Resmi Ditutup, Rakernas VII AMAN Menghasilkan 23 Resolusi

📅 Dipublikasikan: 03/19/2023• ✍️ Oleh: Alwin Feraro

BENGKULU – Rapat Kerja Nasional Aliansi Masyarakat Adat Nusantara Aliansi Masyarakat Adat Nusantara di Kutei Lubuk Kembang Kabupaten Rejang Lebong akhirnya ditutup pada Minggu, 19 Maret 2023 pada pukul 16.30 WIB. Rakernas VII AMAN Ini menghasilkan 23 resolusi

“Ada 23 butir resolusi yang disepakati dan menjadi titik tekanan AMAN kepada negara,” kata Sekretaris Jenderal AMAN Rukka Sombolinggi usai penutupan.

Resolusi, lanjut Rukka, merupakan kumpulan aspirasi dari seluruh pengurus wilayah AMAN di daerah. Karena itu, seluruh usulan tersebut mesti dikawal dan menjadi perhatian serius seluruh anggota AMAN selama lima tahun ke depan.

“Ada beberapa point yang memang sudah berulang. Namun harus tetap kita pertegas,” kata Rukka.

Secara rinci, berikut resolusi yang menjadi putusan akhir Rakernas AMAN:

1. Kami mendesak Presiden dan DPR RI untuk segera mengesahkan RUU Masyarakat Adat yang sesuai dengan aspirasi Masyarakat Adat.

2. Kami mendesak DPR RI untuk menolak pengesahan PERPU Nomor 02 Tahun 2022 Tentang Cipta Kerja menjadi UU karena bertentangan dengan UUD 1945. PERPPU Cipta Kerja akan menjadi basis legal dalam tindakan-tindakan perampasan wilayah adat, kekerasan dan kriminalisasi terhadap Masyarakat Adat, serta berdampak pada hilangnya hak-hak Masyarakat Adat dan rusaknya lingkungan hidup yang akan mengancam keberlangsungan kehidupan bangsa.

3. Kami mendesak Pemerintah dan DPR RI untuk segera melakukan revisi terhadap pasal-pasal yang bermasalah di dalam KUHP Nomor 1 Tahun 2023 khususnya pasal-pasal yang berkaitan dengan living law yang merampas kedaulatan Masyarakat Adat untuk menyelenggarakan sistem peradilan sendiri.

4. Kami mendesak Pemerintah dan DPR RI untuk segera membatalkan Undang-Undang Mineral dan Batubara Nomor 3 tahun 2020 yang memberikan keleluasaan kepada negara bersama oligarki untuk merampas dan merusak wilayah adat, serta semakin banyak mengkriminalisasi Masyarakat Adat.

5. Kami mendesak Pemerintah untuk segera mencabut Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 64 Tahun 2021 tentang Bank Tanah, karena menjadi instrument perampasan tanah Petani dan Masyarakat Adat.

6. Kami mendesak Pemerintah Daerah untuk segera membentuk kebijakan daerah tentang perlindungan dan pemenuhan hak Masyarakat Adat termasuk hak atas wilayah adatnya. Bagi daerah, provinsi/kabupaten/kota, yang sudah mengesahkan produk hukum Masyarakat Adat (Peraturan Daerah, Keputusan Kepala Daerah, dan Peraturan-Peraturan Bupati/Wali Kota maupun Peraturan Gubernur) kami mendesak untuk segera diimplementasikan.

7. Kami mendesak PEMERINTAH untuk mencabut dan tidak memperpanjang seluruh kebijakan yang bersifat memudahkan bagi investasi dengan mengabaikan Hak-Hak Masyarakat Adat, misalnya pemberian HGU, izin pertambangan dan kehutanan di Wilayah-Wilayah Adat, khususnya di IKN dan program-program strategis nasional lainnya. semua izin investasi pertambangan, energi, perkebunan, hutan tanaman industri, hak pengelolaan hutan, pariwisata, pembangunan infrastruktur, dan ijin usaha lainnya yang mengabaikan Hak Asasi Manusia dan merampas hak-hak Masyarakat Adat, serta merusak lingkungan hidup. Untuk selanjutnya mengambil tindakan tegas terhadap berbagai kegiatan perampasan serta pengrusakan Wilayah Adat yang berdampak buruk pada Masyarakat Adat.

