Pengaruhi Perubahan Iklim Dunia, JAMSTEC Riset Fenomena Cuaca Bengkulu

Pelepasan balon udara untuk mengukur, arus, radar cuaca, dan parameter

Bengkulu – Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) dan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika Bengkulu melaksanakan penelitian bersama Japan Agency for Marine-earth Science and Technologi (JAMSTEC). Penelitian dilakukan bertujuan untuk mengungkap fenomena cuaca Bengkulu yang dianggap memiliki kontribusi terhadap perubahan iklim Dunia.

“Bengkulu dipilih karena menjadi tempat yang sangat strategis dalam memahami fenomena lokal maupun regional yang berpengaruh langsung terhadap cuaca yang terjadi,” kata salah seorang peneliti BPPT, Dr. Fadli Syamsudin saat press release di Kantor BMKG Fatmawati Sukarno, Rabu (27/12/2017).

Penelitian dilakukan dengan dua cara yakni pelepasan balon udara dan kegiatan melalui kapal Riset Mirai hingga 15 Januari 2018. Kegiatan meliputi pengukuran arus, radar cuaca dan parameter oseanografi seperti suhu, salinitas, tekanan dan gelombang internal. Hasilnya, dijelaskan Dr. Fadli, dapat menjelaskan alasan dibalik terjadinya perubahan cuaca.

“Hasilnya sementara terfokus pada mekanisme curah hujan. Misalnya kenapa ada curah hujan ekstrim, kenapa ada hujan yang periodenya dua sampai sepuluh hari. Banyak yang bisa dijelaskan dengan melakukan penelitian detil ini,” jelasnya.

Hal ini juga diterangkan oleh Kepala BMKG Fatmawati Bengkulu, Warjono. Menurutnya, penelitian ini dilakukan untuk menjelaskan seberapa besar pengaruh yang dihasilkan oleh perubahan iklim Bengkulu terhadap iklim regional maupun global. Ia menjelaskan perihal topografi wilayah yang berbukit serta curah hujan yang besar sepanjang tahun menjadi alasan kenapa Bengkulu dipilih sebagai lokasi penelitian cuaca.

“Bengkulu ini sepanjang tahun hujan, ditempat lain hujannya besar tapi disini kecil, disini kecil malah disana maksimum. Nah ketika hal itu berubah, akan mempengaruhi yang lain, berubah disini akan berubah di Indonesia bahkan negara lain,” terangnya.

Sementara itu peneliti dari Jepang, Ryuichi Shirooka menyampaikan, penelitian ini dilakukan untuk memperoleh data yang akurat mengenai cuaca. Ia juga mengungkapkan beberapa pengaruh yang kerap terjadi di negaranya akibat dari perubahan cuaca di wilayah maritim seperti indonesia.

“Seperti suhu dingin yang terjadi di negara kami,” katanya.

Tidak hanya Jepang, beberapa negara lain juga diprediksi akan turut serta seperti Amerika Serikat, Inggris, Australia, Philipina, Malaysia, Singapura, Taiwan dan Korea. Semuanya tergabung dalam program Kampanye Internasional Pengamatan Intensif Cuaca dalam Rangka Year of Maritime Continent (YMC) 2017 di perairan barat Sumatera.

Program tersebut direncanakan selesai pada 2019 mendatang. Untuk Indonesia, keuntungan dari kampanye ini akan meningkatkan akurasi prediksi cuaca yang bermanfaat pada kepentingan transportasi baik laut maupun udara, serta membantu program ketahanan pangan nasional.

Baca Juga
Tinggalkan komen