Logo

Rohidin Minta Dukungan Pembuatan Film Kisah Fatmawati

Penyerahan Kunci. Foto MC Pemprov

Penyerahan Kunci. Foto MC Pemprov

Penyerahan Kunci. Foto MC Pemprov

KOTA BENGKULU, bengkulunews.co.id – Plt Gubernur Bengkulu Rohidin Mersyah menyambut baik kunjungan kerja Komisi X DPRD RI.

Dikesempatan itu, Rohidin meminta dukungan pembuatan film kisah Fatmawati agar terwujud menjadi film nasional yang rencananya akan diproduksi dalam waktu dekat ini.

”Fatmawati merupakan ikon Indonesia, yang merupakan putri asli Bengkulu yang menjahit bendera pertama Republik Indonesia. Kita upayakan Film ini dapat terwujud menjadi film nasional,” kata Rohidin, Rabu (13/11/2017).

kunjungan DPR RI. Foto MC Pemprov

Tidak hanya itu, Rohidin juga memaparkan, potensi pariwisata Provinsi Bengkulu dari sisi Budaya dan Sejarah. Rohidin mengatakan, Bengkulu memiliki tempat pariwisata yang menarik secara historis. Seperti Benteng Marlborough (peninggalan inggris), Rumah Pengasingan Bung Karno, Rumah Fatmawati, Makam Inggris dan Masjid Jamik Bung Karno.

Namun, lanjut Rohidin, untuk pembangunan infrastruktur dan mempromosikannya dia meminta dukungan dari Komisi X DPR RI selaku perwakilan dari Pusat.

”Wisata sejarah disini banyak, namun perlu sedikit dukungan dari segi infrastruktur dan promosi,” papar Rohidin.

kunjungan DPR RI. Foto MC Pemprov

Sementara, Ketua Komisi X DPR RI Djoko Udjianto mengakui bahwa Provinsi Bengkulu memiliki peran strategis dalam sejarah kemerdekaan bangsa Indonesia. Dia menyebut Bengkulu mempunyai nilai historis sejarah yang kuat dalam sejarah Indonesia.

”Bengkulu ini istimewa, sejarah Indonesia merdeka ada disini, jadi jangan ragu untuk berwisata kesini. Kita juga akan berupaya untuk mewujudkan apa yang Bengkulu butuhkan di pusat,” ungkap Djoko, dalam kunjungan kerja di Ruang Rafflesia Kantor Gubernur Bengkulu.

Pada kesempatan ini, juga dilakukan penyerahan tiga unit mobil perpustakaan keliling dari Perpustakaan RI secara simbolik kepada tiga kabupaten antara lain, Kaur, Bengkulu Selatan, dan Bengkulu Utara.

”Minat baca di Indonesia sangat rendah, menurut survey hanya 1 banding 1000. Oleh sebab itu, Bengkulu menjadi contoh bagi daerah lain,” tutur Djoko, yang pernah juga di Komisi IV DPR RI.(red/adv)