
Gajah Sumatera di Seblat
BENGKULU NEWS – Hari itu, Sabtu 15 Agustus 2026. Saya bersama seorang teman yang juga jurnalis di Bengkulu, Gilang namanya berniat berangkat ke salah satu daerah di Provinsi Bengkulu yang punya cerita berbeda dari liputan kami sehari-hari.
Kali ini bukan kantor pemerintahan, bukan lokasi kecelakaan, bukan pula tempat orang sedang ribut. Tapi kami mau melihat gajah. Serius.
Tujuan kami adalah Pusat Latihan Gajah atau PLG Taman Wisata Alam Seblat, Kabupaten Bengkulu Utara. Tepatnya di Desa Suka Baru, Kecamatan Putri Hijau. Sebelum sampai ke lokasi, kami lebih dulu menjemput satu teman lagi yang juga jurnalis di Ketahun. Namanya Bang Doni, kepalanya sedikit botak.
Setelah formasi lengkap, perjalanan pun dilanjutkan menuju PLG Seblat. Dari Kota Bengkulu, jaraknya sekitar 132 hingga 150 kilometer. Kalau tidak berhenti, perjalanan bisa ditempuh sekitar empat sampai lima jam.
Tapi ya, itu kalau tidak berhenti. Namanya juga perjalanan. Masa iya empat sampai lima jam duduk terus? Ada berhenti untuk makan, minum, ngobrol, dan tentunya ada urusan lain yang tidak perlu saya ceritakan. Jadi, enam jam masih masuk akal. Tapi jangan dijadikan patokan empat jam sampai enam jam, nanti kalau sampai sepuluh jam marah sama penulis.
Sesampainya di pintu masuk TWA Seblat, saya kira perjalanan hampir selesai. Ternyata belum. Masih ada sekitar tiga kilometer lagi menuju lokasi. Kami harus melewati perkebunan sawit milik warga. Jalannya lumayan menantang. Ada beberapa bagian yang cukup terjal dan kalau menggunakan kendaraan yang terlalu rendah, bisa-bisa sebelum bertemu gajah kita lebih dulu bertemu masalah.
Untungnya saat itu kondisi jalan cukup kering. Sekitar sepuluh menit kemudian, tibalah kami di lokasi. Tapi, belum ada gajah. Jangan kecewa dulu karena tempat gajah-gajah itu berada masih berada di seberang sungai.
Artinya, kami harus menyeberang menggunakan perahu. Untuk masyarakat umum, penyeberangan dikenakan biaya sekitar Rp10 ribu sampai Rp15 ribu. Saya lupa persisnya berapa. Yang jelas, bayar. Dan ada satu hal yang perlu diperhatikan. Jangan datang terlalu sore. Sekitar pukul 17.00 WIB, penyeberangan sudah tidak bisa dilakukan lagi.
Kalau terlambat? Ya, menginap. Tapi tidak perlu membayangkan kami tidur sambil berpelukan dengan gajah. Di kawasan PLG tersedia tempat untuk menginap dan juga area untuk berkemah.
Hanya saja ada satu pesan penting, bawa bekal. Sebab, di sana tidak ada warung. Jadi kalau malam lapar, jangan berharap ada abang-abang lewat sambil membawa nasi goreng. Yang ada paling suara hutan dan suara gajah. Nah, itu baru seru. Hehe.
Saya berada di PLG Seblat selama tiga hari. Perjalanan ini bermula dari undangan Kanopi Hijau Indonesia dalam rangka kegiatan Hari Gajah Sedunia sekaligus memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Menariknya, gajah-gajah yang berada di PLG Seblat juga ikut dilibatkan dalam rangkaian kegiatan peringatan kemerdekaan.
Saya pun langsung tertarik. Tanpa pikir panjang, saya ikut. Dan ternyata keputusan itu membawa saya pada pengalaman yang sebelumnya belum pernah saya dapatkan. Selama tiga hari di sana, saya tidak hanya melihat gajah. Saya bisa memegang, mengelus, berinteraksi, bahkan sempat mencubit.
Tenang, cubitannya pelan kok. Saya juga masih ingin pulang dalam keadaan utuh. Dari dekat, ternyata gajah itu lucu. Mereka punya karakter masing-masing. Ada yang tenang, ada yang aktif, ada yang terlihat manja. Bahkan ada yang tingkahnya membuat kita lupa kalau hewan ini punya ukuran tubuh yang luar biasa besar.

Gajah Sumatera di Seblat
Di PLG Seblat terdapat 10 ekor gajah Sumatera yang dibina. Masing-masing memiliki nama, usia, cerita penyelamatan, dan mahout atau pawang yang mendampingi.
