
Kondisi Lapangan Stadion Sawah Lebar. (sumber: mediacenterbkl)
Oleh: Felicia Natalie Jeconiah Marpaung
Langkah Pemerintah Provinsi Bengkulu yang memprioritaskan rehabilitasi Stadion Sawah Lebar menjelang pelaksanaan Pekan Olahraga Pelajar Daerah (POPDA), tentu memunculkan secercah harapan baru. Bagi masyarakat di Bumi Rafflesia, khususnya para pencinta olahraga, kondisi stadion kebanggaan kita memang sudah lama membutuhkan perhatian serius akibat penurunan kualitas fasilitas di berbagai sudutnya. Langkah taktis pemerintah daerah ini patut kita apresiasi tinggi sebagai bentuk komitmen dalam menata infrastruktur olahraga demi menyukseskan ajang bergengsi antarpelajar tersebut.
Namun, jika kita bersedia menelisik lebih dalam secara kritis, rencana renovasi ini memantik sebuah refleksi penting mengenai pola pembangunan di daerah kita. Mengapa perbaikan fasilitas publik berskala besar sering kali baru dikebut ketika sebuah momentum kegiatan atau acara besar sudah di depan mata? Pola “kejar tayang” seperti ini seolah menegaskan kesan bahwa pembangunan infrastruktur di daerah kita masih bersifat reaktif, bukan berbasis pada perencanaan jangka panjang yang konsisten dan berkelanjutan.
Tentu kita tidak ingin Stadion Sawah Lebar hanya dipandang sebagai proyek kosmetik musiman. Anggaran yang digelontorkan untuk merenovasi stadion bukanlah uang yang sedikit, melainkan bersumber dari pajak rakyat yang harus dipertanggungjawabkan setiap rupiahnya. Oleh karena itu, masyarakat perlu ikut mengawal dan menakar sejauh mana arah dari proyek renovasi ini agar tidak berakhir menjadi proyek euforia sesaat yang kehilangan marwah begitu pita peresmian selesai digunting.
Catatan kritis pertama yang perlu diperhatikan adalah jaminan fungsionalitas dan pemeliharaan jangka panjang. Kita sudah terlalu sering melihat fenomena di berbagai daerah di Indonesia, di mana sebuah stadion megah direnovasi besar-besaran demi menyambut pekan olahraga, namun beberapa tahun kemudian terbengkalai, ditumbuhi rumput liar, dan fasilitasnya rusak karena minimnya biaya perawatan. Stadion Sawah Lebar harus didesain dengan visi ke depan. Fasilitas ini harus memenuhi standar yang mampu memantik bangkitnya ekosistem olahraga prestasi di Bengkulu secara berkesinambungan, mulai dari pembinaan atlet lokal, pusat latihan daerah, hingga kesiapan menggelar kompetisi berkala pasca-POPDA usai.
Kedua, aspek transparansi dan akuntabilitas pengerjaan di lapangan menjadi harga mati yang tidak bisa ditawar. Publik, termasuk kalangan mahasiswa dan pemuda selaku pengguna aktif fasilitas olahraga, berhak mengetahui secara jelas detail masterplan renovasi, estimasi waktu penyelesaian, hingga alokasi anggarannya. Keterbukaan informasi ini sangat krusial, bukan hanya untuk menutup ruang bagi potensi penyimpangan anggaran, melainkan juga untuk menumbuhkan rasa memiliki (sense of belonging) dari masyarakat Bengkulu terhadap stadion kebanggaannya sejak awal proses pembangunan dimulai.
Ketiga, renovasi ini sudah sepatutnya diintegrasikan dengan pemulihan ekonomi lokal dan ruang publik masyarakat. Stadion modern di era digital hari ini tidak boleh lagi bersifat eksklusif hanya untuk para atlet profesional pada jam-jam tertentu. Stadion Sawah Lebar yang baru nantinya harus ramah terhadap masyarakat umum yang ingin memanfaatkannya sebagai ruang terbuka hijau, pusat rekreasi keluarga yang sehat, hingga wadah bagi UMKM lokal di sekitarnya untuk menggerakkan roda ekonomi daerah. Infrastruktur yang inklusif akan membuat stadion ini selalu “hidup” dan memberikan dampak sosial-ekonomi yang nyata bagi warga sekitar.
Pada akhirnya, rencana renovasi Stadion Sawah Lebar adalah momentum krusial bagi kemajuan infrastruktur publik di Provinsi Bengkulu. Kita semua berharap, proyek ini dikerjakan dengan perencanaan yang matang, eksekusi yang jujur, dan pengawasan masyarakat yang ketat. Pemerintah daerah harus membuktikan kepada publik bahwa renovasi ini adalah investasi jangka panjang untuk mendongkrak kualitas hidup warga Bengkulu dan mencetak atlet berprestasi, bukan sekadar proyek kejar semalam yang kehilangan fungsi setelah ajang POPDA berakhir.
Profil Singkat Penulis:
Felicia Natalie Jeconiah Marpaung adalah Mahasiswa Program Studi S1 Jurnalistik di Universitas Bengkulu. Aktif dalam mengamati isu sosial di Kota Bengkulu. Saat ini berdomisili di Bengkulu.

Elvi Ansori
Mei 22, 2026
Kiyuimup
Mei 20, 2026