Logo
Dempo Xler

Ini yang Dinilai dalam Lomba Wastra Kain Batik Besurek Dekranasda Bengkulu

Kerajinan Kain Batik Besurek dalam perlombaan Dekranasda. Foto, Cindy/BN.

Kerajinan Kain Batik Besurek dalam perlombaan Dekranasda. Foto, Cindy/BN.

BENGKULU – Acara penilaian Kriya dan Wastra dalam kegiatan Dewan Kerajinan Nasional Bengkulu, telah masuk ke sesi ke dua setelah melakukan penilaian Anjungan setiap daerah.

Salah satu juri Wastra perwakilan Bengkulu sekaligus seniman kain Besurek, Alcala Zamora menuturkan dalam penilaian kali ini memiliki dua poin penting. Poin tersebut terdiri dari bahan yang berasal dari alam bukan zat pewarna buatan dan perpaduan motif batik khas daerah masing-masing dengan batik besurek.

Seniman kain batik besurek, Alcala Zamora. Foto, Cindy/BN.

“Untuk wastra batik berdasarkan petunjuk pelaksanaan (juklak) dan petunjuk teknis (juknis) panitia, beberapa hal yang dinilai adalah bahan harus berasal dari alam bukan cat. Kemudian perpaduan antara batik yang ada di kabupaten kota di gabung dengan besurek,” kata Alcala saat di temui oleh Bengkulunews.co.id Senin (26/06/23) siang.

Selain dua poin penting tersebut, tentunya tetap berpaku pada empat aspek karakteristik yakni aspek desain, teknik pembatikan, filosopi makna serta nilai jual. Nilai jual sendiri akan didalami bagaimana penjualan dipasar, tergantung dengan kualitas produk yang di keluarkan pengerajin.

Sedangkan beberapa penilaian juga diambil dari kreativitas dan gagasan yang sudah masuk ke dalam kerangka nilai dari prodak. Pengerajin juga diminta untuk membuat karya original yang berarti produk dengan model baru bukan lama. Pengerajin juga diminta untuk memberikan identitas daerah pada setiap karya wastra yang mereka tampilkan, sehingga menjadi penilaian penting.

“Kemudian pengerajin diminta untuk menyajikan satu karya dengan ukuran 200 elak kain, serta harus mencerminkan dan lebih menonjolkan kearifan budaya daerah,” lanjutnya.

Pengerajin juga diminta untuk melakukan pembuatan motif menggunakan teknik canting tulis ataupun cap, namun tidak diperbolehkan dengan teknik printing. Karena hal tersebut tidak termasuk proses dalam membatik yang sebenarnya.

Alcala juga mengaku bahwa perlombaan ini merupakan pertama kalinya bagi karya wastra batik, dengan komunitasnya atau bahan satu jenis saja. Tentunya berbagai kabupaten kota Provinsi Bengkuu, mengikuti perlombaan tersebut dengan antusias. Ia berharap lewat perlombaan ini dapat membantu pengerajin dalam mengembangkan karyanya lewat bahan bahan alami.

“Tujuan kita ini untuk memotivasi pengerajin agar  menghindari printing, bagaimaan pengerajin membuat dan memproses pembatikan yang sebenarnya melalui tulis atau cap. Yang penting prosesnya pembantikan, kalau printing bukan batik. Kita harapkan zat warna alami dapat berkembang, karena selama inikan kita menggunakan zat warna sintetis, presiun dan lain-lain. Nah ini kita utamakan zat pewarnanya dari bahan baku yang ada di daerah,” demikian Alcala. (Advetorial)