Yang pertama tentu saja Bona. Bona merupakan gajah betina berusia 15 tahun. Ia lahir pada November 2010 dan diperkirakan baru berusia sekitar enam bulan ketika diselamatkan dari kawasan PT Alno, Bengkulu. Bona berada di PLG Seblat sejak April 2011. Dalam kesehariannya, Bona dipandu mahout bernama Suwaji.
Setelah Bona, ada Anggarani. Gajah betina ini kini berusia 34 tahun. Lebih tua dari saya, heem. Anggarani diselamatkan ketika masih berusia sekitar empat tahun dan mulai dibina di PLG Seblat pada September 1995. Mahout yang membina Anggarani adalah Hendika Putra.
Kemudian ada Desi. Gajah betina berusia 41 tahun yang telah berada di Seblat sejak 1993. Desi diselamatkan ketika berusia sekitar sembilan tahun. Dengan usianya, Desi merupakan gajah betina dewasa yang sudah berpengalaman dan menjadi bagian penting dalam upaya pelestarian Gajah Sumatera di Bengkulu. Mahout yang mendampinginya adalah Marloki.
Lalu ada Devi, gajah betina berusia 31 tahun ini menjadi salah satu gajah yang diandalkan dalam kegiatan konservasi di PLG Seblat. Jejak penyelamatannya dimulai pada 1994 di wilayah Mukomuko. Saat ditemukan, Devi masih berusia sekitar dua tahun. Mahout Devi adalah Kuterdi.
Dari sini saya mulai melihat bahwa menjadi mahout ternyata bukan pekerjaan sederhana. Mereka tidak hanya membawa gajah berjalan-jalan. Mahout harus mengenali kebiasaan gajah yang didampinginya. Bahkan ketika gajah tidak mau makan, itu bisa menjadi tanda bahwa gajah sedang sakit atau mengalami stres. Artinya, mahout harus benar-benar mengenal gajahnya. Bukan cuma tahu nama, tapi tahu kebiasaan, tahu perubahan perilaku, tahu kapan gajah sedang baik-baik saja dan kapan harus mendapat perhatian lebih.
Kemudian, kita lanjut, ada Fatma. Usianya 38 tahun. Tua? Iya, tapi tetap cantik kok, serius. Fatma ditangkap ketika berusia sekitar delapan tahun di wilayah Mukomuko dan kini dibina oleh mahout Hairani.
Kemudian Mega. Gajah betina berusia 36 tahun ini juga berasal dari wilayah Mukomuko. Mega diperoleh ketika berusia sekitar enam tahun dan kemudian dibina di PLG Seblat. Mahout-nya Syarief Aziz.
Dari tadi betina terus ni. Sekarang kita masuk ke gajah jantan. Namanya Nelson, usianya 47 tahun, Gagah bener, tubuhnya besar dan gadingnya masih lengkap, panjang dan bersih. Kalau manusia mungkin sudah masuk kategori senior. Tapi kalau soal kegagahan, Nelson masih bisa diandalkan. Mahout-nya Barokah.
Kemudian ada Sari. Gajah betina berusia 48 tahun dan merupakan gajah tertua di PLG Seblat. Perjalanan konservasi Sari dimulai pada September 1992 ketika ia dievakuasi dari wilayah Mukomuko. Saat itu, Sari diperkirakan berusia sekitar 15 tahun. Mahout yang mendampinginya adalah Purwanto.
Lalu ada Ucok. Nama aslinya Cokro, tetapi lebih dikenal dengan nama Ucok. Usianya 31 tahun. Mahout yang mendampinginya adalah Wachid Hidayat dan Desrizal Mukhdaz.
Dan terakhir ada Robi. Gajah jantan berusia 29 tahun. Robi lahir pada 1996 dan diperoleh melalui penangkapan di wilayah Mukomuko ketika masih anak-anak. Mahout yang mendampinginya adalah Muslim dan Juliyanto.
Sepuluh gajah, Bona, Anggarani, Desi, Devi, Fatma, Mega, Nelson, Sari, Ucok dan Robi.
Setelah mengenal mereka satu per satu, saya baru paham bahwa keberadaan gajah-gajah tersebut bukan sekadar untuk dirawat dan dilihat pengunjung. Mereka juga punya peran dalam kegiatan konservasi. Gajah binaan dapat digunakan untuk membantu patroli hutan, membantu mahout memantau aktivitas pembalakan liar, serta mendukung mitigasi konflik antara manusia dan gajah.
