta evaluasi angkutan batubara di perairan Sungai Musi yang selama ini membawa bencana terhadap masyarakat di Provinsi Sumsel.”

Arlan, yang juga Koordinator Aksi “Sumatera Menolak Punah”, meminta kepada Gubernur Sumatera Selatan, Herman Deru, untuk berani memimpin atau menginisiasi percepatan pemensiunan PLTU batubara demi mewujudkan transisi energi yang adil dan berkelanjutan di Pulau Sumatera, melalui langkah koordinasi dan konsolidasi dengan para gubernur se-Sumatera.

Selain itu, ia mendesak Presiden Prabowo untuk mewujudkan proses pemulihan baik terhadap lingkungan maupun korban yang telah jatuh akibat investasi tambang batubara dan pembangkit energi fosil di Sumatera Selatan secara khusus dan Pulau Sumatera secara keseluruhan, serta segera mempercepat transisi energi untuk menghindari kerusakan yang lebih besar dan menghindari jatuhnya korban yang lebih banyak.

Sampai dengan rilis ini dinaikkan, di 7 PLTU batubara di Sumatera, sebanyak 4.920 jiwa sedang menanggung dampak polusi udara.

Bagikan Artikel:
Kanopi Oleh Alwin Feraro • 06/02/2025

Kanopi Hijau: Pemerintah Biarkan Pencemaran Abu Batubara di 13 Lokasi Bengkulu

BENGKULU –  Kanopi Hijau Indonesia kembali mengungkap praktik pembuangan limbah abu batubara (Fly Ash Bottom Ash/FABA) oleh PT TLB secara sembarangan di luar area PLTU Teluk Sepang. Temuan ini menambah daftar lokasi pembuangan FABA di Bengkulu menjadi 13 titik. Lokasi tambahan yang ditemukan berada di Desa Padang Ulak Tanjung, Kecamatan Talang Empat, Kabupaten Bengkulu Tengah. […]

Kanopi Oleh Alwin Feraro • 05/06/2025

Koalisi STuEB Laporkan 15 Kejahatan Lingkungan 8 PLTU Batu Bara di Sumatera

JAKARTA – Sebanyak 15 laporan dugaan kejahatan lingkungan dari delapan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) batubara di Pulau Sumatera resmi dilayangkan oleh koalisi masyarakat sipil kepada Direktorat Jenderal Penegakan Hukum Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Republik Indonesia. Laporan-laporan tersebut merupakan hasil pemantauan oleh Koalisi Sumatera Terang untuk Energi Bersih (STuEB), yang terdiri dari 15 […]

Kanopi Oleh Handi Handi • 04/26/2025

Kanopi Hijau Indonesia dan AMAN Bengkulu Luncurkan Sekolah Energi Bersih Jilid 3

BENGKULU – Kanopi Hijau Indonesia (KHI) berkolaborasi dengan Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Bengkulu resmi meluncurkan program Sekolah Energi Bersih (SEB) Jilid 3. SEB menjadi ruang edukasi dan aksi nyata menuju transisi energi terbarukan, adil, dan berkelanjutan, dengan melibatkan generasi muda dan komunitas sebagai aktor utama. Ketua Kanopi Hijau Indonesia, Ali Akbar, mengatakan program SEB […]

Kanopi Oleh Handi Handi • 04/11/2025

Warga Padang Kuas Kembali Datangi ESDM, Akui Hidup dalam Ketakutan

BENGKULU – Warga Desa Padang Kuas kembali mendatangi Dinas ESDM Provinsi Bengkulu untuk meminta pertanggungjawaban terhadap dampak Tower SUTT. Salah satu warga, Edi Purwono sebut bukan hanya ganti rugi, tapi minta hidup aman dan tidak ada lagi warga yang terdampak. “Warga mau minta hidup aman, tidak ada lagi fenomena yang menakutkan,” kata Edi, Jumat (11/04/2025). […]

Non Governmental Organization

Catatan AMAN Bengkulu: Konflik Wilayah Adat Kian Meluas, Negara Dinilai Abai

BENGKULU – Sepanjang tahun 2025, persoalan konflik lahan antara komunitas masyarakat adat dan berbagai sektor usaha masih menjadi luka panjang di Provinsi Bengkulu. Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) mencatat ratusan ribu wilayah adat berada dalam tekanan akibat tumpang tindih klaim lahan dengan negara maupun korporasi. “Konflik wilayah adat ini menyebar di seluruh Provinsi Bengkulu, dan […]

12/29/2025
Menurut AMAN, konflik yang kerap bersentuhan dengan klaim kawasan hutan negara berakar dari praktik tata kelola yang tidak transparan sejak awal.

