Canting Berlilin Coklat Di Telapak Tangan yang Keriput

Canting Berlilin Coklat Di Telapak Tangan yang Keriput

Tati (52 th) saat memperlihatkan hasil karya batik Besureknya
Tati (52 th) saat memperlihatkan hasil karya batik Besureknya

KOTA BENGKULU, bengkulunews.co.id – “Nak, jika ibu meninggal nanti, kamu teruskan ya usaha Batik Besurek ibu.” Kalimat ini terasa aneh ditelinga seorang anak yang baru lulus sarjana pendidikan.

Seolah, orang tua tidak mendukung anaknya yang ingin menjadi seorang pahlwan tanpa tanda jasa. Dengan polos anak itu menjawab ‘iya’, ibunda pun merasa bahagia.

Membatik, memang bukan pekerjaan yang populer di Provinsi Bengkulu. Apalagi di kalangan usia muda, membatik dipandang pekerjaan yang kolot. Padahal, tidak sedikit pula yang menggantungkan hidup dengan membatik. Malahan, pembatik mampu menyekolahkan anaknya hingga lulus sarjana.

Tati Daud, pengrajin batik Kain Besurek berusia 52 tahun yang masih eksis saat ini. 30 tahun bukan waktu yang lama, selama itu ia masih merasakan panasnya terkena tetesan lilin.

Seakan tidak peduli tangan manis berusia 22 tahun waktu itu terkelupas akibat panasnya lilin. Tidak mengira pula tangannyapun menjadi berwarna usai mencelupkan kain.

“Bu ajarkan ya. Tolong ajarkan ya, saya belum terlalu bisa.” Itulah seruan Tati pada gurunya saat pertama kali memegang canting. Usia yang cukup muda, membuatnya punya semangat menjadi seorang yang rajin dan pantang menyerah, hingga membuat dirinya bisa membatik. Pahitnya belajar dengan orang lain dilumatnya, walaupun hanya bisa membatik dengan cara melihat dan memperhatikan saja.

Selama 2 tahun batik yang dibuatnya masih amburadul. Motif yang ia hasilkan tidak laku keras. Tetapi, untung saja dengan melihat semangat dan ketekunannya, bos di tempatnya bekerja masih mempertahakannya.

Lima tahun berjalan, Tati mulai mahir. Motif yang ia hasilkan diminati para pecinta batik. Dan akhirnya, ia memutuskan untuk memproduksi sendiri dengan modal seadanya. Setelah batik sudah diproduksi Tati mengalami kesulitan dalam memasarkan batik, hingga ia membawa keliling batik hasil tangannya ke kantor-kantor dan menitipkan batiknya ke warung oleh-oleh. Tak jarang ia merengkuk sedih, karena banyak yang “ngutang”. Terpaksa, ia mencari modal lagi untuk bisa memproduksi yang baru.

Perjalanannya mencari nafkah berubah menjadi sebuah perjuangan. Berjuang mempertahankan batik Kain Besurek untuk terus bisa bertahan, bisa eksis dan menjadi kebanggaan.

Sekarang, canting yang berisikan lilin berwarna coklat itu hanya digenggam oleh tangan yang keriput, tua dan renta. Tidak adakah lagi tangan manis yang ingin menggenggamnya? membuat polanya lebih modern dan berwarna.

Apa yang salah dengan Kain Besurek? ini bisa menjadi faktor krusial, sehingga pemerintah perlu melakukan terobosan penting (significant breakthrough) untuk membongkar masalah ini. Pembatik Kain Besurek di Bengkulu mayoritas berusia 40 tahun ke atas. Tidak ada pembatik Besurek yang berusia 20 tahun.

Apa ini sebuah dilema? Wajar saja tidak ada hal yang baru pada motif Kain Besurek. Inovasi seakan tergerus pikun, terkubur tanah dan jenat tak berdaya.

Kain Besurek sudah cukup bertahan. Seharusnya tidak hanya bertahan. Besurek sudah menjadi warisan budaya nasional dan hari Batik Besurek pun ditetapkan pada tanggal 18 November. Belum cukupkah itu membuktikan Kain Besurek sangat berharga. Kain Besurek perlu inovasi tapi bukan dari tangan yang keriput.

