Anggota Komunitas Adat Sungai Lisai

Segenggam Padi Riun, Sejarah yang Nyaris Tenggelam di Sungai Lisai

📅 Dipublikasikan: 01/01/2026• ✍️ Oleh: Alwin Feraro

Hasan Mukti menarik napas panjang, lalu melepaskannya perlahan. Sembari duduk bersila di atas karpet plastik merah, pandangannya lurus menatap pintu kayu yang terbuka lebar. Dari seberang rumah, terdengar deru pertemuan sungai Lisai dan Seblat yang mengalir tanpa henti.

Beban yang menyesak di dadanya selama tiga tahun terakhir mulai meluruh. Bersama anggota Komunitas Adat Sungai Lisai, ia telah bersepakat untuk menghadapi arus “kemajuan” yang perlahan menghanyutkan, bahkan nyaris menenggelamkan sejarah dan masa depan mereka.

“Alhamdulillah, akhirnya kami bersepakat untuk kembali menanam padi riun,” kata Hasan pada Jumat (26/12/2025) sore. “Kalau tidak salah ingat, kesepakatan itu diambil dalam rapat pada Agustus lalu,” sambung Hasan.

Sebelum bercerita lebih jauh, Ketua Komunitas Adat Sungai Lisai itu mempersilakan saya menyeduh kopi. Bubuk kopi dan gula pasir disediakan dalam kantong plastik terpisah di dalam stoples plastik putih, berdampingan dengan termos plastik merah muda yang berisi air panas beraroma pandan, dan gelas-gelas kaca bening berderet di atas nampan plastik hijau gelap.

Sore itu, saya bersama rombongan Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Bengkulu baru tiba di wilayah Komunitas Adat Sungai Lisai di Kabupaten Lebong, setelah menempuh perjalanan hampir enam jam melalui jalan setapak menembus hutan dan menyeberangi enam anak sungai dari Desa Seblat Ulu.

Saya berkesempatan mengunjungi Komunitas Adat Sungai Lisai karena diajak oleh Ketua Pengurus Harian Wilayah AMAN Bengkulu Fahmi Arisandi yang diundang untuk mengikuti Kenduri Padi Ngampar yang dilaksanakan Komunitas Adat Sungai Lisai pada keesokan harinya (Sabtu, 27/12/2025).

Pencarian Wilayah untuk Menanam Padi

“Sejarah wilayah Komunitas Adat Sungai Lisai tidak bisa lepas dari padi riun,” kata Hasan memulai kisah ketika diminta untuk menceritakannya. Sejarah itu berawal dari perjuangan lima warga Manderas (Madras), Jambi, termasuk dirinya, mencari wilayah yang cocok untuk menanam padi seperti yang dituliskan dalam tembo (dokumen sejarah) yang diwariskan oleh nenek moyang mereka.

“Dituliskan di tembo, ada dataran paling bagus untuk menanam padi, yaitu di dataran tanah Seblat dekat Air Batang Seblat di belakang Gunung Kayu Aro, yang berada di antara Muara Manderas dan Muara Aman,” ujar Hasan. Panjang tembo itu diperkirakan berkisar tujuh meter dengan lebar satu setengah meter, dan di dalamnya juga dituliskan sejarah Jambi dan Bengkulu.

Sekitar tahun 1963, sambung Hasan, mereka mulai melakukan perjalanan untuk mencari wilayah tersebut dengan membawa bekal makanan berupa beras sebanyak setengah kaleng per orang. Selama tujuh hari tujuh malam mereka menapakan kaki selangkah demi selangkah di lantai hutan belantara merayap naik ke Gunung Rindu Hati.

“Dilihat dari atas (Gunung Rindu Hati), Air Batang Seblat mengarah ke jalan. Dua hari di atas, kami turun. Turunnya di muara Air Putih, lalu menyeberang Air Putih, dan kemudian kami sampai di dataran ini. Lalu, kami tebas (buka hutan),” kata Hasan, yang kala itu masih remaja belasan tahun yang duduk di bangku kelas empat SR (Sekolah Rakyat).

Berbekal Segenggam Padi Riun

Setelah berhari-hari membuka hutan, mereka pulang. Mereka kembali mendatangi hutan yang telah dibuka, tidak lama setelah berakhirnya musim kemarau yang terjadi selama sembilan bulan. Selain membawa beras sebagai bekal makan, mereka juga membawa segenggam padi riun untuk dibenihkan. Setelah menebar benih, mereka pulang lagi ke Manderas.

“Sekitar sebulan kemudian, kami datang lagi untuk menanam bibit padi. Bibit padi yang kami tanam, kami pagar agar tidak dimakan hewan. Setelah menanam bibit padi, kami pulang lagi ke Manderas. Empat atau lima bulan kemudian, kami datang lagi ke sini dan melihat padi sudah siap untuk dipanen,” kata Hasan sambil menggosok gosokkan telapak tangan kanannya ke celana panjang hitam yang dipakainya.

Hasil panen padi yang ditanam dari segenggam padi itu berkisar dua setengah kaleng. Buah padi yang masih melengket di tangkai mereka simpan di bileak (lumbung padi) sementara sebagai bekal benih. Selanjutnya, mereka pulang ke Manderas dengan membawa tujuh tangkai padi untuk dikabarkan ke Pesirah bahwa mereka telah menemukan wilayah yang cocok untuk menanam padi.

Setelah itu, diadakan musyawarah yang dihadiri oleh 38 orang. “Dalam musyawarah itu, Pesirah menganjurkan siapa pun yang ingin membuka sawah baru, tanpa ditentukan orangnya dan tanpa batasan jumlah, dipersilakan untuk ikut kami ketika kami ke sini lagi,” kata Hasan menambahkan ketika ia hadir dalam musyawarah hanya sebagai pendengar, tidak ikut berbicara karena masih berusia muda.

Padi Riun Menjadi Warisan

Sekitar tahun 1965, Hasan bersama sekitar 40 orang warga Manderas datang kembali ke hutan yang telah dibuka. Mereka membuka sawah baru, menanam padi dengan menggunakan benih dari dua setengah kaleng padi riun hasil panen sebelumnya yang ditambah benih padi riun yang dibawa dari Manderas, dan mulai menetap.