Tekanan Global Menguat terhadap Lambannya Proses Legislasi RUU Masyarakat Adat di Indonesia

Desakan pembahasan dan pengesahan Rancangan Undang-Undang (RUU) Masyarakat Adat terus menguat. Seruan resmi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Jenewa pada 6 November 2025 mendesak Pemerintah Indonesia segera memberikan perlindungan penuh terhadap masyarakat adat yang menghadapi kekerasan, kriminalisasi, dan ketidakpastian hukum atas wilayah adat dan hak kolektif mereka. Lebih dari 15 tahun RUU Masyarakat Adat masuk dalam […]

11/19/2025

Komunitas Adat Semende Ulu Nasal Dirikan Sekolah Adat Tunggu Tubang

BENGKULU – Komunitas adat Muara Dua, Semende Ulu Nasal di Kabupaten Kaur meresmikan Sekolah Adat pertama mereka pada Sabtu, 18 Oktober 2025. Sekolah hasil gotong royong dengan konstruksi kayu beratap kayu Sirap berukuran 11×6 meter ini, menyandang nama Tunggu Tubang sebagai identitas mereka. “Tunggu Tubang, itu konsep leluhur kami yang memandatkan harta pusaka keluarga untuk […]

10/18/2025
Komunitas adat Muara Dua, Semende Ulu Nasal di Kabupaten Kaur

Masyarakat Adat Enggano Minta Pemerintah Larang Budidaya Sawit

Seluruh komunitas adat Pulau Enggano meminta Pemerintah di Provinsi Bengkulu untuk memusnahkan seluruh tanaman sawit yang kini ada di Enggano. Menurut masyarakat, keberadaan sawit akan mengancam kelestarian pulau dan memicu perusakan hutan milik masyarakat adat. Milson Kaitora, Paabuki atau pimpinan Kepala Suku di Pulau Enggano mengatakan, saat ini di beberapa desa di Enggano sudah banyak […]

09/01/2025

Polres Kaur Bubarkan Massa Aksi yang Blokir Lahan Perkebunan Sawit

BENGKULU – Polres Kaur berhasil membubarkan massa aksi yang melakukan pemblokiran dan pendudukan lahan perkebunan sawit yang dikelola oleh PT. Dinamika Selaras Jaya (DSJ) di Divisi I dan Divisi IV. Massa aksi tersebut merupakan gabungan dari beberapa organisasi masyarakat, yaitu Forum Peduli Wilayah Kedurang Bengkulu Selatan (FPWKBS), Aliansi Selamatkan Bengkulu Selatan (ASBS), dan Gerakan Rakyat […]

07/16/2025

Tuntutan Warga Enggano Dijawab Presiden, AMAN: Terima Kasih

BENGKULU – Tuntutan warga Enggano atas solusi krisis di pulau itu akhirnya terjawab. Presiden Prabowo Subianto resmi menerbitkan instruksi presiden terkait upaya mempercepat pembangunan pulau terluar Indonesia di Provinsi Bengkulu, Pulau Enggano. “Terima kasih untuk ibu Rieke Diah Pitaloka, Komisi VI DPR yang sudah hadir ke Bengkulu dan mendorong komunikasinya ke Wakil Ketua DPR Sufmi […]

06/24/2025
Tuntutan Warga Enggano ini juga disampaikan lewat anggota DPR Rike Diah Pitaloka saat meninjau Pulau Baai