8. Mendesak pemerintah untuk mencabut surat keputusan Menteri ESDM RI tentang penetapan pulau Flores sebagai pulau Geotermal/panas bumi. Karena keputusan ini berpotensi mengakibatkan perampasan wilayah adat dan kekerasan terhadap Masyarakat Adat.

9. Mendesak pemerintah untuk menghentikan segala bentuk eksploitasi dan materialisasi dengan cara-cara yang tidak adil dan diskriminatif terhadap sumber penghidupan, nilai dan budaya Masyarakat Adat untuk kepentingan pariwisata premium milik para oligarki.

10. Terkait IKN, kami mendesak Pemerintah untuk menghentikan penggusuran dan relokasi Masyarakat Adat suku Balik, menghentikan penggusuran situs-situs bersejarah dan memulihkan kerusakan yang telah terjadi serta memastikan perlindungan Hak Konstitusional Masyarakat Adat Suku Balik.

11. Mendesak Pemerintah untuk mencabut semua skema Perhutanan Sosial yang terbit di atas Wilayah Adat kecuali skema Hutan Adat, dan menghentikan seluruh proses skema Perhutanan Sosial yang sedang berlangsung di atas Wilayah Adat. Dan kami menyerukan kepada donor dan NGO untuk tidak mendukung dan mempromosikan perhutanan sosial selain Hutan Adat.

12. Kami kembali mendesak Pemerintah harus segera mempercepat proses pengembalian HUTAN ADAT sesuai Putusan MK 35/PUU-X/2012.

13. Kami menolak tegas penguasaan negara secara sepihak atas karbon di wilayah adat. Selanjutnya mendesak Pemerintah untuk mencabut dan mentertibkan perusahaan-perusahaan karbon yang beroperasi di wilayah adat.

14. Kami mendesak Pemerintah untuk memastikan inisiatif global terkait pendanaan langsung bagi Masyarakat Adat benar-benar diakses langsung oleh komunitas dan organisasi Masyarakat Adat.

15. Mendesak pemerintah untuk segera menghentikan seluruh aktivitas penetapan tata batas Kawasan hutan karena telah menimbulkan keresahan Masyarakat Adat diseluruh nusantara. Selanjutnya membuka dokumen berita acara tata batas Kawasan hutan yang sudah dikukuhkan sebagai dokumen public sesuai dengan Keputusan MK Nomor 45 Tahun 2011.

16. Kami mendesak Pemerintah dan DPR RI untuk mengakomodir hak Masyarakat Adat untuk berpartisipasi secara penuh dan efektif di dalam proses pembentukan RUU KSDAHE dan memastikan perlindungan dan pemenuhan hak Masyarakat Adat dalam penyelenggaraan konservasi.

17. Kami menegaskan bahwa Masyarakat Adat berbeda dengan kerajaan/kesultanan. Oleh sebab itu, terkait RUU Perlindungan dan Pelestarian Budaya Adat Kerajaan Nusantara, kami mendesak DPD dan DPR RI untuk tidak mencampuradukkan identitas Kerajaan/Kesultanan dengan Masyarakat Adat yang RUU-nya sedang dibahas di DPR RI, agar sesuai dengan amanat Undang-Undang Dasar 1945.

18. Pemerintah harus menjamin, melindungi dan mendukung upaya-upaya Masyarakat Adat dalam mengelola wilayah adatnya, mengambil langkah-langkah progressif untuk mengakui dan mempromosikan praktek dan pengembangan model ekonomi Masyarakat Adat yang bersifat lokal dan berkelanjutan, yang selama ini telah terbukti memastikan kemandirian komunitas komunitas adat menuju pencapaian kedaulatan pangan, baik di tingkat komunitas, maupun secara nasional.

19. Kami mendesak Komisi Pemilihan Umum Republik Indonesia (KPU RI) untuk mengakomodir 2,5 juta Masyarakat Adat yang belum terdaftar sebagai pemilih karena dianggap menduduki kawasan hutan dan wilayah pertambangan. Kami mendesak pemerintah untuk menghadirkan kebijakan yang memudahkan Masyarakat Adat untuk berpartisipasi secara penuh dan efektifdalam Pemilu dan Pilkada 2024.

