Logo

Gebrakan Gubernur Rohidin Berbuah Manis, Bandara Fatmawati Sah Dikelola Angkasa Pura II

Gebrakan Gubernur Rohidin Berbuah Manis, Bandara Fatmawati Sah Dikelola Angkasa Pura II

GUBERNUR BENGKULU Rohidin Mersyah, sangat serius dongkrak peremonomian daerah yang dipimpinnya agar berkembang lebih cepat, salah satunya dengan menaikkan status Bandara Fatmawati Soekarno menjadi Bandara Internasional.

Gubernur Bengkulu ke 10 ini, secara intens melakukan lobi dan memperluas komunikasi dengan berbagai pihak, agar bandara dengan status Badan Layanan Umum, Direktorat Jenderal Perhubungan Udara, Kementerian Perhubungan ini, bisa berkembang dan meningkatkan layanan di bawah pengelolaan PT. Angkasa Pura II (Persero).

Sekitar tahun 2014 lalu, Bandara Fatmawati Soekarno sempat direncanakan dilakukan pengembangan. Usulan perpanjangan runway ke Menterian Perhubungan menuai jalan buntu. Selain terkendala teknis juga terkendala sharing dana yang cukup besar. APBD Bengkulu yang sangat terbatas tidak memungkinkan bagi Bengkulu sharing dana hingga ratusan milyar.

Selanjutnya alternatif kedua, direncanakan relokasi bandara dari Kota Bengkulu ke Kabupaten Seluma, tepatnya di lahan PTPN VII, namun langkah ini juga tidak berhasil, relokasi gagal dilakukan.

Melihat pentingnya meningkatkan aksesibilitas dan konektivitas Provinsi Bengkulu ke kota-kota besar di Indonesia bahkan internasional. Rohidin yang baru 10 bulan dilantik sebagai Gubernur Bengkulu ini, berfikir harus ada solusi mendasar.

APBD Bengkulu yang sangat terbatas, bagi Rohidin tidak memungkinkan ikut menganggarkan pengembangan bandara. Maka solusi terbaiknya adalah dikelola PT Angkasa Pura II. Di bawah pengelolaan PT Angkasa Pura II (persero), runway bisa dikembangkan, akses ke kota-kota besar juga bisa terus dibuka, bahkan rute luar negeri seperti Malaysia, Singapura dan rute-rute internasional lainnya sangat memungkinkan dilakukan.

Jika Bandara Fatmawati Soekarno menjadi bandara internasional, maka jamaah haji Bengkulu tidak lagi transit atau bergabung dengan keloter Sumatera Barat. Hal ini sebenarnya yang menjadi tujuan akhir Gubernur Rohidin, meningkatkan fasilitas infrastruktur strafegis, dan memberikan pelayanan terbaik bagi masyarakat Bengkulu yang dipimpinnya.

Langkah-langkah cepat dan strategis yang dilakukan Gubernur Rohidin, agar Bandara Fatmawati dikelola PT. Angkasa Pura II (Persero), diyakininya dapat mempercepat Bandara Fatmawati menjadi Bandara bertaraf Internasional.

Upaya mewujudkan proses pembangunan dan pengembangan bandar udara yang representatif dengan pelayanan yang lebih memadai, telah dilakukan Gubernur Rohidin sejak dirinya menjabat Pelaksana Tugas Gubernur Bengkulu. Pada September 2017, Gubernur Rohidin temui beberapa menteri, salah satunya Menteri Pariwisata, Menteri Perhubungan dan Menteri BUMN.

Rohidin meminta dukungan berbagai pihak, agar Bandara Fatmawati ditingkatkan dan dikelola PT Angkasa Pura II (Persero). Bulan November 2017, sinyal persetujuan kerjasama dengan PT Angkasa Pura II kian menguat.

Melihat respon positif dari para steakholder, Gubernur Rohidin kian optimis mewujudkan pengalihan status Bandara, agar dapat berkembang dan menjadi Bandara Internasional.