DPRD Sebut Penanganan Abrasi Bengkulu Harus Bertahap, Berbasis Prioritas Korban

Anggot DPRD Provinsi Bengkulu, Zainal mengatakan bahwa penanganan abrasi pesisir tidak dapat dilakukan secara sekaligus, melainkan harus bertahap sesuai kemampuan anggaran dan tingkat kerentanan wilayah. Hal ini disampaikan Zainal dalam dialog multipihak perlindungan masyarakat dan wilayah pesisir Bengkulu, yang digelar Genesis, Selasa 23 Juni 2026. Zainal menyebut, pemerintah selama ini tidak melakukan pembiaran pada korban […]

06/24/2026
Sumber : Dokumentasi Genesis Pemukiman Desa Air Padang Terdampak Abrasi

Genesis Bengkulu: 1.885 Bangunan di Bengkulu Terancam Abrasi

Yayasan Genesis Bengkulu mengungkap skala kehilangan daratan, ancaman terhadap pemukiman masyarakat, degradasi ekosistem pesisir, serta kewajiban hukum pemerintah dalam penanganan abrasi di Provinsi Bengkulu. Data ini disampaikan dalam Dokumen Kajian Darurat Abrasi Pesisir Provinsi Bengkulu. Berdasarkan data tersebut abrasi telah menghilangkan 712,81 hektare daratan pesisir yang tersebar di 109 desa pada tujuh kabupaten dan kota […]

06/24/2026
Sumber : Dokumentasi Genesis Pemukiman Kelurahan Belakang Gedung dipigir jurang abrasi

Imbas Kematian Gajah yang Berulang, Izin PT BAT dan PT API Sepatutnya Dievaluasi hingga Dicabut

Genesis mencermati pernyataan Menteri Kehutanan Indonesia, Raja Juli, terkait evaluasi Persetujuan Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH) PT Bentara Agra Timber (PT BAT) dan PT Anugerah Pratama Inspirasi (PT API) pasca berulangnya kematian Gajah Sumatera serta terus berlangsungnya tekanan terhadap hutan  Bentang Alam Seblat di Provinsi Bengkulu. Menurut Genesis, kondisi yang terjadi di dalam kawasan PBPH kedua […]

05/08/2026
Dua ekor gajah yang mati di kawasan Hutan Produksi di Kabupaten Mukomuko

Mati di Dalam Kawasan ‘Lestari’: Tragedi Gajah Sumatera di Hutan Produksi

Di sebuah lanskap yang seharusnya menjadi rumah terakhir bagi gajah Sumatera di Bengkulu, seekor induk dan anaknya ditemukan mati. Bukan di luar kawasan hutan, bukan di wilayah konflik terbuka dengan manusia, tetapi di dalam kawasan hutan produksi yang secara hukum seharusnya dikelola untuk keberlanjutan. Peristiwa ini terjadi di Hutan Produksi Air Teramang, dalam wilayah izin […]

05/01/2026
Dua ekor gajah yang mati di kawasan Hutan Produksi di Kabupaten Mukomuko

FPB Datangi DPRD Seluma, Soroti Mandeknya Penanganan Konflik Agraria dengan PT SIL

BENGKULU – Forum Petani Bersatu (FPB) Seluma mendatangi Kantor Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Seluma pada Senin, 9 Februari 2026. FPB datang menuntut DPRD Seluma untuk memfasilitasi penyelesaian konflik agraria yang telah berlangsung lebih dari satu dekade antara FPB dan PT Sandabi Indah Lestari (PT SIL). Kedatangan FPB disambut dalam sebuah audiensi yang dihadiri […]

02/09/2026

Komitmen vs Kenyataan: Genesis Bengkulu Beberkan Krisis Hutan Seblat

BENGKULU – Genesis Bengkulu menanggapi kunjungan Wakil Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (Wamen LHK) ke Bentang Alam Seblat yang menyatakan “pemerintah berkomitmen menyelamatkan habitat Gajah Sumatera” dengan merilis data lapangan yang menunjukkan fakta sebaliknya. Hutan alam di kantong populasi Seblat terus hilang setiap tahun, bahkan di dalam kawasan konservasi. “Komitmen tidak bisa diukur dari kunjungan […]

