Logo

Makna Cermin yang Berada di Atas Pintu Rumah Warga Keturunan Tionghoa

Cermin Penangkal Balak. Foto, Cindy/BN.

Cermin Penangkal Balak. Foto, Cindy/BN.

BENGKULU – Etnis Tionghoa memiliki banyak ciri khas serta adat istiadat yang kental dan selalu diikuti turun temurun kepada generasi selanjutnya. Adapun salah satu kepercayaan yang masih kental dan dipercayai oleh etnis Tionghoa adalah cermin penangkal balak.

Ketua Lembaga Pendeta Provinsi Bengkulu, Romo Sunlie menuturkan bahwa cermin yang sering kita lihat atas pintu rumah warga etnis Tionghoa merupakan tradisi penolak bala. Cermin ini dipercaya dapat mengusir atau menolak segala jenis malapetaka, baik kemiskinan, kejahatan dan lainnya.

“Jadi kalau dibilang cermin tersebut sebagai penangkal bala, namun hal tersebut kembali kepada kepercayaan masing-masing. Serta pada sikap kita, apakah mencerminkan perbuatan baik atau tidak,” kata Romo Sunlie pada Bengkulunews.co.id Sabtu (14/10/2023) siang.

Ia menuturkan cermin penangkal bala juga biasanya bertuliskan huruf cina, dengan arti berbeda-beda tergantung dari permintaan orang yang meminta. Biasanya mereka yang ingin cermin penangkal bala akan datang ke klenteng dan menceritakan kemalangan atau permintaan mereka.

Barulah nanti mereka yang meminta akan diberikan tulisan atau doa penangkal bala yang ada dicermin. Cermin tersebut tidak boleh berbentuk cekung dan harus cembung, karena memiliki arti berbeda.

Jika cermin yang digunakan berbentuk cekung, bukannya menangkal bala justru akan menarik kemalangan ke dalam rumah. Sehingga kondisi di dalam rumah akan panas, sering terjadi pertengkaran maupun kesusahan.

Oleh karena itu cermin penangkal bala harus berbentuk cembung, sehingga kemalangan maupun kejahatan yang akan datang dapat ditolak melalui cermin.

“Walaupun tidak ada tulisan sama saja bisa digunakan juga sebagai penangkal bala. Namun cermin yang digunakan harus cembung, karena kalau cekung akan menarik bala itu filsafatnya,” tambahnya.

Namun menurutnya semua itu kembali lagi kepada kepercayaan dan pribadi masing-masing setiap orang. Walaupun sudah memasang cermin penangkal bala, orang tersebut juga tetap harus melakukan kebajikan dan kebaikkan. Jika hanya memakai cermin penangkal bala, namun tidak ada kebajikan dan kebaikan sama saja akan berbalik hasilnya.

Sehingga jika diutarakan cermin penangkal bala sendiri merupakan, kepercayaan turun temurun oleh nenek moyang etnis Tionghoa. Walaupun di zaman modern sekarang, hal tersebut sudah jarang terlihat bahkan hampir pudar.

“Itu semua tergantung dari masing-masing kita, bagaimana sikap dan pribadi kita kepada sesama. Karena balak,  rezeki dan maut tidak ada satupun yang tahu,” demikian Romo Sunlie.