Mereka lantas menamai wilayah tersebut dengan Sungai Lisai karena ada pohon Lisai besar yang tumbuh di pinggir sungai. “Pohon Lisai itu kemudian kami tebang dan kayunya kami gunakan untuk membangun langgar,” terang Hasan

Hingga kini, padi riun yang ditanam secara turun-temurun oleh warga yang menetap di wilayah Komunitas Adat Sungai Lisai adalah warisan padi riun yang ditanam pada 1963 dan 1965. “Jadi, jika menceritakan sejarah wilayah Komunitas Adat Sungai Lisai tidak boleh lepas dari sejarah pencarian wilayah untuk menanam padi riun,” kata Hasan.

Tersisa Hanya Seperempat Kaleng

Menjalankan kesepakatan untuk kembali menanam padi riun, sambung Hasan, mereka pun memeriksa satu per satu bileak untuk mencari padi riun tersisa yang mungkin masih memiliki daya hidup. Setelah mencermati tulisan arang di dinding bileak yang menandai tahun panen, hampir semua bileak menyimpan padi yang dipanen lebih dari sepuluh tahun lalu. Hanya dua bileak yang menyimpan padi riun yang dipanen sekitar lima tahun.

Setelah dikumpulkan, padi riun tersisa yang mungkin masih memiliki daya hidup dari dua bileak tersebut hanya berkisar seperempat kaleng. Oleh karena itu, langkah pertama untuk kembali menanam padi riun adalah memperbanyak benihnya terlebih dahulu.

Sawahnya dan sawah Dedi (anggota Komunitas Adat Sungai Lisai) menjadi lokasi penanaman bibit padi riun dari benih yang tersisa. “Dipilih karena masih ada lahan untuk menanam bibit padi riun,” ujar Hasan. Sementara lahan sawah lainnya sudah penuh ditanami padi pabrikan.

Sayangnya, tidak semua benih yang ditabur hidup. Begitu pula tidak semua bibit yang ditanam tumbuh dengan subur. Selain karena kondisi sebagian benih rusak akibat tidak dirawat, kesuburan lahan sawah juga sudah menurun akibat selalu disemprot cairan kimia untuk membunuh rerumputan ketika mulai mengelola lahan sawah lagi.

“Jadi, sepertinya padi hasil panennya belum memungkinkan untuk dibagikan sebagai benih kepada kawan-kawan. Harus diperbanyak lagi terlebih dahulu,” ujar Hasan sembari menggeser sedikit posisi duduknya.

Diawali Racun, Diikuti Peralihan Padi

Hasan tidak ingat kapan dia mulai “teracuni” untuk menggunakan cairan kimia untuk membunuh rerumputan di lahan sawah. Ia hanya ingat dirinya mulai menggunakannya karena beranggapan dapat mempermudah dan mempercepat pengelolaan awal sawah. Tidak disangka, kebiasaan meracun rumput perlahan memberikan dampak penurunan kesuburan tanah dan selanjutnya penurunan hasil panen.

“Jika sebelumnya hasil panen mencapai 250–300 kiding (karung), setelah menggunakan racun rumput, hasil panen yang diperoleh perlahan merosot hingga paling banyak 125 kiding,” ujar Hasan.

Penurunan hasil panen bukannya menggerakkan Hasan untuk menghentikan penggunaan racun rumput. Ia justru tergiur untuk beralih ke padi pabrikan, seperti yang telah lebih dulu dilakukan petani lain. Ia menduga padi pabrikan lebih cocok ditanam di lahan sawah yang rumputnya dibunuh dengan racun.

“Semua kawan-kawan sudah meninggalkan padi riun dan beralih ke padi lain yang biasa dijual di toko. Terpengaruh, saya ikut meninggalkan padi riun. Sekitar tahun 2018,” kata Hasan pelan, seperti menyembunyikan rasa penyesalannya.

Bukan hanya mengikuti anggapan bahwa padi pabrikan cocok ditanam di lahan sawah yang rumputnya dibunuh dengan racun, keputusannya beralih ke padi pabrikan juga disebabkan kelelahan yang dia dan istrinya alami dalam menghadapi hama dan penyakit padi.

Bila sebelumnya hanya menyerang padi pabrikan, namun perlahan mulai menyerang padi riun. “Kawan-kawan juga sudah terbiasa menggunakan racun hama dan penyakit, sehingga hama dan penyakit padi di sawah mereka berpindah ke padi di sawah saya, terutama setelah padi mereka dipanen,” kata Hasan.

Waktu, Tenaga dan Biaya Pun Bertambah

Tidak terpikirkan sebelumnya oleh Hasan ternyata beralih ke padi pabrikan justru membawa dampak baru. Ia dan istrinya harus mengerahkan tenaga lebih banyak dan menghabiskan waktu lebih lama saat menanam bibit padi pabrikan dibanding bibit padi riun.

“Dengan jarak seseto (dari ujung jari ke siku lengan) padi riun hanya ditanam di dua lubang, dan setiap lubang biasanya ditanam tiga batang bibit. Sementara padi pabrikan ditanam di empat lubang, dan setiap lubang ditanam lima hingga enam batang bibit,” kata Hasan sembari mengurut-urut bagian depan keningnya.

Perubahan pola tanam tersebut membuat Hasan dan istrinya harus menyiapkan lebih banyak benih. Biasanya Hasan dan istrinya hanya menyiapkan benih sebanyak setengah kaleng padi riun, setelah beralih ke padi pabrikan harus menyiapkan benih sebanyak enam kaleng.

Bibit padi pabrikan juga membutuhkan lebih banyak pupuk dan perlu disemprot racun hama dan penyakit. Selain menambah waktu dan tenaga, ia dan istrinya juga menghadapi tambahan pengeluaran. “Dulu, kalau menanam padi riun tidak perlu beli benih, pupuk maupun racun hama dan penyakit,” kata Hasan.

Panen Lebih Cepat, Hasil Lebih Sedikit

Dibanding padi riun, Hasan mengakui, masa tanam hingga panen padi pabrikan lebih cepat. Jika padi riun dipanen saat berumur lima atau enam bulan, padi pabrikan sudah bisa dipanen saat berumur tiga atau empat bulan

Akan tetapi, hasil panen yang diperoleh cukup terpaut jauh. “Dari pengalaman saya, hasil panen padi pabrikan tidak sampai 100 kiding, sedangkan padi riun, khususnya dulu, bisa mencapai 300 kiding,” kata Hasan.