20. Terkait Pemilu 2024, kami mendesak seluruh Partai Politik dan para Calon Presiden/Wakil Presiden serta Calon Kepala Daerah untuk memprioritaskan agenda perlindungan dan pemenuhan hak Masyarakat Adat.

21. Kembali mendesak Presiden untuk segera membentuk Satuan Tugas Masyarakat Adat yang bertugas membangun sistem penyelesaian konflik, merumuskan dan melaksanakan pemulihan (remedy) kepada Masyarakat Adat yang telah menjadi korban pelanggaran Hak Asasi Manusia, dan menyusun kajian mengenai harmonisasi peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang Masyarakat Adat serta berimplikasi pada pemenuhan hak-haknya.

22. Kami mendesak Pemerintah untuk menghentikan upaya-upaya pembungkaman karna berdampak pada kemunduran demokrasi dan Hak Azasi Manusia di Indonesia.

23. Kembali kami mendesak pemerintah untuk meminta maaf kepada Masyarakat Adat karena telah melakukan pelanggaran dan membiarkan perampasan wilayah adat, kriminalisasi dan pengabaian hak-hak Masyarakat Adat selama berpuluh-puluh tahun.

Bagikan Artikel:
Aman Oleh Alwin Feraro • 12/29/2025

Catatan AMAN Bengkulu: Konflik Wilayah Adat Kian Meluas, Negara Dinilai Abai

BENGKULU – Sepanjang tahun 2025, persoalan konflik lahan antara komunitas masyarakat adat dan berbagai sektor usaha masih menjadi luka panjang di Provinsi Bengkulu. Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) mencatat ratusan ribu wilayah adat berada dalam tekanan akibat tumpang tindih klaim lahan dengan negara maupun korporasi. “Konflik wilayah adat ini menyebar di seluruh Provinsi Bengkulu, dan […]

Menurut AMAN, konflik yang kerap bersentuhan dengan klaim kawasan hutan negara berakar dari praktik tata kelola yang tidak transparan sejak awal.
Aman Oleh Alwin Feraro • 11/19/2025

Tekanan Global Menguat terhadap Lambannya Proses Legislasi RUU Masyarakat Adat di Indonesia

Desakan pembahasan dan pengesahan Rancangan Undang-Undang (RUU) Masyarakat Adat terus menguat. Seruan resmi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Jenewa pada 6 November 2025 mendesak Pemerintah Indonesia segera memberikan perlindungan penuh terhadap masyarakat adat yang menghadapi kekerasan, kriminalisasi, dan ketidakpastian hukum atas wilayah adat dan hak kolektif mereka. Lebih dari 15 tahun RUU Masyarakat Adat masuk dalam […]

Aman Oleh Alwin Feraro • 10/18/2025

Komunitas Adat Semende Ulu Nasal Dirikan Sekolah Adat Tunggu Tubang

BENGKULU – Komunitas adat Muara Dua, Semende Ulu Nasal di Kabupaten Kaur meresmikan Sekolah Adat pertama mereka pada Sabtu, 18 Oktober 2025. Sekolah hasil gotong royong dengan konstruksi kayu beratap kayu Sirap berukuran 11×6 meter ini, menyandang nama Tunggu Tubang sebagai identitas mereka. “Tunggu Tubang, itu konsep leluhur kami yang memandatkan harta pusaka keluarga untuk […]

Komunitas adat Muara Dua, Semende Ulu Nasal di Kabupaten Kaur
Aman Oleh Alwin Feraro • 09/01/2025

Masyarakat Adat Enggano Minta Pemerintah Larang Budidaya Sawit

Seluruh komunitas adat Pulau Enggano meminta Pemerintah di Provinsi Bengkulu untuk memusnahkan seluruh tanaman sawit yang kini ada di Enggano. Menurut masyarakat, keberadaan sawit akan mengancam kelestarian pulau dan memicu perusakan hutan milik masyarakat adat. Milson Kaitora, Paabuki atau pimpinan Kepala Suku di Pulau Enggano mengatakan, saat ini di beberapa desa di Enggano sudah banyak […]

