Logo

Memilih Pemimpin Ala Manusia, Modernisasi Cara dari Hutan Belantara

BENGKULU – National Geographic pernah menulis tentang gaya kepemimpinan hewan. Artikel itu diberi judul ‘How animals choose their leaders, from brute force to democracy’ yang ditulis beberapa tahun lalu.

Pada artikel tersebut, para ilmuan dari berbagai ahli meneliti kawanan gajah, klan hyena, kawanan monyet dan sekelompok manusia dalam skala kecil.

Hasilnya, setiap kawanan memiliki cara yang berbeda dalam menentukan siapa yang berhak memimpin. Seperti gajah yang menitikberatkan pada usia tua, turun temurun layaknya Heyna atau kudeta dengan kekerasan yang dilakukan Simpanse.

Demokrasi terlihat pada sistem kepemimpinan lebah. Ini dilakukan jika situasi dalam kondisi genting, seperti saat pemindahan sarang. Jika tidak, pemilihan ratu lebah akan diputuskan dengan cara duel.

Dalam sejarah kepemimpinan manusia, cara-cara yang dilakukan oleh hewan tadi sepertinya sudah dilakukan. Bedanya, manusia memiliki akal untuk berkembang dan memilih cara yang lebih baik, sementara hewan bertahan dengan cara-cara lama.

Kita lihat saja pada sistem demokrasi ala manusia. Demokrasi saat ini tidak diterapkan hanya dalam kondisi genting. Keputusan yang melibatkan suara rakyat dimulai dari pemilihan umum, hingga keterwakilan di parlemen.

Meski demokrasi pada kelas khusus dikatakan sistem yang cacat, toh banyak negara di dunia yang menerapkan sistem yang telah lahir sejak zaman Yunani kuno ini. Indonesia menjadi salah satu dari negara tersebut, dengan demokrasi konstitusionalnya.

Kekuatan fisik, usia tua dan pertumpahan darah secara langsung tidak lagi dilakukan. Adu otot diperlihatkan dengan cara yang lebih elegan. Jumlah harta dan jumlah massa.

Tidak mirip tapi nyaris sama. Para politikus tentu enggan jika disamakan dengan hewan. Walupun manusia itu juga diklasifikasikan sebagai hewan.

Cara-cara hewani kini dimodernisasi. Para calon pemimpin, khususnya daerah, akan terpilih jika memiliki harta yang berlimpah. Tidak bisa dibuktikan memang, tapi tak ada yang bisa menyangkal uang masih menjadi standar keterpilihan pemimpin di Indonesia.

Usia tua, wawasan yang luas hingga karakter yang adil akan roboh. Makanya banyak kepala daerah yang belum lama menjabat ditangkap karena kasus korupsi. Toh mereka terpilih bukan karena otak.

Mekanisme adu kekuatan ini secara prinsip tidak berbeda dengan yang dilakukan hewan. Malah hewan lebih baik dalam tanggung jawab saat mereka terpilih sebagai pemimpin.

Tidak ada hewan yang korupsi hasil buruan, bersikap semena-mena terhadap bawahan, atau duduk di atas batu dengan perut menggembung sambil dilayani kawanan betina. Sementara manusia ada, lihat saja video Bupati Penajam Paser Utara yang ditangkap KPK beberapa waktu lalu.

Sistem politik yang dilakukan manusia memang lebih rumit. Perbedaan signifikan dengan tata cara hewan terletak pada keterwakilan rakyat di parlemen. Meski keterwakilan ini sedikit membingungkan jika disebut sebagai pemimpin secara individual.

Bisa saja disebut pemimpin, karena secara kelembagaan wakil rakyat itu setara presiden. Artinya suara wakil rakyat tidak dihitung sendiri-sendiri. Mereka akan jadi pemimpin saat menghasilkan keputusan tertentu secara kolektif.

Anehnya, koloni ini juga ingin dipilih dan diperlakuan seperti pemimpin secara individual. Persaingan mulai dari ketajaman gigi dan kekuatan tanduk menunjukkan keinginan mereka menjadi pemimpin, setidaknya dalam kelompok-kelompok kecil tertentu.