Berita Nasional dan Lokal #KitoNian

Catatan Hari Kartini; Wanita Berdaya Atau Diperdaya?

Ilustrasi. Foto, Dok/BN

Perbincangan tentang wanita selalu menarik. Bukan karena wanita kerap disebut- sebut dalam momen tahunan hari kartini. Tetapi di balik kelembutannya, ternyata wanita menyimpan daya besar. Banyak ungkapan yang menggambarkan kehebatan dan kekuatan wanita. Begitu hebatnya wanita sehingga digambarkan wanita adalah tiang negara.

Tak hanya  hebat bagi dirinya, wanita ternyata juga berada di belakang pria hebat. Siapa yang tak kenal sosok BJ Habibie? Di balik sukses  beliau ternyata ada peran istrinya, Ibu Ainun Habibie.

Konon, sekalipun kurang akalnya, ternyata wanita adalah sosok kuat yang memainkan peran dalam memegang percaturan dunia. Sebut saja Zeyno Baran, seorang tokoh wanita Yahudi konsultan Nixon Center yang sempat menjadi penasehat Presiden Bush. Dialah wanita think thank AS yang merancang strategi adu domba di antara gerakan-gerakan Islam  untuk tujuan menghalangi  kebangkitan Islam.

Gerakan pemberdayaan perempuan dengan slogan wanita maju, kuat dan mandiri, membuat banyak wanita salah kaprah dalam memahami jati dirinya. Atas nama ketersalingan peran, rame-rame wanita berkarir di luar rumah. Tak hanya menjadi pegawai kantoran, buruh pabrik atau TKW. Bahkan menjadi pemain bola, petinju dan pegulat pun dilakoninya juga.

Walau menuai kontroversi, beberapa  wanita  pernah menjadi imam sholat bagi jamaah laki-laki. Sekarang bermunculan sosok polisi dan satpol wanita, kernet sampai supir bis wanita.  Semua itu menunjukkan bahwa wanita bisa menunjukkan eksistensi dan kesejajarannya di hadapan pria.

Namun di balik gerakan pemberdayaan wanita yang diusung feminisme, ada racun berbalut madu yang mematikan wanita. Ingin berdaya menopang ekonomi keluarga, wanita justru diperdaya  menjadi mesin-mesin uang yang mencabut fitrah keibuan mereka.

Ingin berdaya lewat eksistensi keperempuanannya, yang terjadi  wanita diperdaya lewat eksploitasi tubuhnya demi kepentingan bisnis dengan mengorbankan rasa  malu mereka. Ingin berdaya lewat intelektualnya, justru mereka  diperdaya liberalisasi perempuan dengan menjual ayat- ayat Allah melalui rekonstruksi fikih perempuan.

Ketika tiang negara ini rapuh, maka rapuhlah seluruh sendi-sendinya. Bukan bahagia dan sejahtera yang diraih, namun pemberdayaan yang berujung  pada keretakan keluarga dan hancurnya generasi.

Pada dasarnya manusia memang makhluk yang  menginginkan agar dirinya eksis dan berdaya guna. Sebab keinginan itu berasal dari dorongan naluriahnya. Dan itu sah-sah saja selama tidak melanggar fitrahnya. Oleh karena itu, Allah SWT membatasi eksistensi manusia hanya dengan taqwanya.

“Sesungguhnya yang paling mulia diantara kalian adalah yang paling taqwa..”(QS Al Hujurat: 13)

Selama  perempuan berpegang dengan taqwa, tak perlu merasa iri dengan kelebihan yang telah Allah anugerahkan pada  laki-laki. Allah SWT berfirman “Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain. (Karena) bagi orang laki-laki ada bahagian dari pada apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” [An Nisaa’ 32]

Dari sisi kemanusiaannya, Allah telah mengkaruniakan laki-laki dan perempuan potensi akal yang membuat mereka menerima beban taklif yang sama. Dalam hal ibadah (sholat, puasa, zakat, haji), berdakwah,  menuntut ilmu dan muamalah, laki-laki dan perempuan memiliki kewajiban yang sama.

Sementara karena perbedaan jenis,  Allah telah membedakan peran laki-laki dan perempuan dalam kehidupan. Perempuan memiliki rahim yang mempersiapkan dirinya menjadi ibu dan pendidik generasi sementara laki-laki dibebankan kepadanya kewajiban mencari nafkah.

Dengan bentuk tubuh yang “khas”, perempuan diperintahkan menutup aurat sementara tubuh laki-laki yang kekar dipersiapkan untuk menjalankan kewajiban berjihad. Pembedaan itu bukanlah untuk tujuan merendahkan perempuan melainkan  menjadikan perempuan sosok yang terpelihara lagi dimuliakan.

Untuk itu tak  perlu menuntut diberdayakan secara fisik karena Allah telah mempersiapkan perempuan menjadi manusia yang kuat dengan mengandung calon bayi penerus generasi manusia.

Tak perlu menuntut diberdayakan secara karir karena Islam telah memberikan perempuan karir terbaik sebagai ibu dan pendidik generasi. Tak usah menuntut diberdayakan dalam bidang pendidikan, karena faktanya masa keemasan Islam telah mewujudkan perempuan-perempuan ulama dan intelektual.

Tak usah menuntut diberdayakan dalam bidang ekonomi karena faktanya selama 13 abad hidup dalam naungan Khilafah, semua perempuan hidup bahagia dan sejahtera. Mari kita bercermin pada  perempuan-perempuan  penghulu  ahli surga. Khadijah yang memberdayakan hartanya untuk perjuangan dakwah suami tercinta.

Fathimah, istri yang memberdayakan  dirinya untuk berkhidmat dalam rumah tangganya, Maryam yang mewakafkan dirinya untuk beribadah dengan hidup membujang serta Asiyah yang mengorbankan nyawanya untuk meninggikan kalimat Allah. Merekalah sosok perempuan sukses dunia akhirat. Berdaya bagi keluarga dan umat. Tak terperdaya dan diperdaya oleh zamannya.

Penulis : Indah Kartika Sari, SP
(Forum Muslimah Untuk Studi Islam)

Baca Juga
Tinggalkan komen