
Ilustrasi, AI
Penulis : Muhammad Reza Iqbal
Perkembangan teknologi digital di Indonesia mengalami peningkatan yang sangat pesat dalam beberapa tahun terakhir. Kehadiran internet, media sosial, serta berbagai layanan digital telah berhasil mengubah cara masyarakat dalam berkomunikasi, belajar, bekerja, hingga mengubah cara masyarakat dalam memperoleh informasi. Namun, kemajuan yang terjadi ini tentunya masih terdapat ketimpangan akses digital yang dirasakan oleh sebagian masyarakat, terutama masyarakat di daerah terpencil, kelompok ekonomi menengah ke bawah, dan masyarakat dengan tingkat pendidikan rendah. Ketimpangan ini tidak hanya memengaruhi akses informasi, tetapi juga berdampak pada partisipasi sosial masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.
Ketimpangan akses digital merupakan kondisi ketika tidak semua masyarakat memiliki kesempatan yang sama dalam menggunakan teknologi informasi dan internet. Sebagian masyarakat dapat menikmati jaringan internet yang cepat, memiliki perangkat digital yang memadai, serta kemampuan menggunakan teknologi dengan baik. Di sisi lain, masih banyak masyarakat yang mengalami keterbatasan akses internet, tidak memiliki perangkat pendukung, atau kurang memahami penggunaan teknologi digital. Permasalahan ini menyebabkan munculnya kesenjangan sosial. Masyarakat yang memiliki akses digital cenderung lebih mudah mengikuti perkembangan informasi, pendidikan, ekonomi, dan komunikasi. Sebaliknya, masyarakat yang tertinggal secara digital cenderung mengalami hambatan dalam berpartisipasi dalam berbagai aktivitas sosial maupun ekonomi.
Ketimpangan akses digital ini dialami oleh kelompok tertentu seperti ekonomi rendah, lansia, serta masyarakat dengan tingkat pendidikan yang terbatas. Pelajar dan mahasiswa di daerah tertentu juga masih menghadapi kesulitan dalam memperoleh jaringan internet yang stabil untuk mendukung proses belajar. Selain itu, pelaku usaha kecil dan masyarakat yang bekerja di sektor informal sering kali mengalami keterbatasan dalam memanfaatkan teknologi digital untuk meningkatkan pendapatan mereka. Sementara, pihak yang paling diuntungkan dari perkembangan digital biasanya berasal dari kelompok masyarakat perkotaan yang memiliki fasilitas teknologi lebih lengkap. Mereka dapat dengan mudah mengakses pendidikan online, peluang kerja digital, hingga informasi sosial dan politik melalui internet.
Ketimpangan akses digital sering ditemukan di daerah terpencil, pedesaan, dan wilayah yang infrastruktur teknologinya belum berkembang secara maksimal. Meskipun pemerintah telah berupaya memperluas jaringan internet hingga ke berbagai daerah, kenyataannya masih terdapat wilayah yang belum terjangkau internet sama sekali. Sedangkan untuk wilayah perkotaan, itu hanya sebagaian dari penduduknya. Ketimpangan yang terjadi di perkotaan terjadi karena faktor ekonomi. Hal ini terjadi karena banyaknya jumlah pengangguran sehingga sebagian dari masyarakat tidak mampu membeli perangkat teknologi seperti laptop atau smartphone dengan kualitas baik. Selain itu, biaya kuota internet yang cukup mahal bagi sebagian masyarakat menjadi hambatan tersendiri dalam mengakses layanan digital.
Permasalahan ketimpangan digital semakin terlihat jelas sejak masa pandemi COVID-19. Pada saat itu, hampir seluruh aktivitas dilakukan secara online, mulai dari pendidikan, pekerjaan, hingga pelayanan publik. Banyak masyarakat yang kesulitan mengikuti perubahan tersebut karena keterbatasan akses internet dan perangkat digital.Hingga saat ini, meskipun kondisi pandemi telah berlalu, dampak dari ketimpangan digital masih dirasakan. Perkembangan teknologi yang semakin cepat justru membuat masyarakat yang tidak mampu mengikuti perkembangan tersebut menjadi semakin tertinggal.
Jika dilihat dari sudut pandang sosilogi, maka hal ini dapat dilihat menggunakan Teori Fungsionalisme dari Emile Durkheim. Dalam teori ini, masyarakat dipandang sebagai suatu sistem yang terdiri atas berbagai bagian yang saling berkaitan dan memiliki fungsi masing-masing. Teknologi digital sebenarnya memiliki fungsi untuk mempermudah komunikasi, mempercepat penyebaran informasi, serta membantu masyarakat dalam menjalankan aktivitas sosial dan ekonomi.Namun, ketika akses terhadap teknologi tidak merata, maka fungsi tersebut tidak berjalan secara maksimal. Sebagian masyarakat dapat berkembang dengan cepat karena mampu memanfaatkan teknologi, sedangkan sebagian lainnya tertinggal akibat keterbatasan akses digital. Kondisi ini menyebabkan ketidakseimbangan dalam sistem sosial masyarakat.
Maka ketimpangan akses digital dapat diatasi melalui pemerataan pembangunan infrastruktur internet, terutama di daerah pedesaan dan wilayah terpencil yang masih memiliki keterbatasan jaringan. Pemerintah juga harus menyediakan fasilitas seperti wifi gratis di ruang publik, bantuan perangkat teknologi, serta bantuan kuota internet bagi masyarakat kurang mampu. Selain itu, lembaga pendidikan perlu mendukung sistem pembelajaran yang lebih inklusif agar seluruh pelajar dan mahasiswa dapat mengikuti perkembangan teknologi tanpa hambatan akses. Peningkatan literasi digital juga menjadi solusi penting dalam mengurangi ketimpangan digital. Masyarakat perlu diberikan pemahaman mengenai penggunaan teknologi secara bijak dan bermanfaat untuk pendidikan, pekerjaan, serta aktivitas sosial. Kerja sama antara pemerintah, sekolah, kampus, dan masyarakat sangat diperlukan agar teknologi dapat dimanfaatkan secara merata dan mampu meningkatkan partisipasi sosial masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.
Nama: Muhammad Reza Iqbal
Dosen: Diyas Widiyarti, S.Sos., M.A. dan Rizza Armelvia Sari, S.Sos, M.Sos
Mata Kuliah: Sosiologi Teknologi
Jurusan Sosiologi, FISIP, Universitas Bengkulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!