
Ilustrasi. Generate by Gemini
Penulis : Sonya Grise Veronika
Media sosial kini tidak hanya berfungsi sebagai sarana hiburan, tetapi juga berkembang menjadi ruang kerja, promosi, dan aktualisasi diri. Kehadiran fitur profesional Facebook atau FB Pro menunjukkan perubahan dalam ekonomi digital, di mana pengguna tidak sekadar berbagi konten, tetapi juga mencari penghasilan melalui platform.
Fenomena ini mencerminkan ekonomi platform yang menawarkan fleksibilitas kerja, namun tetap dipenuhi ketidakpastian. Pengguna FB Pro pun semakin beragam, mulai dari ibu rumah tangga, pekerja informal, hingga masyarakat umum yang memanfaatkan pembuatan konten sebagai sumber pendapatan tambahan, sehingga aktivitas yang awalnya hanya hiburan perlahan berubah menjadi pekerjaan digital sehari-hari.
Secara sederhana, FB Pro bekerja melalui sistem algoritma yang menentukan seberapa luas konten disebarkan. Saat kreator mengunggah video, Reels, atau postingan, konten akan diuji terlebih dahulu kepada sebagian audiens. Algoritma kemudian menilai performanya dari durasi tonton, interaksi, dan keterlibatan pengguna. Jika dianggap menarik, jangkauan konten akan diperluas dan peluang monetisasi pun meningkat. Sekilas sistem ini tampak adil karena penghasilan bergantung pada kualitas konten. Namun, sebenarnya platform memiliki kuasa penuh terhadap algoritma, aturan monetisasi, hingga akses iklan. Di sisi lain, kreator hanya bisa terus menyesuaikan diri dengan perubahan sistem yang sering kali tidak sepenuhnya mereka pahami..
Belakangan ini, banyak kreator FB Pro mengeluhkan penurunan pendapatan yang drastis. Hal ini menunjukkan bahwa performa konten tidak selalu sejalan dengan penghasilan. Perubahan kebijakan monetisasi yang dilakukan platform, seperti penggabungan berbagai skema ke dalam satu sistem terpadu, justru membuat perhitungan pendapatan menjadi semakin tidak transparan. Kreator tidak lagi memiliki gambaran yang jelas tentang bagaimana nilai konten mereka ditentukan. Di titik ini, terlihat bahwa algoritma tidak hanya berfungsi sebagai alat distribusi, tetapi juga sebagai alat kontrol ekonomi. Ia menentukan siapa yang mendapatkan perhatian, siapa yang diabaikan, dan siapa yang dibayar. Nilai sebuah konten tidak lagi sepenuhnya ditentukan oleh audiens, tetapi oleh kepentingan platform dan pasar iklan yang difasilitasi oleh platform itu sendiri.
Konten dengan jutaan penonton kini tidak lagi menjamin penghasilan besar karena monetisasi sepenuhnya ditentukan oleh aturan platform. Bahkan, konten viral bisa saja tidak menghasilkan apa-apa jika tidak memenuhi kriteria tertentu. Kondisi ini menunjukkan bahwa kreator sangat bergantung pada sistem yang tidak mereka kuasai, sehingga dapat dipahami sebagai pekerja digital yang terus memproduksi konten dan menciptakan nilai ekonomi tanpa kepastian pendapatan maupun perlindungan kerja.
Fleksibilitas yang ditawarkan platform justru sering dibayar dengan ketidakpastian yang tinggi. Di sisi lain, audiens juga berperan penting dalam ekosistem ini karena setiap like, komentar, dan durasi tontonan menjadi data yang dimanfaatkan platform untuk mengatur distribusi konten dan aliran pendapatan. Akibatnya, relasi antara platform, kreator, dan konsumen menunjukkan ketimpangan kuasa yang jelas: platform berada di posisi paling dominan karena menguasai algoritma, data, dan pasar, sementara kreator dan konsumen menjadi pihak yang terus bergantung pada sistem digital tersebut.
Menariknya, persoalan ini sering kali dibebankan kepada kreator. Mereka dianggap kurang konsisten, tidak cukup kreatif, atau tidak memahami algoritma. Padahal, jika dilihat lebih dalam, masalah utamanya bukan semata pada individu, melainkan pada struktur yang timpang. Oleh karena itu, penting untuk melihat FB Pro bukan hanya sebagai peluang, tetapi juga sebagai bentuk kerja digital yang perlu dikritisi. Tanpa transparansi dan keseimbangan kuasa, ekonomi platform berisiko menciptakan bentuk eksploitasi digital yang lebih halus. Kreator memang terlihat bebas, tetapi pada kenyataannya mereka berada dalam sistem yang menuntut produktivitas tinggi tanpa memberikan kepastian. Kedepan, diperlukan kesadaran yang lebih luas bahwa ekonomi digital bukan hanya soal inovasi, tetapi juga soal keadilan. Transparansi algoritma, kejelasan sistem monetisasi, serta perlindungan bagi pekerja digital menjadi hal yang semakin penting. Jika tidak, platform ekonomi hanya akan terus menguntungka.
Menurut teori Karl Marx, FB Pro dapat dipahami sebagai bentuk kapitalisme digital, yaitu ketika platform media sosial menguasai alat produksi seperti algoritma, data pengguna, dan sistem monetisasi. Dalam pandangan Marx, pihak yang menguasai alat produksi memiliki kuasa terbesar dalam menentukan proses kerja dan pembagian keuntungan. Pada konteks ini, platform bertindak sebagai pemilik modal, sedangkan kreator menjadi pekerja digital yang menghasilkan nilai ekonomi melalui konten dan interaksi audiens.
Konsep nilai lebih (surplus value) terlihat ketika kreator terus memproduksi konten yang menghasilkan trafik, data, dan keuntungan iklan bagi platform, tetapi pendapatan yang diterima sering kali tidak sebanding dengan nilai ekonomi yang mereka hasilkan. Kreator juga tidak memiliki kendali atas distribusi konten maupun sistem perhitungan pendapatan karena semuanya diatur oleh algoritma platform. Akibatnya, eksploitasi hadir dalam bentuk kerja digital yang tampak fleksibel, tetapi tetap menguntungkan pemilik platform.
Selain itu, teori alienasi Marx tampak ketika aktivitas membuat konten yang awalnya menjadi sarana hiburan dan ekspresi diri berubah menjadi tuntutan kerja yang harus mengikuti tren, algoritma, dan kebutuhan pasar demi mempertahankan jangkauan serta pendapatan. Fenomena ini menunjukkan bahwa di balik kebebasan yang ditawarkan ekonomi digital, terdapat ketimpangan kuasa antara platform dan kreator sehingga perlindungan, transparansi, dan keadilan bagi pekerja digital menjadi semakin penting.
Nama: Sonya Grise Veronika (NPM: D1F023060)
Dosen: Diyas Widiyarti, S.Sos., M.A. dan Rizza Armelvia Sari, S.Sos, M.Sos
Mata Kuliah: Sosiologi Teknologi
Jurusan Sosiologi, FISIP, Universitas Bengkulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!