Gambar BengkuluNews

Kaya sumber Daya Alam namun Bengkulu Masih Menjadi Daerah Termiskin di Sumatra

Kaya sumber Daya Alam namun Bengkulu Masih Menjadi Daerah Termiskin di Sumatra

Penulis : Bagas Prasetio

Bengkulu adalah provinsi kecil dengan penduduk 2,06 juta jiwa yang berada di pesisir barat bagian selatan Pulau Sumatra, Indonesia. Provinsi itu berhadapan langsung dengan Samudra Hindia dan juga memanjang sepanjang kaki Bukit Barisan. Selain kekayaan alam, Bengkulu juga dianugerahi dengan keanekaragaman bahari.

Potensi sumber daya Bengkulu sangat beragam, namun Bengkulu masih memegang label sebagai provinsi termiskin di Sumatra. Jumlah penduduk miskin di Bengkulu mencapai 288.460 jiwa atau 14 persen berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Bengkulu, Maret 2023. Pada tahun 2023, APBD Perubahan Bengkulu tercatat Rp2,96 triliun. Jumlah itu lebih rendah dibandingkan dengan APBD Kepulauan Riau yang tercatat Rp4,45 triliun. APBD Provinsi Bengkulu juga setara dengan hanya satu kabupaten di Sumsel, yakni Musi Banyuasin.

Perekonomian Bengkulu disokong oleh tiga sektor utama, yaitu tambang, perkebunan, dan perikanan. Ketiga sektor itu memiliki masalah di setiap sektornya. Mulai dari pertanian, pertanian di Bengkulu didominasi oleh kopi dan karet yang di mana karena kurangnya hilirisasi industri, Bengkulu terpaksa menjual ke luar daerah dalam bentuk mentah maupun setengah jadi yang membuat kurangnya nilai jual dari komoditas tersebut.

Untuk sektor tambang, komoditas tambang utama di Bengkulu adalah batu bara yang sebagian besar tersebar di wilayah Bengkulu Tengah, Bengkulu Utara, dan Lahat. Komoditas ini diekspor ke luar negeri seperti India, Cina, dan negara Asia Tenggara lainnya maupun untuk menyuplai kebutuhan energi provinsi itu sendiri. Sektor pertambangan di Bengkulu sering kali bersifat capital intensive (padat modal) dan kurangnya penyerapan tenaga kerja lokal, ditambah lagi keuntungan besar di sektor ini biasanya mengalir ke kantor pusat yang berada di luar Provinsi Bengkulu. Karena kurangnya akses jalan tambang, truk tambang dengan tonase tinggi terpaksa melewati jalan provinsi. Hal ini menyebabkan rusaknya akses jalan Provinsi Bengkulu.

Di sektor perikanan pun juga sama dengan dua sektor tadi, Bengkulu memiliki potensi yang sangat besar di sektor maritim karena langsung berhadapan dengan Samudra Hindia. Namun, karena kurangnya hilirisasi di sektor ini, seperti kurangnya pengolahan ikan pascatangkap, membuat harga ikan akan anjlok bila hasil tangkapan sedang melimpah, ditambah lagi dengan rantai distribusi yang panjang membuat harga ikan murah bagi nelayan kecil dan mahal di tengkulak.

Dari segi geografis, rantai logistik di sektor darat Bengkulu sangat terhambat karena adanya Bukit Barisan yang menjulang sepanjang Provinsi Bengkulu. Hal membuat lama serta tingginya proses logistik ke pusat-pusat ekonomi di Pulau Sumatra atau Jawa. Untuk sektor laut pun sama saja karena seringnya terjadi pendangkalan alur Pelabuhan Pulau Baai di Bengkulu membuat tidak dapatnya bersandar kapal-kapal dengan ukuran besar, seperti kapal tanker Pertamina serta kapal feri yang akan berlayar ke Pulau Enggano. Masalah ini membuat tersendatnya arus keluar masuk logistik ke Pulau Enggano. Hal itu berdampak pada lonjakan dan kelangkaan sembako, ditambah lagi masyarakat Enggano tidak dapat untuk menjual keluar komoditas utama mereka.

Bengkulu memiliki banyak sekali potensi ekonomi di berbagai bidang, namun karena kurangnya penanganan serta banyaknya masalah di berbagai sektor tersebut, Bengkulu tidak dapat mendapatkan hasil yang optimal. Kurangnya sumber daya manusia dan perhatian pemerintah, tidak dapat dipungkiri jika Bengkulu dicap sebagai provinsi termiskin di Sumatera. Pemerintah harusnya melakukan hilirisasi di sektor industri untuk meningkatkan daya jual komoditas unggulannya, serta pemerintah juga harus berbenah di sektor logistik terutama di Pelabuhan Pulau Baai Bengkulu karena itu adalah akses utama ke Pulau Enggano.

Penulis adalah mahasiswa S1 Jurnalistik Universitas Bengkulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!