Non Governmental Organization

Catatan AMAN Bengkulu: Konflik Wilayah Adat Kian Meluas, Negara Dinilai Abai

BENGKULU – Sepanjang tahun 2025, persoalan konflik lahan antara komunitas masyarakat adat dan berbagai sektor usaha masih menjadi luka panjang di Provinsi Bengkulu. Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) mencatat ratusan ribu wilayah adat berada dalam tekanan akibat tumpang tindih klaim lahan dengan negara maupun korporasi. “Konflik wilayah adat ini menyebar di seluruh Provinsi Bengkulu, dan […]

12/29/2025
Menurut AMAN, konflik yang kerap bersentuhan dengan klaim kawasan hutan negara berakar dari praktik tata kelola yang tidak transparan sejak awal.

Tekanan Global Menguat terhadap Lambannya Proses Legislasi RUU Masyarakat Adat di Indonesia

Desakan pembahasan dan pengesahan Rancangan Undang-Undang (RUU) Masyarakat Adat terus menguat. Seruan resmi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Jenewa pada 6 November 2025 mendesak Pemerintah Indonesia segera memberikan perlindungan penuh terhadap masyarakat adat yang menghadapi kekerasan, kriminalisasi, dan ketidakpastian hukum atas wilayah adat dan hak kolektif mereka. Lebih dari 15 tahun RUU Masyarakat Adat masuk dalam […]

11/19/2025

Komunitas Adat Semende Ulu Nasal Dirikan Sekolah Adat Tunggu Tubang

BENGKULU – Komunitas adat Muara Dua, Semende Ulu Nasal di Kabupaten Kaur meresmikan Sekolah Adat pertama mereka pada Sabtu, 18 Oktober 2025. Sekolah hasil gotong royong dengan konstruksi kayu beratap kayu Sirap berukuran 11×6 meter ini, menyandang nama Tunggu Tubang sebagai identitas mereka. “Tunggu Tubang, itu konsep leluhur kami yang memandatkan harta pusaka keluarga untuk […]

10/18/2025
Komunitas adat Muara Dua, Semende Ulu Nasal di Kabupaten Kaur

Masyarakat Adat Enggano Minta Pemerintah Larang Budidaya Sawit

Seluruh komunitas adat Pulau Enggano meminta Pemerintah di Provinsi Bengkulu untuk memusnahkan seluruh tanaman sawit yang kini ada di Enggano. Menurut masyarakat, keberadaan sawit akan mengancam kelestarian pulau dan memicu perusakan hutan milik masyarakat adat. Milson Kaitora, Paabuki atau pimpinan Kepala Suku di Pulau Enggano mengatakan, saat ini di beberapa desa di Enggano sudah banyak […]

09/01/2025

Polres Kaur Bubarkan Massa Aksi yang Blokir Lahan Perkebunan Sawit

BENGKULU – Polres Kaur berhasil membubarkan massa aksi yang melakukan pemblokiran dan pendudukan lahan perkebunan sawit yang dikelola oleh PT. Dinamika Selaras Jaya (DSJ) di Divisi I dan Divisi IV. Massa aksi tersebut merupakan gabungan dari beberapa organisasi masyarakat, yaitu Forum Peduli Wilayah Kedurang Bengkulu Selatan (FPWKBS), Aliansi Selamatkan Bengkulu Selatan (ASBS), dan Gerakan Rakyat […]

07/16/2025

Tuntutan Warga Enggano Dijawab Presiden, AMAN: Terima Kasih

BENGKULU – Tuntutan warga Enggano atas solusi krisis di pulau itu akhirnya terjawab. Presiden Prabowo Subianto resmi menerbitkan instruksi presiden terkait upaya mempercepat pembangunan pulau terluar Indonesia di Provinsi Bengkulu, Pulau Enggano. “Terima kasih untuk ibu Rieke Diah Pitaloka, Komisi VI DPR yang sudah hadir ke Bengkulu dan mendorong komunikasinya ke Wakil Ketua DPR Sufmi […]