Desember 2018, Gubernur Rohidin temui Wakil Presiden RI Jusuf Kalla, di Sekretariat Wakil Presiden. Ia memaparkan pengembangan dan pengelolaan Bandara Fatmawati oleh PT Angkasa Pura II (Persero). Mendengar paparan Rohidin yang meyakinkan, JK mendukung program yang telah dicanangkan pemerintah Provinsi Bengkulu tersebut. Rohidin komitmen akan kembali berkoordinasi dengan beberapa kementerian, agar program tersebut segera direalisasikan.

Berbagai aksi dan trobosan terus dilakukan Gubernur Rohidin, termasuk membuka akses Bengkulu ke provinsi tetangga. Rute penerbangan ke Padang, Batam, Lampung, Jambi, Palembang 2 kali sehari, dan Bandung berhasil dilakukan.

Bahkan rute penerbangan ke Medan, Jogjakarta dan kota-kota besar lainnya sedang diusulkan. Hal ini dilakukan Gubernur Rohidin, selain membebaskan Bengkulu dari keterisolasian, juga dalam rangka meningkatkan jumlah penumpang.

Tekad Rohidin mendorong pengembangan bandara cukup beralasan. Laju pergerakkan penumpang di Bandara Fatmawati cukup tinggi. Pada tahun 2018, pergerakan penumpang mencapai 1.068.450, melebihi kapasitas terminal eksistingnya yang hanya 500 ribu penumpang per tahun, dan pergerakan pesawat mencapai 9.751 pesawat per tahun.

Selanjutnya, pada Januari 2019, Gubernur Rohidin melakukan audensi dengan Kepala Staf Kepresidenan dan Kepala Sekretariat Presiden. Pada kesempatan ini, dibahas progres Program Strategis Nasional (PSN), salah satunya pengembangan Bandara Fatmawati Soekarno agar segera dikelola Angkasa Pura II (Persero).

Bulan Februari 2019, saat Presiden RI Joko Widodo berkunjunga ke Provinsi Bengkulu, Rohidin kembali menyampaikan niatnya mengembangkan Bandara Fatmawati. Mendengar keseriusan Rohidin, Presiden Jokowi pun mendukung Bandara Fatmawati diambil alih Angkasa Pura II (Persero), dan dikembangkan menjadi Bandara Internasional. Hal ini diyakini akan berdampak pada kemajuan daerah, dan perekonomian masyarakat Bengkulu.

Bulan Maret 2019, gebrakan Gubernur Rohidin membuahkan hasil. Bertempat di Balai Raya Semarak Bengkulu, Gubernur Rohidin Mersyah bersama Direktur Utama PT Angkasa Pura II (Persero) Muhammad Awaluddin, melakukan Tindak lanjut MoU antara Kementerian Perhubungan (Kemenhub) RI dengan PT Angkasa Pura II (Persero). Tindak lanjut ini, terkait percepatan serah terima pengoperasian Bandara Fatmawati Soekarno Bengkulu, dari Unit Penyelenggara Bandar Udara (UPBU) Kemenhub, kepada PT Angkasa Pura II (Persero).

Di bawah kepemimpinan Gubernur Rohidin Mersyah, bandara Fatmawati Soekarno mulai bersolek, serana penunjang sudah dibangun. Runway berukuran 2.500 x 45 meter yang dimiliki Bandara Fatmawati Soekarno, siap menjadi penggerak ekonomi bagian tengah dan barat pulau Sumetera.

Tanggal 13 Oktober 2019, gebrakan Gubernur Rohidin berbuah Manis. Bandara Fatmawati sah Dikelola PT Angkasa Pura II (persero). Bertempat di Jakarta Pusat, Bandara Fatmawati resmi diserahkan ke Angkasa Pura II oleh Kementerian Perhubungan, melalui skema Kerja Sama Pemanfaatan (KSP) aset Barang Milik Negara.

Dengan demikian, mimpi masyarakat Bengkulu untuk memiliki bandara bertaraf internasional segera tersujud. Hal ini tidak lepas dari ide-ide cemerlang Gubernur Rohidin, dalam upaya mendongkrak perekonomian nasional dari pesisir barat pulau Sumatera.(***)