Perbandingan yang sangat jauh dengan Batik Betawi. Membatik menjadi tren di lingkungan ini. Tidak dipungkiri, penghasilannya memang begitu menggiurkan. Inilah yang mendorong usia muda berbondong-bondong ingin menjadi anak dari pengrajin batik.

Motif yang diciptakan pengrajin sungguh inovatif. Berbagai ikon Betawi tergambar di lembaran kain, baik ondel-ondel, abng none, roti buaya, burung hong bahkan seni budaya Betawi. Gambarnya pun diceritakan dengan warna-warni yang unik dan selaras.

Ini anak muda, ini pemikiran usia muda, anak muda yang membuat penjualannya lebih meningkat. Tidak ada pengrajin batik asli Betawi di sana. Pengrajin berasal dari Pekalongan dan solo. Kenapa ini bisa populer? padahal kita punya pengrajin sendiri. Pertanyaan besar bagi kita.

Penghasilan menjadi pembatik Kain Besurek tidak menggiurkan. Ini tidak menjadi pilihan menarik bagi lulusan sarjana bahkan SMA. Memegang canting, bagi mereka sama saja dengan memegang sapu atau pluid.

Kain Besurek sangat sulit dijual. Sejak 30 tahun lalu hingga sekarang, itu masih dirasakan pengrajin batik. Pembatik hanya diselamatkan oleh program pemerintah. Pergantian pemimpin, harapan hidup kembang kempis. Apa ini akan terus seperti ini? Bila terus seperti ini, Kain Besurek akan terancam punah. Menyisakan foto dan sejarah saja.

Saat ini, kesadaran dan semangat generasi muda bukan untuk besurek, tapi untuk menyelamatkan hidup. Secara bertahap, cita-cita Kain Besurek berada dalam gelap. Bahkan, generasi muda inilah nanti menjadi penjajah Kain Besurek. Karena membawa batik perinting ke Bengkulu, baginya ini lebih menjanjikan. Jangan sampai ini menjadi perang dingin, pengrajin batik dengan pengusaha batik perinting harus bisa balance.

“Janji ya nak, bantu kakak mu teruskan usaha yang telah ibu rintis ini. Jangan lupakan jasa batik Besurek ini nak. Kamu bisa seperti ini karena Besurek.” Kalimat ini dilontarkan Tati kepada anak keduanya yang sekarang sedang bekerja sebagai pramugari salah satu maskapai Indonesia di Jakarta, yang berpenghasilan kisaran 10 juta rupiah setiap bulannya. Dari situ timbul jawaban yang tidak bisa kita duga.

Seharusnya, giliran generasi muda yang memegang canting. Pelatihan dan pembinaan masih belum cukup. Bukan hanya pemerintah, tapi seluruh elemen harus bisa ikut menumbuhkan semangat perjuangan menyelamatkan Besurek. Pemerintah sudah banyak membantu, Bank Indonesia saat ini juga sudah gencar membina dan mempromosikan Kain Besurek ke seluruh daerah di negeri ini.

Kini, pengetahuan dan teknologi yang dimiliki generasi muda sangat dibutuhkan, agar Kain Besurek tak tergerus zaman. Bila bersama-sama kita berjuang, permasalahan ini akan terpecahkan. Bayangkan dari ribuan anak muda bicara Kain Besurek, betapa hebatnya Besurek terdengar di luar. Betapa hebatnya juga Besurek bila disuntik dengan ide dan inovasi seluruh anak muda di Provinsi Bengkulu.

Ayo, sadari, ini bukan hanya tugas pemerintah tapi ini tugas kita bersama sebagai masyarakat Bengkulu. Siapa lagi kalau tidak kita yang mendorong kesadaran itu. Meski tak memegang canting, meski tak memanggul Kain Besurek, meski tak ada motif untuk ditulis, berjuanglah untuk menceritakan bahwa Kain Besurek adalah kain warisan budaya yang perlu kita jaga dan kita lestarikan. Kain besurek kebanggaan “kito”, populerkan batik dikalangan generasi muda, karena generasi inilah yang bisa membawa Kain Besurek dikenal dunia.

Baca Juga
Tinggalkan komen