06/24/2025
Tuntutan Warga Enggano ini juga disampaikan lewat anggota DPR Rike Diah Pitaloka saat meninjau Pulau Baai

DPRD Sebut Penanganan Abrasi Bengkulu Harus Bertahap, Berbasis Prioritas Korban

Anggot DPRD Provinsi Bengkulu, Zainal mengatakan bahwa penanganan abrasi pesisir tidak dapat dilakukan secara sekaligus, melainkan harus bertahap sesuai kemampuan anggaran dan tingkat kerentanan wilayah. Hal ini disampaikan Zainal dalam dialog multipihak perlindungan masyarakat dan wilayah pesisir Bengkulu, yang digelar Genesis, Selasa 23 Juni 2026. Zainal menyebut, pemerintah selama ini tidak melakukan pembiaran pada korban […]

06/24/2026
Sumber : Dokumentasi Genesis Pemukiman Desa Air Padang Terdampak Abrasi

Genesis Bengkulu: 1.885 Bangunan di Bengkulu Terancam Abrasi

Yayasan Genesis Bengkulu mengungkap skala kehilangan daratan, ancaman terhadap pemukiman masyarakat, degradasi ekosistem pesisir, serta kewajiban hukum pemerintah dalam penanganan abrasi di Provinsi Bengkulu. Data ini disampaikan dalam Dokumen Kajian Darurat Abrasi Pesisir Provinsi Bengkulu. Berdasarkan data tersebut abrasi telah menghilangkan 712,81 hektare daratan pesisir yang tersebar di 109 desa pada tujuh kabupaten dan kota […]

06/24/2026
Sumber : Dokumentasi Genesis Pemukiman Kelurahan Belakang Gedung dipigir jurang abrasi

Imbas Kematian Gajah yang Berulang, Izin PT BAT dan PT API Sepatutnya Dievaluasi hingga Dicabut

Genesis mencermati pernyataan Menteri Kehutanan Indonesia, Raja Juli, terkait evaluasi Persetujuan Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH) PT Bentara Agra Timber (PT BAT) dan PT Anugerah Pratama Inspirasi (PT API) pasca berulangnya kematian Gajah Sumatera serta terus berlangsungnya tekanan terhadap hutan  Bentang Alam Seblat di Provinsi Bengkulu. Menurut Genesis, kondisi yang terjadi di dalam kawasan PBPH kedua […]

05/08/2026
Dua ekor gajah yang mati di kawasan Hutan Produksi di Kabupaten Mukomuko

Mati di Dalam Kawasan ‘Lestari’: Tragedi Gajah Sumatera di Hutan Produksi

Di sebuah lanskap yang seharusnya menjadi rumah terakhir bagi gajah Sumatera di Bengkulu, seekor induk dan anaknya ditemukan mati. Bukan di luar kawasan hutan, bukan di wilayah konflik terbuka dengan manusia, tetapi di dalam kawasan hutan produksi yang secara hukum seharusnya dikelola untuk keberlanjutan. Peristiwa ini terjadi di Hutan Produksi Air Teramang, dalam wilayah izin […]

05/01/2026
Dua ekor gajah yang mati di kawasan Hutan Produksi di Kabupaten Mukomuko

FPB Datangi DPRD Seluma, Soroti Mandeknya Penanganan Konflik Agraria dengan PT SIL

BENGKULU – Forum Petani Bersatu (FPB) Seluma mendatangi Kantor Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Seluma pada Senin, 9 Februari 2026. FPB datang menuntut DPRD Seluma untuk memfasilitasi penyelesaian konflik agraria yang telah berlangsung lebih dari satu dekade antara FPB dan PT Sandabi Indah Lestari (PT SIL). Kedatangan FPB disambut dalam sebuah audiensi yang dihadiri […]

02/09/2026

Komitmen vs Kenyataan: Genesis Bengkulu Beberkan Krisis Hutan Seblat

BENGKULU – Genesis Bengkulu menanggapi kunjungan Wakil Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (Wamen LHK) ke Bentang Alam Seblat yang menyatakan “pemerintah berkomitmen menyelamatkan habitat Gajah Sumatera” dengan merilis data lapangan yang menunjukkan fakta sebaliknya. Hutan alam di kantong populasi Seblat terus hilang setiap tahun, bahkan di dalam kawasan konservasi. “Komitmen tidak bisa diukur dari kunjungan […]