11/05/2025
Genesis Bengkulu

Kanopi Hijau: Pemerintah Biarkan Pencemaran Abu Batubara di 13 Lokasi Bengkulu

BENGKULU –  Kanopi Hijau Indonesia kembali mengungkap praktik pembuangan limbah abu batubara (Fly Ash Bottom Ash/FABA) oleh PT TLB secara sembarangan di luar area PLTU Teluk Sepang. Temuan ini menambah daftar lokasi pembuangan FABA di Bengkulu menjadi 13 titik. Lokasi tambahan yang ditemukan berada di Desa Padang Ulak Tanjung, Kecamatan Talang Empat, Kabupaten Bengkulu Tengah. […]

06/02/2025

Koalisi STuEB Laporkan 15 Kejahatan Lingkungan 8 PLTU Batu Bara di Sumatera

JAKARTA – Sebanyak 15 laporan dugaan kejahatan lingkungan dari delapan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) batubara di Pulau Sumatera resmi dilayangkan oleh koalisi masyarakat sipil kepada Direktorat Jenderal Penegakan Hukum Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Republik Indonesia. Laporan-laporan tersebut merupakan hasil pemantauan oleh Koalisi Sumatera Terang untuk Energi Bersih (STuEB), yang terdiri dari 15 […]

05/06/2025

Kanopi Hijau Indonesia dan AMAN Bengkulu Luncurkan Sekolah Energi Bersih Jilid 3

BENGKULU – Kanopi Hijau Indonesia (KHI) berkolaborasi dengan Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Bengkulu resmi meluncurkan program Sekolah Energi Bersih (SEB) Jilid 3. SEB menjadi ruang edukasi dan aksi nyata menuju transisi energi terbarukan, adil, dan berkelanjutan, dengan melibatkan generasi muda dan komunitas sebagai aktor utama. Ketua Kanopi Hijau Indonesia, Ali Akbar, mengatakan program SEB […]

04/26/2025

Warga Padang Kuas Kembali Datangi ESDM, Akui Hidup dalam Ketakutan

BENGKULU – Warga Desa Padang Kuas kembali mendatangi Dinas ESDM Provinsi Bengkulu untuk meminta pertanggungjawaban terhadap dampak Tower SUTT. Salah satu warga, Edi Purwono sebut bukan hanya ganti rugi, tapi minta hidup aman dan tidak ada lagi warga yang terdampak. “Warga mau minta hidup aman, tidak ada lagi fenomena yang menakutkan,” kata Edi, Jumat (11/04/2025). […]

04/11/2025

Gunungan Limbah PLTU Batubara Teluk Sepang Dibuang ke Area Pemukiman Warga

BENGKULU – Kanopi Hijau Indonesia (KHI) menyebut, pembuangan limbah fly ash dan bottom ash (FABA) dari PLTU batubara Teluk Sepang masih serampangan. Pembuangan itu dilakukan dengan cara dibagi-bagikan kepada warga menjadi tanah timbunan.

Berdasarkan monitoring yang dilakukan KHI, pada akhir Februari 2023 ditemukan tiga lokasi baru di sekitar permukiman warga, atau berada di luar area proyek […]

03/21/2025
Gunungan Limbah PLTU Batubara Teluk Sepang

Pemeriksaan Dampak Operasi SUTT, Warga Padang Kuas Bengkulu Minta 3 Tower SUTT Dibongkar

BENGKULU – Melanjutkan pertemuan para pihak pada tanggal 27 Desember di Kantor ESDM Bengkulu tentang dampak operasi Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT), pada Selasa (7/1) dilaksanakan pemeriksaaan lapangan di permukiman warga Desa Padang Kuas, Kabupaten Seluma, Provinsi Bengkulu. Pemeriksaan yang dihadiri para pihak yaitu sekira 30 kepala keluarga (KK) warga korban SUTT, petugas Dinas Energi […]

01/08/2025

“Belum Mati, Belum Akan Mundur”: Perempuan Petani Pino Raya Bertahan di Tengah Konflik Sawit