Perbedaan hasil panen tersebut disebabkan jumlah batang padi per lubang, jumlah tangkai per batang, dan jumlah bulir padi per tangkai. Jika padi riun dapat berkembang hingga 60 batang di setiap lubang, padi pabrikan hanya berkisar 20 – 30 batang.

“Saya pernah membandingkan bulir padi riun dan pabrikan dengan menumpuknya. Tumpukan bulir padi riun dari tiga tangkai lebih banyak dibanding padi pabrikan yang juga diambil dari tiga tangkai. Menurut perkiraan saya, hasilnya baru akan sama jika padi pabrikan ditambah satu tangkai lagi,” kata Hasan.

Dulu Dibeli, Kini Membeli

Hasan juga pernah membandingkan jumlah beras yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan makan. Untuk satu keluarga beranggotakan empat orang, beras padi riun yang dibutuhkan lebih sedikit dibanding beras padi pabrikan.

“Satu setengah cibuk (canting) padi riun cukup untuk makan pagi dan siang, sedangkan dua cibuk padi pabrikan hanya cukup untuk makan pagi,” ujar Hasan sembari berdiri tegak, berjalan ke dinding kayu, mencolokkan kabel listrik untuk menyalakan lampu yang dialiri listrik dari dinamo, dan kembali duduk bersila.

Oleh karena itu, Hasan sangat khawatir bila upaya menanam kembali padi riun tidak dilakukan dapat memicu krisis pangan ke depannya. “Dulu, sebelum kami menanam padi pabrikan, banyak orang datang ke sini untuk membeli beras. Setelah kami menanam padi pabrikan, justru kami yang membeli beras dari luar,” kata Hasan.

Hasan pun menambahkan, “Saya khawatir jika padi riun tidak ditanam lagi dan tidak dilestarikan, anak dan cucu kami nanti bisa kesulitan mendapatkan beras dan hidup sengsara.” Setelah sempat membatu sesaat, Hasan seketika beranjak mengambil air wudhu, menggunakan peci, dan menunaikan ibadah salat Maghrib di ruang salat di depan kamar tidurnya.

Nabuh Benas

Sabtu (27/12/2025) siang, saya juga berkesempatan mengikuti Kenduri Padi Ngampar yang dilaksanakan di hamparan sawah yang ditempuh hampir satu jam dengan berjalan kaki dari kampung Sungai Lisai.

Sekembalinya, saya diajak Datuk Hasan, demikian dia biasa dipanggil, untuk mendengarkan cerita tentang prosesi “adat” bertanam padi riun. Seperti hari sebelumnya, Hasan duduk bersila di atas karpet plastik merah di lantai rumahnya dan mempersilakan saya untuk menyeduh kopi terlebih dahulu.

“Prosesi menanam padi riun diawali dengan Kenduri Nabuh Benas (Menabur Benih),” kata Hasan memulai cerita. Prosesinya tidak jauh berbeda dengan Kenduri Padi Ngampar. Diawali dengan Tetua Adat menyampaikan “suara” para pemilik sawah yang akan memulai tahapan menanam padi, yang dilanjutkan dengan Ninik Mamak memberikan tanggapan.

Setelah itu, empat orang peserta kenduri secara bersamaan mengumandangkan adzan di empat sudut atau ujung kenduri. “Empat penjuru. Allah itu memberikan umat-Nya berupa langkah, rezeki, pertemuan, dan maut. Ini kan empat. Jadi, yang empat penjuru itu, maksudnya langkah ada, rezeki ada, pertemuan ada, dan maut ada,” terang Hasan.

Setelah mengumandangkan adzan di empat penjuru, prosesi dilanjutkan dengan membaca Surat Yasin secara bersama-sama untuk meminta berkah Surat Yasin dari Allah SWT, dan dilanjutkan berdoa bersama yang kembali meminta kelancaran rezeki, keselamatan, panjang umur, dan dijauhkan dari mara bahaya, lalu ditutup dengan makan siang bersama serta menyeruput kopi atau teh.

Tebas Rumput, Pelihara Air

Biasanya, sambung Hasan, sekitar dua atau tiga bulan sebelum Kenduri Nabuh Benas dilaksanakan, para pemilik sawah sudah menyiapkan lahan sawah. Penyiapannya dilakukan dengan menebas rerumputan yang tumbuh di lahan, dan membiarkan saja rerumputan hasil tebasan agar bisa membusuk bersama batang dan daun padi yang telah lebih dulu mati sendiri.

“Setelah menebas rerumputan, pemilik sawah mulai mengaliri air agar menggenangi lahan sawah. Lalu, air dipelihara (dijaga) agar lahan sawah tidak mengering. Baru nanti, beberapa hari sebelum menanam, sisa batang padi yang belum membusuk dipindahkan dan disusun bertingkat-tingkat di pinggir-pinggir pematang sawah. Nantinya, batang padi itu akan membusuk dengan sendiri,” kata Hasan.

Setelah Kenduri Nabuh Benas dilaksanakan, Hasan melanjutkan, para pemilik sawah akan menabur benih. Sebelum menabur benih di lahan atau tempat yang diperuntukkan khusus untuk pembenihan, pemilik sawah biasanya merendam benih ke air selama dua atau tiga hari. Setelah itu, pemilik sawah akan menabur benih ke tempat pembenihan.

Antar Anak Padi

Ketika bibit sudah berumur satu bulan sepuluh hari atau tinggi bibit sekitar seseto dan daunnya berjumlah sekitar lima atau enam lembar, pemilik sawah akan memanggil “dukun” untuk meminta bantuan mengantarkan bibit padi ke lahan sawah. Dalam prosesi tersebut, “dukun” akan menanam bibit di tujuh lubang.

“Padi itu kan turunnya dari surga, sewaktu padi turun, ada yang mengantar. Jadi, kalau kita mau nanam, kita panggil ‘dukun’ untuk minta bantuan mengantar anak padi. ‘Dukun’ akan menanam bibit padi tujuh rumpun di tujuh lubang. Padi yang turun dari surga itu ada tujuh bangsa atau tujuh macam,” terang Hasan.