11/05/2025
Genesis Bengkulu

Kanopi Hijau: Pemerintah Biarkan Pencemaran Abu Batubara di 13 Lokasi Bengkulu

BENGKULU –  Kanopi Hijau Indonesia kembali mengungkap praktik pembuangan limbah abu batubara (Fly Ash Bottom Ash/FABA) oleh PT TLB secara sembarangan di luar area PLTU Teluk Sepang. Temuan ini menambah daftar lokasi pembuangan FABA di Bengkulu menjadi 13 titik. Lokasi tambahan yang ditemukan berada di Desa Padang Ulak Tanjung, Kecamatan Talang Empat, Kabupaten Bengkulu Tengah. […]

06/02/2025

Koalisi STuEB Laporkan 15 Kejahatan Lingkungan 8 PLTU Batu Bara di Sumatera

JAKARTA – Sebanyak 15 laporan dugaan kejahatan lingkungan dari delapan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) batubara di Pulau Sumatera resmi dilayangkan oleh koalisi masyarakat sipil kepada Direktorat Jenderal Penegakan Hukum Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Republik Indonesia. Laporan-laporan tersebut merupakan hasil pemantauan oleh Koalisi Sumatera Terang untuk Energi Bersih (STuEB), yang terdiri dari 15 […]

05/06/2025

Kanopi Hijau Indonesia dan AMAN Bengkulu Luncurkan Sekolah Energi Bersih Jilid 3

BENGKULU – Kanopi Hijau Indonesia (KHI) berkolaborasi dengan Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Bengkulu resmi meluncurkan program Sekolah Energi Bersih (SEB) Jilid 3. SEB menjadi ruang edukasi dan aksi nyata menuju transisi energi terbarukan, adil, dan berkelanjutan, dengan melibatkan generasi muda dan komunitas sebagai aktor utama. Ketua Kanopi Hijau Indonesia, Ali Akbar, mengatakan program SEB […]

04/26/2025

Sumatera Menolak Punah: Seruan Hari Bumi untuk Hentikan Energi Kotor

Hari Bumi bukan sekadar peringatan simbolik, ia adalah panggilan untuk bertindak. Di tengah krisis iklim yang semakin nyata, Sumatera berdiri di persimpangan: transisi energi atau perlahan punah di bawah bayang-bayang ketamakan. Pulau Sumatera, yang dulu dikenal sebagai rumah bagi hutan tropis lebat dan keanekaragaman hayati yang luar biasa, kini terancam oleh ekspansi energi kotor. Salah […]

04/24/2025
Seruan Hari Bumi

Warga Padang Kuas Kembali Datangi ESDM, Akui Hidup dalam Ketakutan

BENGKULU – Warga Desa Padang Kuas kembali mendatangi Dinas ESDM Provinsi Bengkulu untuk meminta pertanggungjawaban terhadap dampak Tower SUTT. Salah satu warga, Edi Purwono sebut bukan hanya ganti rugi, tapi minta hidup aman dan tidak ada lagi warga yang terdampak. “Warga mau minta hidup aman, tidak ada lagi fenomena yang menakutkan,” kata Edi, Jumat (11/04/2025). […]

04/11/2025

Gunungan Limbah PLTU Batubara Teluk Sepang Dibuang ke Area Pemukiman Warga

BENGKULU – Kanopi Hijau Indonesia (KHI) menyebut, pembuangan limbah fly ash dan bottom ash (FABA) dari PLTU batubara Teluk Sepang masih serampangan. Pembuangan itu dilakukan dengan cara dibagi-bagikan kepada warga menjadi tanah timbunan.

