Berita Nasional dan Lokal #KitoNian

Kisah Refelita, Pelayan hingga Owner Buffet yang Masakannya Pernah Dicicipi Presiden

Refelita atau kerap disapa Evie. Owner Buffet Pangsit. Foto, Cindy/BN

BENGKULU – Refelita atau kerap disapa Evie yang mulai memasuki usia 54 tahun ini, memiliki kisah perjalanan panjang dalam membangun sebuah usaha bernama Buffet Evie. Evie mencoba memenuhi kebutuhan keluarganya dan menjadi seorang pelayanan di umur yang terbilang muda, sekitar 20 tahunan.

Kala itu Ia bekerja disalah satu rumah makan yang menyediakan menu khusus yakni mie pangsit. Banyak hal dikerjakannya di situ, mulai dari mencuci piring hingga melayani pembeli.

Ada mimpi yang tersimpan di dalam benaknya, yaitu membangun sebuah usaha sendiri. Jika dipikir hal tersebut mungkin bisa menjadi jembatan baginya untuk meraih kesuksesan dan dapat menghidupi keluarganya.

“Kita dari orang susah, keluarga susah, bapak sudah tidak ada lagi. Hanya punya ibu dan sudah tua, niat untuk buka usaha seperti orang-orang itu, ya mereka bisa kenapa kita tidak. Cuman niatnya untuk membahagiakan keluarga saja, jadi bertekadlah membangun usaha,” kata Evie pada Bengkulunews.co.id Jum’at (17/02/23) siang.

Modal awal yang dikeluarkannya cukup besar kala itu, yakni sekitar Rp15 juta. Uang tersebutpun hasil dari berjualan sepeda, televisi, ayam potong dan pinjaman. Menurutnya apapun yang menghasilkan uang kala itu dikerjakannya, untuk mengumpulkan modal. Tepat pada tanggal 18 Oktober 1996, Ia berhasil membuka usahanya sendiri dengan umur yang baru berjalan 26 tahun.

Awal usahanya cukup ramai, berbagai macam pengunjung datang untuk menikmati hidangan yang dijualnya. Banyak hal yang telah dilaluinya termasuk disiram kuah oleh pelanggan.

“Waktu itu cukup ramai, jadi saya itu kasih minum dan kuahnya dulu sama salah satu pelanggan baru mie-nya menyusul. Salah saya waktu itu memberikan mienya ke pelanggan lain, padahal bapak sebelahnya itu sudah lama menunggu. Jadi disiramlah saya dengan kuah pangsit yang masih panas,” jelasnya lirih.

Walaupun diguyur kuah panas yang membuat tubuhnya memar, tidak menyulutkan api amarah pada dirinya. Evie justru bersikap rendah hati dan meminta maaf, karena memang dirinya melakukan kesalahan waktu itu.

Kejadian tersebut juga tidak membuatnya patah semangat, justru Ia semakin belajar dari setiap kesalahan untuk lebih hati-hati dan teliti. Duka lain juga dirasakan saat Ia kesulitan mencari minyak tanah, dulu penggunaan kompor minyak masih ada dibeberapa rumah.

Ia mencari diberbagai tempat dan warung, sedangkan pelanggan sudah antri lama menunggu makananya. Lewat kejadian tersebut Ia belajar banyak hal, usahanya juga tidak selalu ramai kadang sepi.

Naik turun dalam membangun usaha sudah dirasakannya, hingga kini usahanya dikenal oleh banyak orang dari berbagai daerah. Semua itu juga tidak lepas dari antusia kerabat dan temannya yang memperkenalkan usahanya ini di berbagai daerah.

“Alhamdullilah jadi mereka yang dari luar kota seperti Jakarta, jawa diluar Sumater pasti datang ke tempat ini. Bapak SBY dan pak Budiyono juga sudah mencicipi, tapi tidak makan di sini kita kirimkan ke Gedung daerah dan bandara,” tuturnya.

Lewat usahanya ini juga Ia bisa menghidupkan keluarganya, hingga memiliki rumah dan kendaraan pribadi. Banyak hal yang sudah dilalui Evie tapi itu semua tidak membuatnya berputus asa dan tetap maju.

Bufetnya ini berada di jalan P. Natadirja Km 7,5 Bengkulu, buka setiap hari dari pukul 07.00 pagi hingga 15.00 sore. Untuk satu porsi mie pangsit ini dihargai Rp18 ribu saja dan tersedia berbagai minuman seperti es jeruk,es teh dan lainnya.

Ia berharap usahanya ini dapat semakin maju dan untuk harga bahan baku tidak mengalami kenaikan, sehingga pengusaha kecil seperti dirinya masih dapat terus berdagang.

“Harapan kami sebagai pengusaha kuliner semoga bahan-bahan tidak naik, tidak susah dicari, semoga juga gas LPG tidak putus. Karena untuk ekonomi sekarang ini agak susah, harapan kami pemerintah kalau bisa pikirkan usaha kecil seperti ini,” demikian Evie.

Baca Juga
Tinggalkan komen