Setelah prosesi mengantar anak padi, petani baru diperkenankan untuk menanam bibit padi lainnya. “Kirak (nanam). Setelah semua bibit ditanam, dibiarkan saja, hanya pelihara air agar lahan sawah tidak kekeringan. Setengah bulan setelah ditanam, biasanya tumbuh rumput di lahan sawah, dan rumput tersebut perlu disiangi atau dibersihkan,” kata Hasan.

Setelah bibit berumur sekitar satu bulan, mulai muncul anakan padi dari pangkal batang utama. Secara perlahan anakan padi yang tumbuh semakin banyak, sehingga merumpun. Masa munculnya anakan padi dikenal dengan istilah ngambik anak. “Saat padi sedang ngambik anak, air harus dijaga agar lahan sawah tidak mengering,” kata Hasan.

Bunting Kecik dan Besak

Setelah selesai merumpun atau sekitar tiga bulan setelah ditanam, batang padi bagian paling atas akan membulat atau dikenal dengan istilah bunting kecik karena akan keluar tangkai beserta bunga-bunga padi. Setelah bunga mengalami penyerbukan, bunga membentuk biji atau bulir yang perlahan isinya memadat sehingga dikenal dengan istilah bunting besak.

Jika tangkai dengan bunga-bunga padi keluar baru dari satu rumpun batang disebut ngampar serumpun, dan jika semua batang padi sudah mengeluarkan tangkai dengan bunga-bunganya disebut ngampar merato. Secara bertahap masing-masing bunga akan mengalami penyerbukan dan membentuk bulir yang isinya akan mengeras dan perlahan menguning.

Jemput Induk Padi

Setelah Kenduri Padi Ngampar dilaksanakan, pemilik sawah menunggu semua buah padi menguning untuk dipanen. Sebelum memanen, pemilik sawah akan memanggil lagi “dukun” untuk meminta bantuan menjemput induk padi. “‘Dukun’ akan mengambil tujuh gagang (tangkai) padi yang diikat dengan benang putih dan hitam, lalu dibawa ke bileak untuk disimpan. Kapan induk padi dijemput, itulah yang ditulis pemilik sawah di dinding bileak. Biasanya ditulis dengan arang,” ujar Hasan.

Masak Perdana Beras

Setelah proses menjemput induk padi dilakukan, pemilik sawah mulai memanen padi. Setelah diolah hingga menjadi beras, pemilik sawah akan memanggil lagi “dukun” untuk minta bantu memasak beras. “Masak perdana atau yang pertama kali. Setelah beras masak atau sudah menjadi nasi, ‘dukun’ akan membungkus dan memberikannya ke pemilik sawah. Setelah nasi diberikan oleh ‘dukun’, istilahnya, barulah semua beras sah dimiliki oleh pemilik sawah,” kata Hasan sembari menambahkan usai panen juga dilakukan kenduri, yang biasanya dilakukan setelah lebaran.

Desa Sungai Lisai

Desa Sungai Lisai

Terjebak Belasan Tahun

Malam harinya (Sabtu, 26/12/2025), saya berkesempatan menepati janji untuk mengunjungi seorang tokoh Komunitas Adat Sungai Lisai, Riduan Hamit di rumahnya. Saat saya tiba, ternyata Riduan sudah menunggu di ruang tengah sambil duduk bersila di tikar plastik berwarna-warni. Setelah mempersilakan saya duduk dan menyajikan segelas kopi panas, Riduan mulai bercerita.

“Saya mulai nyawah (bersawah) tahun 2010, awalnya menanam padi riun. Tahun 2011, saya coba-coba tanam padi IR (padi pabrikan), setengah padi riun, setengahnya lagi padi IR. Lalu, tahun 2012, kembali tanam padi riun. Selanjutnya, sejak tahun 2013 hingga sekarang, saya belum pernah menanam padi riun lagi,” kata Riduan.

Hindari Satu, Malah Dikeroyok

Selain masa tanam lebih lama, Riduan meninggalkan padi riun karena pernah kerepotan mengatasi hama babi pada tahun 2012. “Saking banyaknya hama babi, kami membuat jembatan bambu dari pematang ke pematang sawah agar bisa berpatroli dari atas batang padi dan mengusir babi. Jadi, sejak saat itu (tahun 2012), saya dan teman-teman mulai meninggalkan padi riun,” kata Riduan.

Namun, keputusan mereka meninggalkan padi riun ternyata menimbulkan masalah baru. Pada tahun 2013, sawah para petani mulai diserang hama tikus. “Mungkin karena batang dan tangkai padi pabrikan lebih rendah, tikus lebih mudah menyerang. Padi riun lebih tinggi, bahkan bisa lebih tinggi dari manusia, sehingga tikus agak kesulitan. Selain itu, batang padi pabrikan mungkin lebih manis dibanding batang padi riun, sehingga lebih disukai tikus,” ujar Riduan yang juga Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD).

Kendati mulai dihadapkan pada hama tikus, Riduan tetap menanam padi pabrikan. “Jika saya kembali menanam padi riun setelah diserang hama tikus, saya khawatir sawah saya akan lebih sering diserang, karena musim panennya lebih lambat dibanding padi pabrikan. Teman-teman juga masih tetap menanam padi pabrikan,” kata Riduan.

Apalagi, sambung Riduan, hama lainnya seperti burung pipit, belalang, ulat dan wereng juga mulai menyerang. “Sejak padi riun tidak ditanam, hama semakin banyak, begitu pula penyakit yang menyerang padi. Jauh berbeda saat sawah ditanam padi riun, nyaris tidak ada hama dan penyakit,” tambah Riduan sembari mempersilakan saya untuk menyeruput kopi yang disajikan.

Benih, Pupuk, Racun, dan Akhirnya Beras

Dengan tetap menanam padi pabrikan, daftar belanja Riduan setiap musim tanam menjadi panjang. “Awal mengelola lahan, perlu racun rumput. Benih juga harus dipupuk dan disemprot racun hama dan penyakit. Setelah ditanam, pupuk juga harus diberikan, minimal dua kali.