Berdasarkan monitoring yang dilakukan KHI, pada akhir Februari 2023 ditemukan tiga lokasi baru di sekitar permukiman warga, atau berada di luar area proyek […]

03/21/2025
Gunungan Limbah PLTU Batubara Teluk Sepang

“Belum Mati, Belum Akan Mundur”: Perempuan Petani Pino Raya Bertahan di Tengah Konflik Sawit

“Pedas padi dimakan kerau,” ujar Ilis. Ucapan janda empat anak kelahiran 1979 yang sedang berjongkok di atas potongan batang kayu sebesar betis orang dewasa di sebelah kanan depan seghudung itu, seketika memecah obrolan. Sambil menatap lurus ke arah pohon kopi di lawang pepohonan sawit, jemari tangan kanannya, yang bertumpu di lutut kanan, menggenggam erat tali […]

06/26/2026
Perempuan Petani Pino Raya

Cerita Perempuan Petani Kopi Pulang ke Cara Leluhur

“Ada penyesalan,” kata Mardalena. Ucapannya seketika membuat perempuan petani kopi lainnya membisu. Seolah menunggu pekikan nyaring sesiar yang bersembunyi di pepohonan di kebun kopi mereda, ia pun ikut larut dalam kesunyian senja itu. Matanya menatap buku tulis bermotif batik dengan sulur dan bunga berwarna merah, cokelat, hijau dan kuning yang dipegangnya di depan kakinya yang […]

01/28/2026
Perempuan Petani Kopi Desa Kopi Tangguh Iklim (Koppi Sakti) Bengkulu di Desa Batu Ampar, Kabupaten Kepahiang.

Segenggam Padi Riun, Sejarah yang Nyaris Tenggelam di Sungai Lisai

Hasan Mukti menarik napas panjang, lalu melepaskannya perlahan. Sembari duduk bersila di atas karpet plastik merah, pandangannya lurus menatap pintu kayu yang terbuka lebar. Dari seberang rumah, terdengar deru pertemuan sungai Lisai dan Seblat yang mengalir tanpa henti. Beban yang menyesak di dadanya selama tiga tahun terakhir mulai meluruh. Bersama anggota Komunitas Adat Sungai Lisai, […]

01/01/2026
Anggota Komunitas Adat Sungai Lisai

Ketika Perempuan Menjaga Hidup di Kebun Kopi

Siti Hermi sama sekali tak pernah menduga. Keputusan dia dan suaminya, Depi, mengubah cara memperlakukan kebun kopi sekitar tahun 2007 berdampak fatal. Satu per satu sumber penghidupan di kebun kopi yang menjadi penopang hidup keluarganya perlahan hancur. “Khususnya cabai rawit, yang menjadi penopang utama keluarga saya untuk menjalani kehidupan sehari-hari, terutama sebelum musim panen kopi,” […]

12/17/2025
Siti Hermi, Perempuan Petani Kopi

Gerakan Membangun Kebun Kopi Tangguh Iklim Perlu Dimasifkan untuk Kurangi Risiko Bencana Hidrometeorologi

Gerakan perempuan petani kopi membangun Kebun Kopi Tangguh Iklim tak lagi sekadar dianggap relevan, melainkan mendesak untuk dimasifkan. Di tengah cuaca ekstrem yang kian sulit diprediksi akibat perubahan iklim, membangun Kebun Kopi Tangguh Iklim juga berarti mengurangi risiko bencana hidrometeorologi. “Justru harus dimasifkan,” kata Ketua Forum Daerah Aliran Sungai (DAS) Provinsi Bengkulu, M. Fajrin Hidayat, […]

12/02/2025
Koppi Sakti Bengkulu menghidupkan kembali berbagai kearifan/praktik lokal dalam pengelolaan kebun kopi yang selaras dengan aksi mitigasi dan adaptasi perubahan iklim.

Pemda Dukung Perluasan Kebun Kopi Tangguh Iklim di Rejang Lebong

“Tentunya kami, Pemerintah Daerah Rejang Lebong, berterima kasih. Ibu-ibu telah mencetuskan solusi terhadap permasalahan keseharian yang dihadapi petani kopi saat ini,” kata Kepala Dinas Pertanian dan Perikanan Kabupaten Rejang Lebong Suradi, SP, M. Si saat berdiskusi dengan perwakilan Koalisi Perempuan Petani Kopi Desa Kopi Tangguh Iklim (Koppi Sakti) Bengkulu pada Selasa (11/11/25). Diskusi di ruang […]

11/21/2025
1. Perwakilan Koppi Sakti Bengkulu bersama Kepala Dinas Pertanian dan Perikanan Kabupaten Rejang Lebong, Suradi, SP, M. Si dan Kepala Bidang Perkebunan Dinas Pertanian dan Perikanan Kabupaten Rejang Lebong, Lince Malini, SP memegang poster Kebun Kopi Tangguh Iklim.

