Gambar BengkuluNews

Dampak Kesenjangan Digital Terhadap Akses Informasi dan Inklusi Sosial Di Lingkungan Masyarakat

Alwin Feraro
Dampak Kesenjangan Digital Terhadap Akses Informasi dan Inklusi Sosial Di Lingkungan Masyarakat

Ilustrasi. Generate by Gemini

Penulis : Lorenza Dwi Yanzi

Kesenjangan digital di Indonesia saat ini masih memperlihatkan permasalahan yang signifikan antara masyarakat kota dan pedesaan. Wilayah perkotaan telah menggunakan jaringan internet secara cepat dan stabil, sementara masyarakat yang berada di pedesaan harus menghadapi permasalahan untuk dapat mengakses jaringan internet. Permasalahan yang dirasakan seperti keterbatasan memperoleh sinyal dan permasalahan infrastruktur.

Masyarakat yang memiliki perangkat seperti smartphone atau komputer masih sangat terbatas. Akses internet, perangkat digital, dan literasi teknologi belum terdistribusi secara merata. Fenomena ini tentunya tidak hanya berkaitan dengan permasalahan ketersediaan jaringan saja, tetapi juga berkaitan dengan kemampuan masyarakat dalam memanfaatkan teknologi secara produktif. Meskipun perkembangan internet terus meningkat, kelompok masyarakat di wilayah pedesaan tetap berada dalam posisi yang kurang diuntungkan, sehingga dapat memperbesar risiko terjadinya inklusi sosial.

Hal ini terjadi karena adanya pengaruh seperti ketimpangan pembangunan infrastruktur digital. Wilayah perkotaan mendapatkan prioritas dalam penyediaan jaringan internet berkecepatan tinggi dibandingkan daerah pedesaan. Kemudian, adanya faktor ekonomi yang membatasi daya beli masyarakat pedesaan terhadap perangkat digital seperti smartphone atau komputer serta biaya akses internet. Lalu, rendahnya literasi digital yang menyebabkan masyarakat tidak memiliki pengetahuan untuk memanfaatkan teknologi secara optimal, bahkan ketika akses sudah tersedia.

Kesenjangan digital yang terjadi dapat berdampak langsung pada akses informasi masyarakat, khususnya dalam bidang pendidikan, kesehatan, dan ekonomi. Mereka yang tinggal di daerah pedesaan akan memiliki kesulitan dalam mengikuti pembelajaran secara online. Seiring berjalannya waktu, kemajuan dalam bidang pendidikan semakin meningkat.

Pembelajaran tidak hanya terjadi di lingkungan sekolah saja, tetapi juga dapat dilaksanakan di luar sekolah. Saat ini telah muncul berbagai macam platform untuk mempermudah pembelajaran seperti YouTube, Classroom, dan juga virtual class seperti Zoom. Sehingga, mereka yang sulit menjangkau atau tidak dapat mengakses internet akan memiliki ketertinggalan pada bidang pendidikan. Tidak hanya pada bidang pendidikan, mereka juga akan memiliki keterbatasan dalam mendapatkan edukasi mengenai kesehatan atau pelayanan digital. Dalam sektor perekonomian, pelaku usaha kecil itu belum mampu memanfaatkan platform digital untuk mengembangkan usaha mereka sehingga tertinggal dengan pelaku usaha yang ada di perkotaan. Hal ini terjadi karena masyarakat perkotaan telah memanfaatkan aplikasi yang dapat mengembangkan usaha mereka seperti Shopee, Tokopedia, dan lainnya. Kesenjangan digital ini juga dilatarbelakangi oleh rendahnya inklusi sosial. Masyarakat yang tidak memiliki akses digital akan terpinggirkan dari partisipasi dalam kegiatan sosial, politik, dan ekonomi.

Jika dianalisis menggunakan perspektif teori konflik, kesenjangan digital dapat dilihat sebagai bentuk ketimpangan sosial yang sudah ada. Kelompok yang memiliki kekuasaan dan sumber daya, biasanya masyarakat urban, memiliki akses lebih besar terhadap teknologi, informasi, dan peluang ekonomi digital. Sebaliknya, masyarakat pedesaan cenderung terpinggirkan karena keterbatasan akses tersebut, sehingga kesenjangan sosial semakin melebar. Dalam konteks ini, teknologi bukan menjadi alat pemerataan, melainkan justru memperkuat dominasi kelompok tertentu.

