Cerita Tentara di Medan Perang : Sekali Pergi Tak Harap Pulang

Risam KT salah satu veteran berpangkat Sersan Mayor. Cindy/BN

Risam KT salah satu veteran berpangkat Sersan Mayor kelahiran Purbalingga, Jawa Tengah 18 Juli 1953 ini menceritakan sepenggal kisah saat di medan perang, Timor Timur.

Selintas ia mencoba mengingat kembali rekaman peristiwa di medan perang, kala itu umurnya masih 23 tahun dan baru diangkat sebagai tentara namun langsung ditugaskan ke lapangan.

Pada saat itu kondisi para tentara sangat kacau, tidak ada waktu untuk beristirahat bahkan sekedar buang air kecil.

Tubuh mereka dipenuhi oleh kutu, karena memakai pakaian yang sama selama satu tahun. Rambutpun panjang tidak terurus, dipikiran mereka hanyalah bagaimana cara bertahan hidup.

“Pasokan makan waktu itu susah, karena pengantaran logistiknya telat. Jadi apa yang ada di hutan kita makan,” kata Risam pada Bengkulunwes.co.id Senin (19/12/22) siang.

Kesulitan makanan menjadi sesuatu yang tidak pernah terlintas dipikirannya, bagaimana tidak sebelum menjadi tentara semua kebutuhan Risam dipenuhi oleh orangtuanya.

Setelah jadi tentara dan terjun ke lapangan, barulah ia mengerti betapa susahnya untuk bertahan hidup. Pernah kala itu temannya yang akan mengambil kebutuhan logistik, diserang dan berakhir cacat pada bagian tubuh.

Teman yang lain lagi terkena ranjau, sehingga menyebabkan kaki tentara tersebut putus. Bila diingat momen tersebut menguras air matanya, namun apa daya dirinya mau tak mau harus melanjutkan perintah atasannya itu.

Pemikiran untuk pulang selamat pun tidak terlintas dibenaknya, hanya ada pertanyaan mengenai siapa tentara selanjutnya yang akan dihadapkan oleh lawan.

Penglihatannya setiap hari adalah setumpuk lautan manusia yang telah gugur, dari satu batalyon hanya tersisa 30 nyawa.

“Kalau diingat lagi sedih kita, nyawa waktu itu tidak ada harganyalah. Jadi fikirannya apapun yang terjadi kita terima saja konsekuensinya untuk negara, tapi kalau Allah masih melindungi alhamdullilah, kita masih bisa bertemu keluarga,” jelasnya.

Ia mengatakan bahwa jika tentara belum menaiki kapal untuk pulang, maka nyawa belum pasti selamat. Sekitar 1000 orang lebih gugur kala itu, kenangan tersebut masih membekas dalam hati. Mereka yang telah gugur menjadi saksi, perjuangan para tentara di medan perang.

Risam mengatakan yang terpenting saat itu, harus selalu waspada dan mengikuti perkataan atasan. Tidak ada pangkat, semua rata dengan tujuan yang sama. Ia bersyukur bisa selamat dan pulang setelah terjun di medan perang yang begitu mengerikan.

“Saya menceritakan apa yang terjadi pada keluarga saat itu dan mereka menangis, bersyukur masih bisa pulang. Jadi kalau dibandingkan sekarang itu jauh sekali perjuanganya,” demikian Risam.

Penulis : Cindy

Baca Juga
Tinggalkan komen