Lima Petani Pino Raya Ditembak Aparat Keamanan Perusahaan PT Agro Bengkulu Selatan

Ketegangan antara petani Pino Raya dan pihak PT Agro Bengkulu Selatan (PT ABS) berujung pada tindakan kekerasan bersenjata, menyebabkan empat orang petani tertembak dan satu orang lainnya mengalami luka serius pada Senin siang (24/11/2025). Peristiwa ini terekam dalam video warga dan memicu protes luas dari masyarakat. Insiden bermula sekitar pukul 10.00 WIB, ketika petani kembali […]

11/24/2025
Ilustrasi. AI Generated

Walhi Bengkulu Tolak Tambang Emas PT ESDM di Bukit Sanggul

BENGKULU – Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Bengkulu menolak keberadaan pertambangan emas dari PT Energi Swadaya Dinamika Muda (ESDM) di kawasan hutan Bukit Sanggul, Kabupaten Seluma. Direktur WALHI Bengkulu, Dodi Faisal sebut tambang tersebut berpotensi mempercepat perubahan iklim dan bencana ekologis di Provinsi Bengkulu. “Aktivitas pertambangan emas yang berlokasi di kawasan hutan Bukit Sanggul Kabupaten […]

05/03/2025
Walhi Bengkulu Tolak Tambang Emas PT ESDM di Bukit Sanggul

Walhi: Ekosistem Bengkulu Sekarang Tidak Baik

BENGKULU – Banyaknya persoalan ekosistem yang terancam di Provinsi Bengkulu, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Bengkulu mengajak kaum muda untuk sama-sama menyikapi dan merespon untuk kebaikan dan kesejahteraan masyarakat Bengkulu. Direktur Eksekutif WALHI Bengkulu, Dodi Faisal sebut semua harus bertindak. “Sebuah inisiatif dari walhi Bengkulu serta  dibantu oleh kawan-kawan NGO dimana ada masalah ekosistim yang […]

05/01/2025

Walhi Komentari Rencana Lelang Blok Potensi Batu Bara dari Kadis ESDM

BENGKULU – Direktur Wahana Lingkungan Hidup Indonesia  (WALHI) Daerah Bengkulu, Abdullah Ibrahim Rintonga mengomentari pernyataan Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Bengkulu tentang tiga blok potensi batu bara yang bakal dilelang. Menurutnya, pelelangan tersebut tidak boleh dilakukan secara sepihak lantaran ada hak-hak masyarakat di lokasi tersebut. “Ada hak-hak masyarakat lokal di sekitar […]

01/16/2025

Walhi Menduga Pembebasan Kawasan Hutan di Bengkulu untuk Kepentingan Politik

BENGKULU – Manajer Kampanye Hutan dan Perkebunan Eksekutif Nasional Walhi , Uli Arta Siagian mengungkapkan, usaha pelepasan kawasan hutan oleh Pemerintah Provinsi Bengkulu dalam revisi Perda No 2 Tahun 2012 bersifat transaksional. Uli menuding upaya ini merupakan bentuk transaksional antara elit politik untuk menunjang aktivitas pemilu dan pihak korporasi agar tidak melanggar saat mengesktrasi kawasan […]

02/02/2023

Walhi Sebut PT FBA Berusaha Hilangkan Bukti Aktivitas Tambang Pasir Besi

BENGKULU – Kadep Advokasi dan Program Walhi Bengkulu, Dodi Faisal menyebut saat ini PT Faminglevto Bakti Abadi (FBA) yang mengelola tambang pasir besi di Seluma berupaya menghilangkan bukti adanya aktivitas pertambangan. “Berdasarkan pemantauan di lapangan, tambang pasir besi yang diduga ilegal ini telah menimbun lubang tambang menggunakan alat berat dan juga akan mengangkut pasir keluar […]

07/06/2022

Artikel Terbaru Non-Governmental Organization