Logo
Dempo Xler

Jawoto, Sosok Transmigran Ulet dan Tekun

Jawoto, S.Pd, SE, M.Pd

Jawoto, S.Pd, SE, M.Pd

Jawoto, S.Pd, SE, M.Pd

PEJABAT yang mempunyai sosok dan latar belakang mampu menjalani hidup dan kehidupan yang sabar dalam menghadapi segala aspek ujian dan cobaan. Beranjak dari seorang Transmigrasi yang ulet dan tekun, Jawoto S.Pd, SE, M.Pd menuju kesuksesan menjadi Pejabat dan orang nomor satu di Dinas Kepegawaian dan Sumber Daya Manusia (DKPSDM) Daerah Kabupaten Mukomuko.

Perjalanan Kehidupan dan karierJawoto sangat cukup panjang dan berliku-liku, dengan tekad berjuang serta semangat yang bulat Jawoto punya sosok yang sangat menurut terhadap orang tua serta sanak familinya, sehingga Jawoto rela menjadi transmigran ke Pulau Sumatera, tepatnya di Kecamatan Mukomuko Utara Provinsi Bengkulu pada tahun 1990, sebelum Mukomuko dimekarkan menjadi kabupaten pada waktu itu.

Ia bersama keluarga menjadi transmigran karena adanya Proyek Pembangunan Waduk Kedung Ombo pada zaman orde baru pada tahun 1982-1985 sehingga masyarakat Kabupaten Boyolali dan sekitarnya kena imbas penggusuran lahan yang mereka tempati sehingga mau tak mau harus mencari tempat tinggal yang baru dengan menjadi transmigrasi serta ikut program pemerintah.

Zaman Pemerintahan Orde Baru di era Presiden Soeharto memang sedang gencarnya melakukan pemerataan penduduk dengan transmigrasi. Berbekal Pendidikan keguruan Diploma II jebolan Universitas Sebelas Maret Solo ini melamar jadi CPNS di kampungnya Boyolali, ketika itu Jawoto muda memulai karirnya menjadi seorang guru CPNS pada tahun 1985-1990 Dengan mengajar di sekolah SMP.

Walau telah menjadi seorang PNS Jawoto tetap punya kemauan keras menjadi pengikut transmigrasi. Bersama keluarga besarnya Jawoto dikirim menteri tenaga kerja dan transmigrasi menuju daerah Mukomuko dan di tempatkan di SP 3 Air Majunto dan ada juga yang ke SP 7, itu lokasi tanah pertanian yang mau digarap oleh keluarganya.

KELUARGA BAHAGIA : Bersama Isteri, Anak, Menantu,dan Cucu

Setelah meminta surat mutasi dari Dinas Pendidikan Kabupaten Boyolali, Jawoto memperoleh surat pindah mengajar ke Mukomuko, dan penempatan pertama ditempatkan di SMPN 4 Lubuk Pinang, ini dilakoninya selama 3 tahun dari tahun 1990-1993, berkat keuletan dan kepintarannya dalam mengajarJawoto berhasil dinobatkan menjadi guru teladan di Bengkulu Utara pada tahun 1994.

Setelah itu kariernya melejit dan diorbitkan menjadi Kepala Sekolah SMPN 8 Lubuk Sanai ditahun 1995. Sosok pria yang mudah senyum ini mengingat kisahnya sambil menerawang mengenang masa-masa sulitnya merintis karir dan perjuangan hidup kala itu.

“Istri yang sangat saya cintai juga ikut menambah pundi-pundi ekonomi yang cukup terbatas dengan cara berjualan goreng-gorengan kenangnya, disebabkan gaji guru masih sedikit masa itu,” ujar Jawoto mengingat masa lalunya.

Setelah lama berkarier jadi guru, dengan berjalannya waktu, Mukomuko berhasil dimekarkan menjadi kabupaten sendiri dan kariernya juga naik dan menanjak. Mukomuko memisahkan diri dari kabupaten induk Argamakmur kala itu, Karir Jawoto menanjak menjadi kabid pendidikan di lingkungan Diknas Kabupaten Mukomuko dia menduduki posisi ini tahun 2003-2004. Karena kecakapan dan kepintarannya dia juga dipercaya dan terpilih menjadi Ketua PGRI (Persatuan Guru Republik Indonesia) Kabupaten Mukomuko. Karena dorongan masyarakat serta menengok potensi Jawoto pada tahun 2005 masyarakat Mukomuko mencalonkan dirinya menjadi calon wakil Bupati kabupaten yang baru terbentuk ini.

“Tetapi nasib belum berpihak, saya kalah waktu itu ungkapnya sehingga dengan kekalahan tersebut roda kehidupannya menjadi terpuruk dan kehidupan ekonominya memburuk. Karena kesabaran saya serta integritas dalam bekerja pada tahun 2009 saya kembali dipercaya Bupati Ihwan Yunus menjadi Kadis Disdukcapil, dan ini saya jalani selama 7 tahun dari tahun 2009 sampai 2015,” tuturnya.

Perjuangan hidupnya tak semulus yang dibayangkan orang lain, dirinya hidup dengan segala kekurangan, karena gaji yang diterima menjadi PNS cukup kecil.