Jika ingin hasil panen memuaskan, perlu tambahan pupuk, sehingga menjadi tiga kali. Belum lagi racun hama dan penyakit untuk bibit yang sudah ditanam di lahan sawah. Semuanya harus dibeli,” ujar Riduan sembari mengangkat bahunya pelan.

Namun, membengkaknya pengeluaran tersebut tidak sebanding dengan hasil panen. Untuk sebidang sawah yang dikelolanya, Riduan pernah memperoleh 80 kiding padi riun, sementara hasil panen padi pabrikan paling banyak mencapai 50 kiding. Akibatnya, ia juga harus merogoh kantongnya untuk membeli beras guna mencukupi kebutuhan makan keluarganya.

“Padi riun, hasil panennya cukup untuk satu tahun, bisa sampai ke musim panen berikutnya. Kalau padi pabrikan tidak cukup untuk satu tahun, jadi harus membeli beras,” kata Riduan sembari tersenyum tipis, lalu menambahkan, “Meskipun ukuran bulir padi riun dan padi pabrikan sama, namun beras padi riun lebih mengembang saat dimasak, lebih cepat membuat kenyang, tidak cepat membuat lapar, memberikan lebih banyak tenaga, dan lebih tahan lama atau tidak mudah basi.”

Sungai Lisai Bisa Menjadi Lumbung Padi

Oleh karena itu, bagi Riduan, langkah kembali menanam padi riun sangat penting. “Musim tanam ke depan, kami sudah bersepakat untuk kembali menanam padi riun. Jika sekitar 30 persen saja petani kembali menanam padi riun, kemungkinan musim tanam berikutnya petani lainnya juga akan kembali menanam padi riun,” kata Riduan, sambil menambahkan, “Jika semua petani sudah kembali menanam padi riun, bukan tidak mungkin Sungai Lisai bisa menjadi lumbung padi.”

Bagikan Artikel:
Live Bengkulu Oleh Alwin Feraro • 06/26/2026

“Belum Mati, Belum Akan Mundur”: Perempuan Petani Pino Raya Bertahan di Tengah Konflik Sawit

“Pedas padi dimakan kerau,” ujar Ilis. Ucapan janda empat anak kelahiran 1979 yang sedang berjongkok di atas potongan batang kayu sebesar betis orang dewasa di sebelah kanan depan seghudung itu, seketika memecah obrolan. Sambil menatap lurus ke arah pohon kopi di lawang pepohonan sawit, jemari tangan kanannya, yang bertumpu di lutut kanan, menggenggam erat tali […]

Perempuan Petani Pino Raya
Live Bengkulu Oleh Alwin Feraro • 01/28/2026

Cerita Perempuan Petani Kopi Pulang ke Cara Leluhur

“Ada penyesalan,” kata Mardalena. Ucapannya seketika membuat perempuan petani kopi lainnya membisu. Seolah menunggu pekikan nyaring sesiar yang bersembunyi di pepohonan di kebun kopi mereda, ia pun ikut larut dalam kesunyian senja itu. Matanya menatap buku tulis bermotif batik dengan sulur dan bunga berwarna merah, cokelat, hijau dan kuning yang dipegangnya di depan kakinya yang […]

Perempuan Petani Kopi Desa Kopi Tangguh Iklim (Koppi Sakti) Bengkulu di Desa Batu Ampar, Kabupaten Kepahiang.
Live Bengkulu Oleh Alwin Feraro • 12/17/2025

Ketika Perempuan Menjaga Hidup di Kebun Kopi

Siti Hermi sama sekali tak pernah menduga. Keputusan dia dan suaminya, Depi, mengubah cara memperlakukan kebun kopi sekitar tahun 2007 berdampak fatal. Satu per satu sumber penghidupan di kebun kopi yang menjadi penopang hidup keluarganya perlahan hancur. “Khususnya cabai rawit, yang menjadi penopang utama keluarga saya untuk menjalani kehidupan sehari-hari, terutama sebelum musim panen kopi,” […]

Siti Hermi, Perempuan Petani Kopi
Live Bengkulu Oleh Alwin Feraro • 12/02/2025

Gerakan Membangun Kebun Kopi Tangguh Iklim Perlu Dimasifkan untuk Kurangi Risiko Bencana Hidrometeorologi

Gerakan perempuan petani kopi membangun Kebun Kopi Tangguh Iklim tak lagi sekadar dianggap relevan, melainkan mendesak untuk dimasifkan. Di tengah cuaca ekstrem yang kian sulit diprediksi akibat perubahan iklim, membangun Kebun Kopi Tangguh Iklim juga berarti mengurangi risiko bencana hidrometeorologi. “Justru harus dimasifkan,” kata Ketua Forum Daerah Aliran Sungai (DAS) Provinsi Bengkulu, M. Fajrin Hidayat, […]

Koppi Sakti Bengkulu menghidupkan kembali berbagai kearifan/praktik lokal dalam pengelolaan kebun kopi yang selaras dengan aksi mitigasi dan adaptasi perubahan iklim.

Non Governmental Organization

Catatan AMAN Bengkulu: Konflik Wilayah Adat Kian Meluas, Negara Dinilai Abai

BENGKULU – Sepanjang tahun 2025, persoalan konflik lahan antara komunitas masyarakat adat dan berbagai sektor usaha masih menjadi luka panjang di Provinsi Bengkulu. Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) mencatat ratusan ribu wilayah adat berada dalam tekanan akibat tumpang tindih klaim lahan dengan negara maupun korporasi. “Konflik wilayah adat ini menyebar di seluruh Provinsi Bengkulu, dan […]

12/29/2025
Menurut AMAN, konflik yang kerap bersentuhan dengan klaim kawasan hutan negara berakar dari praktik tata kelola yang tidak transparan sejak awal.

