Honor 500 Penabuh Dol Rekor Muri Belum Dibayarkan Dispar

Sekretaris Dinas Pariwisata, Januar Jumalinsyah
Sekretaris Dinas Pariwisata, Januar Jumalinsyah

KOTA BENGKULU, bengkulunews.co.id – Dinas Pariwisata (Dispar) Provinsi Bengkulu diketahui belum membayarkan honor 500 penggiat musik dol pada event pesisir pantai yang mendapatkan Rekor Muri, pada Kamis 16 November 2017. Sebelumnya, Dispar menjanjikan honor sebesar Rp150 ribu per orang tersebut dibayarkan satu minggu setelah event selesai.

Ketua Asosiasi Musik Dol Bengkulu, Sukri Ramzan menyebut, sudah berapa kali anak asuhnya menanyakan kejelasan honor mereka yang belum dibayarkan.

“Anak-anak sudah banyak yang tanya, bagaimana honor mereka,” terang Sukri, Selasa (5/12/2017).

Panitia pelaksana dari Dispar Provinsi ketika dikonfirmasi membenarkan perihal keterlambatan pembayaran. Keterlambatan karena pihaknya masih menunggu keputusan dari Pemerintah Daerah.

“Semuanya berproses, prosesnya lama. Memang kami janjikan tempo seminggu pada ketua asosiasi, tapi ternyata diluar dugaan kami. Insya allah sore ini honor itu dibayarkan,” kata sumber yang tidak mau identiasnya disebutkan.

Senada disampaikan Sekretaris Dispar provinsi, Januar Jumalinsyah. Dia mengatakan penyebab keterlambatan hanya karena masalah administrasi keuangan.

“Masalah administrasi aja lah, kan itu APBD-P. Ini masalah mekanisme keuangan aja, pasti dikasih uang itu,” katanya.

“Mereka kan udah mengajukan, karena uang itu harus cair paling lambat tanggal 15,” sambungnya.

Kocek Uang Pribadi
Karena honor yang dijanjikan terlambat, pemilik sanggar Lahore, Iman Komara rela mengocek uang pribadinya untuk membayar anak asuhnya.

“Saya tutupin dulu pake uang saya karena saya mikirkan anak-anak. Keringat mereka selama 10 hari latihan, orang tua mereka nanya sama saya, anaknya capek-capek tapi hasil nya enggak ada,” pungkas Iman.

Pemilik sanggar Lahore, Iman Komara

Sama halnya dengan Iman, Emir pemilik sanggar Nyokola Belungguk. Dia juga rela mengocek uang pribadinya untuk membayar honor anak asuhnya.

Alasannya, kata dia, menghargai usaha anak-anak asuhnya yang sudah latihan demi memberikan yang terbaik untuk provinsi ini.

Selain itu, dia juga mengerti proses pembayaran dari pemerintah membutuhkan waktu lama karena birokrasinya yang rumit.

“Saya juga pake dana pribadi dulu. Karena saya tau prosesnya pasti lama. Kasihan anak asuh saya,” terang Emir.

Emir berharap Pemerintah Daerah harus lebih menghargai para penggiat seni di provinsi ini, seperti di provinsi-provinsi lain.

“Provinsi lain harus menjadi acuan dan motivasi kita. Seperti Bali, Yogyakarta, hari ini para senimannya nampil, hari itu juga keringat mereka dibayar,” demikian Emir.

Baca Juga
Tinggalkan komen