Kisah Emy Bangun Usaha dari Nol, Sempat Dicibir karena Jual Jeruk Asam

Emy Yanty (kiri) pengusaha Sirup Kalamansi, Bengkulu. BN

Jeruk kalamansi merupakan buah yang dapat ditemukan di depan pekarangan rumah warga Bengkulu.

Pemanfaat jeruk kalamansi dulu tidak seperti sekarang, kebanyakan warga hanya mengkonsumsi jeruk dalam memenuhi kebutuhan memasak ataupun untuk kesehatan kulit wajah.

Namun kini perkembangan jeruk kalamansi sebagai sirup unggulan, membuat namanya terkenal di berbagai daerah bahkan hingga ke luar negeri.

Harganya bersaing, dahulu per kilonya hanya dihargai Rp3 ribu hingga Rp5 ribu. Tapi saat ini harganya sudah mencapai Rp10 ribu ke atas per kilogramnya.

Perkembangan manfaat jeruk kalamansi juga dirasakan oleh beberapa usaha UMKM yang ada di Bengkulu. Pemilik Putri Bengkulu sekaligus perintis UMKM sirup jeruk kalamansi, Emy Yanti sudah memulai usahanya ini sejak 2001 silam.

Ia mengaku mengawali usahanya ini hanya bermodalkan uang Rp250 ribu dan alat masak seadanya yang dimiliki di rumah.

“Modal awalnya itu ya gula dua kilo, sama panci aja yang ada di rumah waktu itu,” kata Emy pada Bengkulunews.co.id Jum’at (18/11/22) siang.

Tentu merintis usaha tersebut tidaklah semudah membalikkan telapak tangan, seringkali sirup yang dibuatnya harus terbuang karena beberapa hal.

Belum lagi hinaan serta ejekan dari tetangga, mengenai usahanya yang dianggap aneh. Saat itu hanya segelintir orang yang tau bahwa jeruk kalamansi bisa dijadikan sirup segar.

“Banyak ejekan dari oranglah, kenapa menanam dan jual jeruk yang asam. Banyak macamlah cemooh yang kita dapat, belum lagi dulu itu bukan untung malah rugi, karena selalu dibuang sirupnya,” jelasnya.

Namun hal tersebut tidak membuatnya ciut, justru hinaan dijadikannya sebagai batu loncatan untuk mencapai kesuksesan.

Ia optimis bahwa suatu hari nanti usaha jeruk miliknya akan dikenal banyak orang, belum lagi Emy harus memikirkan kondisi para petani pohon jeruk miliknya.

Akhirnya mimpi Emy kini menjadi nyata, usahanya kini dikenal banyak orang bahkan menjadi sebuah produk unggulan di Provinsi Bengkulu.

Sederet penghargaan didapatkan dari hasil kerja kerasnya tersebut. Diantaranya penghargaan Siddhakarya tahun 2016, penghargaan dari Gubernur Bengkulu hingga penghargaan Paramakarya dari Wakil Presiden Jusuf Kala tahun 2017.

Modal yang dulu hanya Rp250 ribu kini membuatnya berpenghasilan Rp50 hingga Rp60 juta perbulannya. 10 pohon buah jeruk yang ditanamnya dulu kini sudah melebar hingga menjadi 900 lebih pohon.

Emy harus mengirimkan 600 botol per bulan kepada setiap reseller yang tersebar di Indonesia, seperti Jakarta, Tanggerang, Bali, Sulawesi, Malang dan seluruh wilayah Sumatera.

Dengan perkembangan usahanya ini Ia berharap kedepannya sirup jeruk kalamansi, dapat dikenal hingga luar negeri.

“Ibu tidak mau mendengarkan apa kata orang, fokusnya tetap maju saja. Malah sekarang banyak juga umkm yang bertumbuh, ibu senang sekali dan harapannya kedepan sangat ingin produk ibu bisa dijangkau keseluruh daerah dan bisa ekspor,” demikian Emy.

Baca Juga
Tinggalkan komen