Tekanan Global Menguat terhadap Lambannya Proses Legislasi RUU Masyarakat Adat di Indonesia

Desakan pembahasan dan pengesahan Rancangan Undang-Undang (RUU) Masyarakat Adat terus menguat. Seruan resmi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Jenewa pada 6 November 2025 mendesak Pemerintah Indonesia segera memberikan perlindungan penuh terhadap masyarakat adat yang menghadapi kekerasan, kriminalisasi, dan ketidakpastian hukum atas wilayah adat dan hak kolektif mereka. Lebih dari 15 tahun RUU Masyarakat Adat masuk dalam […]

11/19/2025

Komunitas Adat Semende Ulu Nasal Dirikan Sekolah Adat Tunggu Tubang

BENGKULU – Komunitas adat Muara Dua, Semende Ulu Nasal di Kabupaten Kaur meresmikan Sekolah Adat pertama mereka pada Sabtu, 18 Oktober 2025. Sekolah hasil gotong royong dengan konstruksi kayu beratap kayu Sirap berukuran 11×6 meter ini, menyandang nama Tunggu Tubang sebagai identitas mereka. “Tunggu Tubang, itu konsep leluhur kami yang memandatkan harta pusaka keluarga untuk […]

10/18/2025
Komunitas adat Muara Dua, Semende Ulu Nasal di Kabupaten Kaur

Masyarakat Adat Enggano Minta Pemerintah Larang Budidaya Sawit

Seluruh komunitas adat Pulau Enggano meminta Pemerintah di Provinsi Bengkulu untuk memusnahkan seluruh tanaman sawit yang kini ada di Enggano. Menurut masyarakat, keberadaan sawit akan mengancam kelestarian pulau dan memicu perusakan hutan milik masyarakat adat. Milson Kaitora, Paabuki atau pimpinan Kepala Suku di Pulau Enggano mengatakan, saat ini di beberapa desa di Enggano sudah banyak […]

09/01/2025

Polres Kaur Bubarkan Massa Aksi yang Blokir Lahan Perkebunan Sawit

BENGKULU – Polres Kaur berhasil membubarkan massa aksi yang melakukan pemblokiran dan pendudukan lahan perkebunan sawit yang dikelola oleh PT. Dinamika Selaras Jaya (DSJ) di Divisi I dan Divisi IV. Massa aksi tersebut merupakan gabungan dari beberapa organisasi masyarakat, yaitu Forum Peduli Wilayah Kedurang Bengkulu Selatan (FPWKBS), Aliansi Selamatkan Bengkulu Selatan (ASBS), dan Gerakan Rakyat […]

07/16/2025

Tuntutan Warga Enggano Dijawab Presiden, AMAN: Terima Kasih

BENGKULU – Tuntutan warga Enggano atas solusi krisis di pulau itu akhirnya terjawab. Presiden Prabowo Subianto resmi menerbitkan instruksi presiden terkait upaya mempercepat pembangunan pulau terluar Indonesia di Provinsi Bengkulu, Pulau Enggano. “Terima kasih untuk ibu Rieke Diah Pitaloka, Komisi VI DPR yang sudah hadir ke Bengkulu dan mendorong komunikasinya ke Wakil Ketua DPR Sufmi […]

06/24/2025
Tuntutan Warga Enggano ini juga disampaikan lewat anggota DPR Rike Diah Pitaloka saat meninjau Pulau Baai

DPRD Sebut Penanganan Abrasi Bengkulu Harus Bertahap, Berbasis Prioritas Korban

Anggot DPRD Provinsi Bengkulu, Zainal mengatakan bahwa penanganan abrasi pesisir tidak dapat dilakukan secara sekaligus, melainkan harus bertahap sesuai kemampuan anggaran dan tingkat kerentanan wilayah. Hal ini disampaikan Zainal dalam dialog multipihak perlindungan masyarakat dan wilayah pesisir Bengkulu, yang digelar Genesis, Selasa 23 Juni 2026. Zainal menyebut, pemerintah selama ini tidak melakukan pembiaran pada korban […]

06/24/2026
Sumber : Dokumentasi Genesis Pemukiman Desa Air Padang Terdampak Abrasi

Genesis Bengkulu: 1.885 Bangunan di Bengkulu Terancam Abrasi

Yayasan Genesis Bengkulu mengungkap skala kehilangan daratan, ancaman terhadap pemukiman masyarakat, degradasi ekosistem pesisir, serta kewajiban hukum pemerintah dalam penanganan abrasi di Provinsi Bengkulu. Data ini disampaikan dalam Dokumen Kajian Darurat Abrasi Pesisir Provinsi Bengkulu. Berdasarkan data tersebut abrasi telah menghilangkan 712,81 hektare daratan pesisir yang tersebar di 109 desa pada tujuh kabupaten dan kota […]

06/24/2026
Sumber : Dokumentasi Genesis Pemukiman Kelurahan Belakang Gedung dipigir jurang abrasi

Imbas Kematian Gajah yang Berulang, Izin PT BAT dan PT API Sepatutnya Dievaluasi hingga Dicabut

Genesis mencermati pernyataan Menteri Kehutanan Indonesia, Raja Juli, terkait evaluasi Persetujuan Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH) PT Bentara Agra Timber (PT BAT) dan PT Anugerah Pratama Inspirasi (PT API) pasca berulangnya kematian Gajah Sumatera serta terus berlangsungnya tekanan terhadap hutan  Bentang Alam Seblat di Provinsi Bengkulu. Menurut Genesis, kondisi yang terjadi di dalam kawasan PBPH kedua […]

05/08/2026
Dua ekor gajah yang mati di kawasan Hutan Produksi di Kabupaten Mukomuko

Mati di Dalam Kawasan ‘Lestari’: Tragedi Gajah Sumatera di Hutan Produksi

Di sebuah lanskap yang seharusnya menjadi rumah terakhir bagi gajah Sumatera di Bengkulu, seekor induk dan anaknya ditemukan mati. Bukan di luar kawasan hutan, bukan di wilayah konflik terbuka dengan manusia, tetapi di dalam kawasan hutan produksi yang secara hukum seharusnya dikelola untuk keberlanjutan. Peristiwa ini terjadi di Hutan Produksi Air Teramang, dalam wilayah izin […]

05/01/2026
Dua ekor gajah yang mati di kawasan Hutan Produksi di Kabupaten Mukomuko

FPB Datangi DPRD Seluma, Soroti Mandeknya Penanganan Konflik Agraria dengan PT SIL

BENGKULU – Forum Petani Bersatu (FPB) Seluma mendatangi Kantor Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Seluma pada Senin, 9 Februari 2026. FPB datang menuntut DPRD Seluma untuk memfasilitasi penyelesaian konflik agraria yang telah berlangsung lebih dari satu dekade antara FPB dan PT Sandabi Indah Lestari (PT SIL). Kedatangan FPB disambut dalam sebuah audiensi yang dihadiri […]