Ketika gajah liar mendekati permukiman atau kebun warga, gajah binaan dapat membantu menghalau agar konflik tidak terjadi. Gajah juga memiliki peran ekologis, biji tanaman yang dimakan dapat tersebar melalui kotorannya. Ketika berjalan di dalam hutan, gajah juga dapat membuka jalur yang kemudian dimanfaatkan satwa lain.
Jadi, gajah bukan cuma besar badannya, perannya terhadap hutan juga besar. Namun, di balik pengalaman menyenangkan selama tiga hari di PLG Seblat, ada satu fakta yang cukup membuat saya terdiam.

Gajah Bona
Kepala BKSDA Bengkulu-Lampung Agung Nugroho mengatakan populasi gajah di Bengkulu saat ini diperkirakan hanya tersisa sekitar 25 hingga 30 ekor, termasuk gajah binaan.
“Kalau sekarang ya masih ada sekitar 25 sampai 30. Itu termasuk yang di sini,” kata Agung.
Informasi ini juga telah diberitakan sejumlah media pada 18 Agustus 2026. BKSDA menyebut populasi tersebut masih mencakup gajah binaan dan gajah liar, sementara gajah liar yang terpantau masih memiliki empat anakan.
Angka 25 sampai 30 ekor tentu bukan angka yang banyak. Apalagi jika dibandingkan dengan luas habitat yang seharusnya mereka miliki. Persoalan habitat menjadi salah satu tantangan terbesar.
Tutupan hutan yang berkurang dan perubahan kawasan menjadi perkebunan membuat ruang hidup gajah semakin terbatas. Bahkan, berdasarkan analisis Koalisi Bentang Seblat, sebagian kawasan inti Bentang Seblat telah berubah menjadi perkebunan kelapa sawit.
Gajah tentu tidak mengerti batas kebun, tidak tahu batas desa, apalagi batas administrasi. Yang mereka tahu hanya mencari makan, bergerak dan bertahan hidup. Ketika ruang hidup semakin sempit dan gajah masuk ke kebun warga, konflik pun terjadi.
Warga merasa dirugikan, gajah dianggap mengganggu. Padahal kalau dilihat dari sisi lain, bisa jadi gajah hanya sedang mencari ruang hidup yang semakin sulit ditemukan. Di situlah persoalan konservasi menjadi semakin rumit. Karena menjaga gajah ternyata bukan hanya soal menjaga gajahnya. Tetapi juga menjaga rumahnya.
Tiga hari berada di PLG Seblat akhirnya memberi saya pengalaman yang tidak mudah dilupakan. Saya datang sebagai jurnalis, membawa kamera, mencatat, mengambil gambar, mencari informasi, dan tentu saja, mencari berita.
Tetapi pulang dari Seblat, saya membawa sesuatu yang berbeda, saya membawa cerita tentang Bona yang diselamatkan ketika masih bayi, tentang Devi yang ditemukan ketika masih berusia dua tahun, tentang Sari yang kini menjadi gajah tertua di PLG, tentang Nelson dengan gadingnya yang masih lengkap, tentang mahout yang setiap hari merawat dan memahami perilaku gajah, dan tentang hutan yang menjadi rumah bagi kehidupan mereka.
Tiga hari ternyata cukup untuk membuat saya sadar bahwa selama ini kita sering melihat gajah hanya ketika mereka sudah menjadi masalah, ketika masuk kebun, kita menyebutnya konflik, ketika merusak tanaman, kita menyebutnya gangguan, ketika mati, kita menyebutnya tragedi.
Padahal jauh sebelum itu, ada satu hal yang seharusnya kita pikirkan bersama, rumah mereka. Karena gajah tidak pernah meminta rumah mewah, mereka tidak meminta jalan aspal, tidak meminta gedung, tidak meminta listrik, mereka hanya membutuhkan hutan yang cukup untuk hidup.
Dan mungkin, setelah tiga hari berada di PLG Seblat, pertanyaan yang paling penting bukan lagi sekadar berapa jumlah gajah yang tersisa, tetapi, berapa banyak ruang yang masih bersedia kita sisakan untuk mereka?
Karena kalau rumahnya hilang, cepat atau lambat, cerita tentang gajah hanya akan tersisa dalam foto, video, dan tulisan. Dan saya tentu tidak ingin suatu hari nanti anak-anak Bengkulu hanya mengenal gajah dari cerita orang tuanya. “Dulu, di Bengkulu pernah ada gajah.”
Semoga kalimat itu tidak pernah menjadi kenyataan.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!