“Pedas padi dimakan kerau,” ujar Ilis. Ucapan janda empat anak kelahiran 1979 yang sedang berjongkok di atas potongan batang kayu sebesar betis orang dewasa di sebelah kanan depan seghudung itu, seketika memecah obrolan. Sambil menatap lurus ke arah pohon kopi di lawang pepohonan sawit, jemari tangan kanannya, yang bertumpu di lutut kanan, menggenggam erat tali […]

06/26/2026
Perempuan Petani Pino Raya

Cerita Perempuan Petani Kopi Pulang ke Cara Leluhur

“Ada penyesalan,” kata Mardalena. Ucapannya seketika membuat perempuan petani kopi lainnya membisu. Seolah menunggu pekikan nyaring sesiar yang bersembunyi di pepohonan di kebun kopi mereda, ia pun ikut larut dalam kesunyian senja itu. Matanya menatap buku tulis bermotif batik dengan sulur dan bunga berwarna merah, cokelat, hijau dan kuning yang dipegangnya di depan kakinya yang […]

01/28/2026
Perempuan Petani Kopi Desa Kopi Tangguh Iklim (Koppi Sakti) Bengkulu di Desa Batu Ampar, Kabupaten Kepahiang.

Segenggam Padi Riun, Sejarah yang Nyaris Tenggelam di Sungai Lisai

Hasan Mukti menarik napas panjang, lalu melepaskannya perlahan. Sembari duduk bersila di atas karpet plastik merah, pandangannya lurus menatap pintu kayu yang terbuka lebar. Dari seberang rumah, terdengar deru pertemuan sungai Lisai dan Seblat yang mengalir tanpa henti. Beban yang menyesak di dadanya selama tiga tahun terakhir mulai meluruh. Bersama anggota Komunitas Adat Sungai Lisai, […]

01/01/2026
Anggota Komunitas Adat Sungai Lisai

Ketika Perempuan Menjaga Hidup di Kebun Kopi

Siti Hermi sama sekali tak pernah menduga. Keputusan dia dan suaminya, Depi, mengubah cara memperlakukan kebun kopi sekitar tahun 2007 berdampak fatal. Satu per satu sumber penghidupan di kebun kopi yang menjadi penopang hidup keluarganya perlahan hancur. “Khususnya cabai rawit, yang menjadi penopang utama keluarga saya untuk menjalani kehidupan sehari-hari, terutama sebelum musim panen kopi,” […]

12/17/2025
Siti Hermi, Perempuan Petani Kopi

Gerakan Membangun Kebun Kopi Tangguh Iklim Perlu Dimasifkan untuk Kurangi Risiko Bencana Hidrometeorologi

Gerakan perempuan petani kopi membangun Kebun Kopi Tangguh Iklim tak lagi sekadar dianggap relevan, melainkan mendesak untuk dimasifkan. Di tengah cuaca ekstrem yang kian sulit diprediksi akibat perubahan iklim, membangun Kebun Kopi Tangguh Iklim juga berarti mengurangi risiko bencana hidrometeorologi. “Justru harus dimasifkan,” kata Ketua Forum Daerah Aliran Sungai (DAS) Provinsi Bengkulu, M. Fajrin Hidayat, […]

12/02/2025
Koppi Sakti Bengkulu menghidupkan kembali berbagai kearifan/praktik lokal dalam pengelolaan kebun kopi yang selaras dengan aksi mitigasi dan adaptasi perubahan iklim.

Pemda Dukung Perluasan Kebun Kopi Tangguh Iklim di Rejang Lebong

“Tentunya kami, Pemerintah Daerah Rejang Lebong, berterima kasih. Ibu-ibu telah mencetuskan solusi terhadap permasalahan keseharian yang dihadapi petani kopi saat ini,” kata Kepala Dinas Pertanian dan Perikanan Kabupaten Rejang Lebong Suradi, SP, M. Si saat berdiskusi dengan perwakilan Koalisi Perempuan Petani Kopi Desa Kopi Tangguh Iklim (Koppi Sakti) Bengkulu pada Selasa (11/11/25). Diskusi di ruang […]

11/21/2025
1. Perwakilan Koppi Sakti Bengkulu bersama Kepala Dinas Pertanian dan Perikanan Kabupaten Rejang Lebong, Suradi, SP, M. Si dan Kepala Bidang Perkebunan Dinas Pertanian dan Perikanan Kabupaten Rejang Lebong, Lince Malini, SP memegang poster Kebun Kopi Tangguh Iklim.