02/09/2026

Komitmen vs Kenyataan: Genesis Bengkulu Beberkan Krisis Hutan Seblat

BENGKULU – Genesis Bengkulu menanggapi kunjungan Wakil Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (Wamen LHK) ke Bentang Alam Seblat yang menyatakan “pemerintah berkomitmen menyelamatkan habitat Gajah Sumatera” dengan merilis data lapangan yang menunjukkan fakta sebaliknya. Hutan alam di kantong populasi Seblat terus hilang setiap tahun, bahkan di dalam kawasan konservasi. “Komitmen tidak bisa diukur dari kunjungan […]

11/05/2025
Genesis Bengkulu

Kanopi Hijau: Pemerintah Biarkan Pencemaran Abu Batubara di 13 Lokasi Bengkulu

BENGKULU –  Kanopi Hijau Indonesia kembali mengungkap praktik pembuangan limbah abu batubara (Fly Ash Bottom Ash/FABA) oleh PT TLB secara sembarangan di luar area PLTU Teluk Sepang. Temuan ini menambah daftar lokasi pembuangan FABA di Bengkulu menjadi 13 titik. Lokasi tambahan yang ditemukan berada di Desa Padang Ulak Tanjung, Kecamatan Talang Empat, Kabupaten Bengkulu Tengah. […]

06/02/2025

Koalisi STuEB Laporkan 15 Kejahatan Lingkungan 8 PLTU Batu Bara di Sumatera

JAKARTA – Sebanyak 15 laporan dugaan kejahatan lingkungan dari delapan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) batubara di Pulau Sumatera resmi dilayangkan oleh koalisi masyarakat sipil kepada Direktorat Jenderal Penegakan Hukum Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Republik Indonesia. Laporan-laporan tersebut merupakan hasil pemantauan oleh Koalisi Sumatera Terang untuk Energi Bersih (STuEB), yang terdiri dari 15 […]

05/06/2025

Kanopi Hijau Indonesia dan AMAN Bengkulu Luncurkan Sekolah Energi Bersih Jilid 3

BENGKULU – Kanopi Hijau Indonesia (KHI) berkolaborasi dengan Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Bengkulu resmi meluncurkan program Sekolah Energi Bersih (SEB) Jilid 3. SEB menjadi ruang edukasi dan aksi nyata menuju transisi energi terbarukan, adil, dan berkelanjutan, dengan melibatkan generasi muda dan komunitas sebagai aktor utama. Ketua Kanopi Hijau Indonesia, Ali Akbar, mengatakan program SEB […]

04/26/2025

Sumatera Menolak Punah: Seruan Hari Bumi untuk Hentikan Energi Kotor

Hari Bumi bukan sekadar peringatan simbolik, ia adalah panggilan untuk bertindak. Di tengah krisis iklim yang semakin nyata, Sumatera berdiri di persimpangan: transisi energi atau perlahan punah di bawah bayang-bayang ketamakan. Pulau Sumatera, yang dulu dikenal sebagai rumah bagi hutan tropis lebat dan keanekaragaman hayati yang luar biasa, kini terancam oleh ekspansi energi kotor. Salah […]

04/24/2025
Seruan Hari Bumi

Warga Padang Kuas Kembali Datangi ESDM, Akui Hidup dalam Ketakutan

BENGKULU – Warga Desa Padang Kuas kembali mendatangi Dinas ESDM Provinsi Bengkulu untuk meminta pertanggungjawaban terhadap dampak Tower SUTT. Salah satu warga, Edi Purwono sebut bukan hanya ganti rugi, tapi minta hidup aman dan tidak ada lagi warga yang terdampak. “Warga mau minta hidup aman, tidak ada lagi fenomena yang menakutkan,” kata Edi, Jumat (11/04/2025). […]

04/11/2025

Gunungan Limbah PLTU Batubara Teluk Sepang Dibuang ke Area Pemukiman Warga

BENGKULU – Kanopi Hijau Indonesia (KHI) menyebut, pembuangan limbah fly ash dan bottom ash (FABA) dari PLTU batubara Teluk Sepang masih serampangan. Pembuangan itu dilakukan dengan cara dibagi-bagikan kepada warga menjadi tanah timbunan.

Berdasarkan monitoring yang dilakukan KHI, pada akhir Februari 2023 ditemukan tiga lokasi baru di sekitar permukiman warga, atau berada di luar area proyek […]

03/21/2025
Gunungan Limbah PLTU Batubara Teluk Sepang

“Belum Mati, Belum Akan Mundur”: Perempuan Petani Pino Raya Bertahan di Tengah Konflik Sawit

“Pedas padi dimakan kerau,” ujar Ilis. Ucapan janda empat anak kelahiran 1979 yang sedang berjongkok di atas potongan batang kayu sebesar betis orang dewasa di sebelah kanan depan seghudung itu, seketika memecah obrolan. Sambil menatap lurus ke arah pohon kopi di lawang pepohonan sawit, jemari tangan kanannya, yang bertumpu di lutut kanan, menggenggam erat tali […]

06/26/2026
Perempuan Petani Pino Raya

Cerita Perempuan Petani Kopi Pulang ke Cara Leluhur

“Ada penyesalan,” kata Mardalena. Ucapannya seketika membuat perempuan petani kopi lainnya membisu. Seolah menunggu pekikan nyaring sesiar yang bersembunyi di pepohonan di kebun kopi mereda, ia pun ikut larut dalam kesunyian senja itu. Matanya menatap buku tulis bermotif batik dengan sulur dan bunga berwarna merah, cokelat, hijau dan kuning yang dipegangnya di depan kakinya yang […]

01/28/2026
Perempuan Petani Kopi Desa Kopi Tangguh Iklim (Koppi Sakti) Bengkulu di Desa Batu Ampar, Kabupaten Kepahiang.