Dampak dari kesenjangan digital sangat luas dan multidimensional. Dalam bidang pendidikan, siswa di daerah pedesaan mengalami keterbatasan dalam mengakses pembelajaran daring, sumber belajar digital, dan platform edukasi, yang berpengaruh pada kualitas pendidikan mereka. Dalam bidang ekonomi, pelaku usaha di wilayah dengan akses terbatas sulit mengembangkan bisnis berbasis digital, seperti e-commerce atau pemasaran online, sehingga kalah bersaing dengan pelaku usaha di perkotaan. Sementara itu, dalam aspek sosial, keterbatasan akses informasi membuat masyarakat pedesaan kurang terlibat dalam partisipasi publik dan pengambilan keputusan, yang pada akhirnya memperkuat eksklusi sosial.

Dalam Teori Masyarakat Jaringan (Network Society) yang dikemukakan oleh Manuel Castells, kesenjangan digital dapat terjadi karena adanya ketidakmerataan masyarakat dalam mengakses jaringan informasi dan teknologi digital yang menjadi bagian penting dalam kehidupan modern. Castells menjelaskan bahwa masyarakat saat ini hidup dalam suatu sistem jaringan yang terhubung melalui internet, media sosial, dan teknologi komunikasi. Jaringan tersebut telah menjadi pusat aktivitas sosial, ekonomi, pendidikan, hingga politik. Fenomena ini dapat dilihat pada kondisi masyarakat perkotaan dan pedesaan di Indonesia. Masyarakat perkotaan telah memiliki akses internet yang cepat dan stabil, perangkat digital yang memadai, serta kemampuan literasi digital yang lebih baik. Hal ini membuat mereka lebih mudah memanfaatkan kecanggihan teknologi untuk kegiatan belajar, bekerja, bisnis online, hingga komunikasi sosial. Sementara itu, masyarakat pedesaan masih menghadapi beberapa permasalahan seperti adanya keterbatasan jaringan internet, kurangnya fasilitas teknologi, dan rendahnya pemahaman masyarakat dalam penggunaan teknologi digital. Akibatnya, masyarakat pedesaan mengalami hambatan dalam mengikuti pembelajaran daring, memperoleh informasi kesehatan, maupun mengembangkan usaha berbasis digital.

Dalam teori masyarakat jaringan, kondisi ini menunjukkan bahwa kelompok yang tidak terhubung dengan jaringan digital akan semakin terpinggirkan dari perkembangan masyarakat modern. Menurut Castells, kekuasaan dalam era modern tidak lagi hanya dimiliki oleh kelompok yang memiliki modal ekonomi, tetapi juga oleh kelompok yang menguasai informasi dan teknologi jaringan. Oleh karena itu, akses terhadap internet dan teknologi menjadi faktor penting dalam menentukan posisi seseorang di dalam masyarakat. Kelompok masyarakat yang memiliki akses digital lebih besar akan memiliki peluang lebih luas dalam memperoleh pendidikan, pekerjaan, dan kesejahteraan ekonomi. Sebaliknya, kelompok yang tidak memiliki akses digital akan mengalami eksklusi sosial, yaitu kondisi ketika masyarakat tersisih dari partisipasi sosial, ekonomi, dan politik akibat keterbatasan teknologi.

Berdasarkan teori masyarakat jaringan, solusi untuk mengatasi kesenjangan digital tidak cukup hanya dengan membangun infrastruktur internet, tetapi juga perlu disertai dengan peningkatan literasi digital dan pemerataan akses teknologi bagi seluruh masyarakat. Pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat perlu bekerja sama dalam menyediakan jaringan internet yang merata hingga wilayah pedesaan, memberikan bantuan perangkat digital bagi masyarakat kurang mampu, serta meningkatkan pendidikan literasi digital agar masyarakat mampu memanfaatkan teknologi secara produktif. Dengan adanya pemerataan akses jaringan digital, masyarakat dapat lebih terhubung dengan perkembangan informasi dan memiliki kesempatan yang sama dalam kehidupan sosial, pendidikan, dan ekonomi di era modern.

 

Lorenza Dwi Yanzi

Dosen: Diyas Widiyarti, S.Sos., M.A. dan Rizza Armelvia Sari, S.Sos, M.Sos

Mata Kuliah: Sosiologi Teknologi

Jurusan Sosiologi, FISIP, Universitas Bengkulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!