Memaknai Simbol Komunikasi Politik Anies dan Ganjar, Bakal Capres 2024

Ilustrasi

Pilpres (Pemilihan Presiden) dan Pileg (Pemilu Legislatif) serentak akan digelar pada Rabu, 14 Februari 2024. Para bakal calon kandidat telah mulai muncul di permukaan publik. Namun, yang menjadi perhatian utama pada pemilu kali ini tentu adalah Pilpres.

Setiap proses dan peristiwa yang terjadi dalam tahapan pilpres tidak akan luput dari perhatian publik, termasuk komunikasi politik dan strategi personal branding (citra diri) yang dibentuk oleh para kandidat.

Dalam setahun terakhir, ada tiga nama digadang-gadang sebagai kandidat terkuat Capres. Tiga nama ini selalu menempati tiga besar. Temuan survei elektabilitas dari sejumlah lembaga memperlihatkan Anies, Ganjar, dan Prabowo kerap berada di urutan teratas.

Melihat tren ini, Yunarto Wijaya selaku Direktur Eksekutif Charta Politika mengatakan, persaingan kandidat Capres kedepan akan mengerucut kepada Anies dan Ganjar. Hal ini sejalan dengan langkah langkah komunikasi politik dan personal branding yang telah dilakukan oleh Anies dan Ganjar dalam beberapa kesempatan.

Setelah partai Nasdem resmi mendeklarasikan Anies Baswedan sebagai calon presiden yang akan diusung pada pilpres 2024 mendatang, Anies telah menjalani beberapa safari politiknya di berbagai daerah dengan membawa identitas simbol politik.

Identitas dan simbol yan dibawa berupa warna partai Nasdem yaitu biru dengan pakaian atau aksesoris yang ia kenakan dan tagline partai yang disampaikan melalui media sosialnya. Kesempatan tersebut digunakan partai Nasdem untuk mendapatkan efek ekor jas atau coattail effect Anies dalam meningkatkan elektabilitas partai, bonus yang akan didapatkan untuk menghadapi kontestasi pemilu 2024 nanti.

Partai-partai lain juga akan mendapatkan efek elektoral ketika sudah melakukan momentum politik dengan deklarasi Capres seperti PKS dan Demokrat yang dimungkinkan merapatkan koalisinya bersama Nasdem.

Di sisi Ganjar, dalam pidato Jokowi disampaikan kepada ribuan relawannya dari kelompok Nusantara Bersatu di Gelora Bung Karno (GBK), Sabtu, 26 November 2022, meminta masyarakat memilih calon presiden yang memikirkan rakyatnya.

“Kalau wajah cling (mulus) dan bersih, tidak ada kerutan di wajah, hati-hati. Lihat rambutnya, kalau putih semua, ini memikirkan rakyat ini”.

Dari apa yang disampaikan Jokowi tersebut simbol-simbol rambut putih kemudian kerutan di wajah merujuk kepada Ganjar, walaupun Jokowi tidak langsung menyebutkan nama, pesan tersebut untuk mengarahkan persepsi publik bahwa simbol-simbol pemimpin yang merakyat adalah berambut putih dan mempunyai kerutan di wajah

Pada akun media sosialnya Ganjar terlihat merespon pernyataan Jokowi dengan postingan tentang rambut putih dan kerutan di wajah, kemudian publik beramai-ramai membicarakannya dalam berbagai spekulasi.

Jokowi dalam hal ini berhasil mengkonstruksi sebuah pesan sehingga menjadi perhatian publik. Pesan itu juga sebagai tanda arah politik Jokowi untuk memberikan efek elektoral kepada kandidat Capres 2024, hal tersebut memicu perdebatan karena Jokowi masih menjabat sebagai Presiden yang dinilai harus bersikap netral.

Dari kaca mata teori semiotika kita bisa memaknai bagaimana simbol-simbol merupakan tanda yang disampaikan oleh komunikator politik kepada penerima pesan dan tidak terlepas dari konstruksi pesan yang disampaikan, baik melalui simbol-simbol maupun pesan-pesan yang memiliki makna tertentu, untuk menanamkan kedalam benak publik.

Dalam paradigma konstruktivis bagaimana kita menjelaskan suatu peristiwa dengan pemaknaan berdasarkan cara pandang yang berbeda, artinya dari komunikasi yang dilakukan oleh para komunikator politik tersebut, bukan hanya sekedar menyampaikan pesan akan tetapi pesan yang disampaikan telah dikonstruksi dengan tujuan tertentu dan menjadi bagian dari strategi komunikasi politik.

Pada akhirnya kita sebagai masyarakat, tentu mengharapkan dalam setiap komunikasi politik menggunakan simbol-simbol politik yang dilakukan oleh para calon kandidat dan pendukungnya, mengedepankan persatuan dan kesatuan dengan menyampaikan pesan gagasan positif bukan pesan pemecah belah bangsa.

Dari setiap peristiwa politik kita harus peka dalam memaknainya, tidak menutup mata apalagi anti politik, karena kita harus menjadi subjek (peranan) bukan hanya sebagai objek (target) pesan politik.

Dengan sudut pandang yang berbeda tentu kita akan diperkaya oleh pengetahuan-pengetahuan yang beragam dalam ruang diskusi maupun edukasi.

Penulis : Wedo Setiawan, S.I.Kom,

Mahasiswa Magister Ilmu Komunikasi, Universitas Bengkulu

Baca Juga
Tinggalkan komen