Ketika Perempuan Menjaga Hidup di Kebun Kopi

Siti Hermi sama sekali tak pernah menduga. Keputusan dia dan suaminya, Depi, mengubah cara memperlakukan kebun kopi sekitar tahun 2007 berdampak fatal. Satu per satu sumber penghidupan di kebun kopi yang menjadi penopang hidup keluarganya perlahan hancur. “Khususnya cabai rawit, yang menjadi penopang utama keluarga saya untuk menjalani kehidupan sehari-hari, terutama sebelum musim panen kopi,” […]

12/17/2025
Siti Hermi, Perempuan Petani Kopi

Gerakan Membangun Kebun Kopi Tangguh Iklim Perlu Dimasifkan untuk Kurangi Risiko Bencana Hidrometeorologi

Gerakan perempuan petani kopi membangun Kebun Kopi Tangguh Iklim tak lagi sekadar dianggap relevan, melainkan mendesak untuk dimasifkan. Di tengah cuaca ekstrem yang kian sulit diprediksi akibat perubahan iklim, membangun Kebun Kopi Tangguh Iklim juga berarti mengurangi risiko bencana hidrometeorologi. “Justru harus dimasifkan,” kata Ketua Forum Daerah Aliran Sungai (DAS) Provinsi Bengkulu, M. Fajrin Hidayat, […]

12/02/2025
Koppi Sakti Bengkulu menghidupkan kembali berbagai kearifan/praktik lokal dalam pengelolaan kebun kopi yang selaras dengan aksi mitigasi dan adaptasi perubahan iklim.

Pemda Dukung Perluasan Kebun Kopi Tangguh Iklim di Rejang Lebong

“Tentunya kami, Pemerintah Daerah Rejang Lebong, berterima kasih. Ibu-ibu telah mencetuskan solusi terhadap permasalahan keseharian yang dihadapi petani kopi saat ini,” kata Kepala Dinas Pertanian dan Perikanan Kabupaten Rejang Lebong Suradi, SP, M. Si saat berdiskusi dengan perwakilan Koalisi Perempuan Petani Kopi Desa Kopi Tangguh Iklim (Koppi Sakti) Bengkulu pada Selasa (11/11/25). Diskusi di ruang […]

11/21/2025
1. Perwakilan Koppi Sakti Bengkulu bersama Kepala Dinas Pertanian dan Perikanan Kabupaten Rejang Lebong, Suradi, SP, M. Si dan Kepala Bidang Perkebunan Dinas Pertanian dan Perikanan Kabupaten Rejang Lebong, Lince Malini, SP memegang poster Kebun Kopi Tangguh Iklim.

Lima Petani Pino Raya Ditembak Aparat Keamanan Perusahaan PT Agro Bengkulu Selatan

Ketegangan antara petani Pino Raya dan pihak PT Agro Bengkulu Selatan (PT ABS) berujung pada tindakan kekerasan bersenjata, menyebabkan empat orang petani tertembak dan satu orang lainnya mengalami luka serius pada Senin siang (24/11/2025). Peristiwa ini terekam dalam video warga dan memicu protes luas dari masyarakat. Insiden bermula sekitar pukul 10.00 WIB, ketika petani kembali […]

11/24/2025
Ilustrasi. AI Generated

Walhi Bengkulu Tolak Tambang Emas PT ESDM di Bukit Sanggul

BENGKULU – Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Bengkulu menolak keberadaan pertambangan emas dari PT Energi Swadaya Dinamika Muda (ESDM) di kawasan hutan Bukit Sanggul, Kabupaten Seluma. Direktur WALHI Bengkulu, Dodi Faisal sebut tambang tersebut berpotensi mempercepat perubahan iklim dan bencana ekologis di Provinsi Bengkulu. “Aktivitas pertambangan emas yang berlokasi di kawasan hutan Bukit Sanggul Kabupaten […]

05/03/2025
Walhi Bengkulu Tolak Tambang Emas PT ESDM di Bukit Sanggul

Walhi: Ekosistem Bengkulu Sekarang Tidak Baik

BENGKULU – Banyaknya persoalan ekosistem yang terancam di Provinsi Bengkulu, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Bengkulu mengajak kaum muda untuk sama-sama menyikapi dan merespon untuk kebaikan dan kesejahteraan masyarakat Bengkulu. Direktur Eksekutif WALHI Bengkulu, Dodi Faisal sebut semua harus bertindak. “Sebuah inisiatif dari walhi Bengkulu serta  dibantu oleh kawan-kawan NGO dimana ada masalah ekosistim yang […]

05/01/2025

Walhi Komentari Rencana Lelang Blok Potensi Batu Bara dari Kadis ESDM

BENGKULU – Direktur Wahana Lingkungan Hidup Indonesia  (WALHI) Daerah Bengkulu, Abdullah Ibrahim Rintonga mengomentari pernyataan Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Bengkulu tentang tiga blok potensi batu bara yang bakal dilelang. Menurutnya, pelelangan tersebut tidak boleh dilakukan secara sepihak lantaran ada hak-hak masyarakat di lokasi tersebut. “Ada hak-hak masyarakat lokal di sekitar […]

01/16/2025

Walhi Menduga Pembebasan Kawasan Hutan di Bengkulu untuk Kepentingan Politik

BENGKULU – Manajer Kampanye Hutan dan Perkebunan Eksekutif Nasional Walhi , Uli Arta Siagian mengungkapkan, usaha pelepasan kawasan hutan oleh Pemerintah Provinsi Bengkulu dalam revisi Perda No 2 Tahun 2012 bersifat transaksional. Uli menuding upaya ini merupakan bentuk transaksional antara elit politik untuk menunjang aktivitas pemilu dan pihak korporasi agar tidak melanggar saat mengesktrasi kawasan […]

02/02/2023

Walhi Sebut PT FBA Berusaha Hilangkan Bukti Aktivitas Tambang Pasir Besi

BENGKULU – Kadep Advokasi dan Program Walhi Bengkulu, Dodi Faisal menyebut saat ini PT Faminglevto Bakti Abadi (FBA) yang mengelola tambang pasir besi di Seluma berupaya menghilangkan bukti adanya aktivitas pertambangan. “Berdasarkan pemantauan di lapangan, tambang pasir besi yang diduga ilegal ini telah menimbun lubang tambang menggunakan alat berat dan juga akan mengangkut pasir keluar […]

07/06/2022

Artikel Terbaru Non-Governmental Organization