Sustri Afriyanti: Ayahku Seorang Pejuang

Sustri Afriyanti: Ayahku Seorang Pejuang

Sustri Afriyanti. Foto, Cindy/BN

Sustri Afriyanti menceritakan kisah sang ayah yang kala itu melawan penjajahan Inggris. Ayahnya, Amin Akerudin ini bersama tentara lain melakukan perlawanan terhadap Inggris, sehingga para penjajah tersebut menangkap dan memenjarakan Amin di Padang.

Setelah Ayahnya dipenjara selama beberapa waktu, akhirnya Amin memutuskan untuk melarikan diri. Tidak ada senjata yang dimilikinya, kala itu ia hanya berpegang pada rasa percaya diri dan keberanian saja.

Setibanya di pinggir laut, ia menggunakan sebuah batok kelapa kering untuk dijadikan pelampung. Amin beserta rekan yang berenang, menyelam untuk melindungi diri. Para penjajah kala itu berfikir bahwa dirinya tidak akan selamat, menyeberangi lautan luas tersebut.

“Waktu itu bapak baru berumah tangga anak satu, ibu saya juga dikejar-kejar sama tentara Inggris. Ibu saya tidak nyaman kala itu ditanya kemana ayah saya, dia lari ke atas plafon bersembunyi. Rupanya dikejar lagi, tidak ada lilin dan penerangan jadi aman,” kata Sustri pada Bengkulunews.co.id Senin (19/12/22) siang.

Setelah suasana kembali tenang dan mulai sepi, ibunya turun dari plafon dan mencari ayahnya. Mereka bertemu tepat di hutan Desa Padang Betuah Bengkulu Utara.

Mereka bertemu dan bersatu dengan para pejuang lainnya, lalu Amin dipindah tugaskan ke Prabumulih, Palembang. Setelah Indonesia merdeka, Amin kembali dipindahkan ke Bengkulu tepat di Benteng Marlborough tempat perumahan dan kantor Kodim tahun 1970.

Lewat cerita yang disampaikan ayahnya tersebut, Sustri semakin bangga terhadap sosok tentara itu. Tidak sampai d isana setelah kembali ke Bengkulu, sang ayah mengambil peran sebagai anggota dewan dari Partai Persatuan Pembangunan (P3).

Jiwa sosial dari Amin tidak hilang, Ia membangun jalan dari Universitas Bengkulu (Unib) depan hingga Pasar Bengkulu dengan bekerjasama dengan Dinas Sosial kala itu.

Amin dan para mantan pejuang lainnya mengumpulkan dana, untuk membangun daerah gerak alam yang kini dinamai Rawa Makmur di Bengkulu.

Sepenggal cerita dari Amin mengajarkan kita untuk terus berjuang dan pantang menyerah, Sustri sebagai anak juga merasa bangga mengenai tindakan ayahnya tersebut untuk kemerdekaan dan kesejahteraan masyarakat.

Ia juga berharap para veteran yang saat ini masih ada dapat diperhatikan, karena tanpa mereka masyarakat tidak akan merasa nyaman dan aman.

“Saya sungguh bangga kepada ayah, dia hebat dan luar biasa. Saya meminta kepada pemerintah untuk memperhatikan para veteran, karena mereka para pejuang yang rela mengorbankan nyawa dan keluarga,” demikian Sustri.

Penulis : Cindy

Baca Juga
Tinggalkan komen