Fokus Membawa Sukses, Cerita Nek Aminah Berjualan Lupis dari Tahun 80an

Fokus Membawa Sukses, Cerita Nek Aminah Berjualan Lupis dari Tahun 80an

Nenek Aminah. Foto, Cindy/BN

BENGKULU – Tubuhnya kini telah melemah. Ia tidak lagi selincah dahulu saat masih merintis usaha penjualan lupis di Kampung Bawah Kelurahan Malabero, Kota Bengkulu.

Nenek Aminah. Perempuan ini kini berusia 73 tahun. Disabilitas kongenital tidak menjadi halangan baginya untuk terus berusaha. Kini ia telah membuka toko sendiri di jalan Kapuas Raya Kelurahan Padang Harapan.

Usaha ini telah dimulai sejak tahun 80 an silam. Ia memulainya dengan modal Rp100 ribu atau setara kurang lebih tiga juta rupiah saat ini.

Awal berjualan Ia masih menggunakan meja dengan lapak yang cukup kecil, kala itu tahun 1980 jalanan masih setapak belum beraspal seperti sekarang.

Harga lupis juga masih murah hanya Rp250 perak saja per buah. Walaupun begitu Aminah tetap berusaha mencari nafkah lewat jualannya tersebut.

Suka duka tentu dirasakan, pasang surut dalam berjualan merupakan hal yang biasa dalam berbisnis. Walau memiliki kekurangan, dirinya tetap semangat dalam merintis usahanya ini, terlebih jika daganganya tidak habis.

“Namanya jualan, kadang sepi, kadang ramai. Ya kalau tidak habis bagikan saja dengan tetangga, dari pada mubazir,” tuturnya.

Kegigihan tersebut akhirnya berbuah manis, dirinya kini memiliki lapak yang luas dan satu pegawai untuk melayani konsumen.

Ia bisa menjual kurang lebih 200 kue lapis dalam sehari, tidak hanya itu ada juga lontong sayur yang seharinya laku 20 sampai 30 porsi.

Untuk harga satu buah kue lupis dikenakan Rp2500, sedangkan lontong Rp6 ribu perporsinya dan buka dari pukul 06.00 pagi hingga 13.00 siang.

“Harapannya bisa selalu ramai dan bertahan saja, sudah cukup,” demikian Aminah.

Baca Juga
Tinggalkan komen