Lima Petani Pino Raya Ditembak Aparat Keamanan Perusahaan PT Agro Bengkulu Selatan

Ketegangan antara petani Pino Raya dan pihak PT Agro Bengkulu Selatan (PT ABS) berujung pada tindakan kekerasan bersenjata, menyebabkan empat orang petani tertembak dan satu orang lainnya mengalami luka serius pada Senin siang (24/11/2025). Peristiwa ini terekam dalam video warga dan memicu protes luas dari masyarakat. Insiden bermula sekitar pukul 10.00 WIB, ketika petani kembali […]

11/24/2025
Ilustrasi. AI Generated

Walhi Bengkulu Tolak Tambang Emas PT ESDM di Bukit Sanggul

BENGKULU – Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Bengkulu menolak keberadaan pertambangan emas dari PT Energi Swadaya Dinamika Muda (ESDM) di kawasan hutan Bukit Sanggul, Kabupaten Seluma. Direktur WALHI Bengkulu, Dodi Faisal sebut tambang tersebut berpotensi mempercepat perubahan iklim dan bencana ekologis di Provinsi Bengkulu. “Aktivitas pertambangan emas yang berlokasi di kawasan hutan Bukit Sanggul Kabupaten […]

05/03/2025
Walhi Bengkulu Tolak Tambang Emas PT ESDM di Bukit Sanggul

Walhi: Ekosistem Bengkulu Sekarang Tidak Baik

BENGKULU – Banyaknya persoalan ekosistem yang terancam di Provinsi Bengkulu, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Bengkulu mengajak kaum muda untuk sama-sama menyikapi dan merespon untuk kebaikan dan kesejahteraan masyarakat Bengkulu. Direktur Eksekutif WALHI Bengkulu, Dodi Faisal sebut semua harus bertindak. “Sebuah inisiatif dari walhi Bengkulu serta  dibantu oleh kawan-kawan NGO dimana ada masalah ekosistim yang […]

05/01/2025

Walhi Komentari Rencana Lelang Blok Potensi Batu Bara dari Kadis ESDM

BENGKULU – Direktur Wahana Lingkungan Hidup Indonesia  (WALHI) Daerah Bengkulu, Abdullah Ibrahim Rintonga mengomentari pernyataan Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Bengkulu tentang tiga blok potensi batu bara yang bakal dilelang. Menurutnya, pelelangan tersebut tidak boleh dilakukan secara sepihak lantaran ada hak-hak masyarakat di lokasi tersebut. “Ada hak-hak masyarakat lokal di sekitar […]

01/16/2025

Walhi Menduga Pembebasan Kawasan Hutan di Bengkulu untuk Kepentingan Politik

BENGKULU – Manajer Kampanye Hutan dan Perkebunan Eksekutif Nasional Walhi , Uli Arta Siagian mengungkapkan, usaha pelepasan kawasan hutan oleh Pemerintah Provinsi Bengkulu dalam revisi Perda No 2 Tahun 2012 bersifat transaksional. Uli menuding upaya ini merupakan bentuk transaksional antara elit politik untuk menunjang aktivitas pemilu dan pihak korporasi agar tidak melanggar saat mengesktrasi kawasan […]

02/02/2023

Walhi Sebut PT FBA Berusaha Hilangkan Bukti Aktivitas Tambang Pasir Besi

BENGKULU – Kadep Advokasi dan Program Walhi Bengkulu, Dodi Faisal menyebut saat ini PT Faminglevto Bakti Abadi (FBA) yang mengelola tambang pasir besi di Seluma berupaya menghilangkan bukti adanya aktivitas pertambangan. “Berdasarkan pemantauan di lapangan, tambang pasir besi yang diduga ilegal ini telah menimbun lubang tambang menggunakan alat berat dan juga akan mengangkut pasir keluar […]

07/06/2022

Artikel Terbaru Non-Governmental Organization