“Tetapi saya selalu bersyukur karena semua itu Allah SWT yang mengatur tuturnya. Karena saya punya prinsip hidup dengan bersekolah dan punya pendidikan yang baik kita akan bisa berjuang dalam hidup untuk mencari penghidupan yang lebih baik, dan telah terbukti sampai saat sekarang, dulu pergi mengajar kesekolah saja saya harus mendayung sepeda ontel biar sampai ke tempat mengajar di SMPN 4 Lubuk Pinang. Jaraknya cukup jauh dari tempat tinggal saya waktu itu,” ujarnya.

Ayah dari tiga putri dan dua orang putra ini mempunyai pendirian yang kuat tentang pentingnya arti pendidikan untuk kehidupan. Sehingga orang nomor satu di dinas kepegawaian ini bersemangat menyekolahkan anak-anaknya ke jenjang perguruan tinggi yang berkualitas di Kota Jogjakarta, karena kota ini menurutnya biaya pendidikan cukup murah dan terjangkau kota ini dalam penilaiannya paling aman untuk menimbah ilmu buat anak-anaknya sehingga Kota Jogjakarta menajadi primadona keluarga ini. Pria Supel dan energik kelahiran Boyolali 12 Februari 1962 ini juga seorang Sarjana Ekonomi yang berasal dari Universitas Terbuka.

“Sarjana ekonomi yang saya capai ini ada hikmahnya buat saya, gelar ini saya selesaikan dikala saya terpuruk dan non job sebagai pejabat ditahun 2005 itu.Penyebab lain dikarenakanhoby saya memang membaca buku,” ucap Jawoto lagi.

Karena dari hoby inilah koleksi bukunya menjadi sangat banyak. Ia mengibaratkan jika dinilai dengan materi harga semua buku yang dimilikinya ini tak sebanding dengan nilai sebuah mobil mewah. Menurut analisis dan pemahamannya dengan buku menjadikan pintar dan menjadi manusia berkualitas serta bisa mengaturemosi.

“Saya bekerja menjadi pejabat bukan permintaan pribadi, tetapi ini didapat karena prestasi yang saya bikin dalam berkarir dan bekerja sebagai birokrat. Saya juga mengalami masa-masa pahit dan getir. Setelah kekalahan saya menjadi wakil bupati ditahun 2005, uang habis semua teman menjauhi saya, selama 2 tahun sempat non job dan kembali menjadi staf biasa ini pukulan yang cukup berat bagi kehidupan saya,”beber Jawoto.

Selalu berpindah-pindah dari dinas yang satu ke yang lain adalah hal yang lumrah bagi Jawoto. Tetapi dirinya tetap tabah menjalani cobaan hidup itu, karena semua pekerjaan yang dilakukan hanya untuk kemajuan masyarakat.

“Semua pekerjaan pasti saya lakukan dengan ihklas dan sabar. Sehingga apa yang saya lakukan akan saya kerjakan sebaik mungkin. Kita harus bekerja keras dan bekerja cerdas supaya apa yang kita rencanakan bisa berjalan sesuai dengan yang kita harapkan,” kata dia.

Dengan posisinya saat ini Jawoto merasa hidupnya sudah nyaman dan lebih dari cukup, karena semua jabatan dan pangkat itu adalah titipan dan amanah dari Allah, SWTyang harus dijaga sebaik mungkin.

Dalam kesehariannya selain membaca, Jawoto hobi membaca, main tenis meja termasuk menjadi Photografer. Ini dilakukannya untuk mengisi kekosongan waktu senggangnya saja. Pria ramah dan supel ini juga suka berkebun, tetapi karena kerendahan hatinya dia tidak mau mengungkapkan berapa luas kebun yang dimilikinya.

“Saya suka ke kebun kalau lagi libur saja,karena dengan ke kebun batin saya jadi tenang,” kata Jawoto.

Ketika disinggung mengenai SDM PNS yang dipimpinnya Jawoto mengatakan secara diplomatis, SDM yang dimiliki Kabupaten Mukomuko cukup bagus, tetapi perlu ditingkatkan lagi dengan cara mengadakan Diklat dan tambahan pendidikan bagi mereka, biar PNS ini nantinya bekerja bisa lebih berkualitas dan bagus lagi, sebab tanpa diklat dan pelatihan mustahil bisa menjadi lebih maju dan bisa menyamai kabupaten lain.

Bagi suami Sriganiati ini anak-anak adalah harta yang tak ternilai, makanya dalam mendidik anak mereka selalu melakukan pola kebersamaan dan kasih sayang, Ayah dari Fajar Anita puspita sari anggota DPRD Kabupaten mukomuko ini berusaha selalu tenang dan sabar dalam menghadapi segala permasalahan.

“Saya masih ingat pesan kepala sekolah Prans Sugiarto seorang guru teladan di daerah Boyolali. Sebelum saya berangkat beliau berpesan bekerjalah dengan baik serta jujur, maka apa yang dicita-citakan akan tercapai,” tutupnya. (**)

Biodata

Jawoto, S.Pd, SE, M.Pd
Tempat Tanggal Lahir : Boyolali 12 Februari 1962

Pendidikan
Diploma II Universitas Sebelas Maret – Solo
Sarjana Pendidikan Universitas Muhammadiyah – Palembang
Sarjana Ekonomi-Universitas Terbuka – Jakarta

Karier
Kepala Sekolah SMPN 1 Mukomuko
Kabid Pendidikkan Disdik Kab Mukomuko
Kepala Dinas Disdukcapil Kab Mukomuko
Kepala Dinas Badan kepegawaian dan sumberdaya Manusia Kab Mukomuko