Gambar BengkuluNews

Aktivis: Warga Negara Paling Berbahaya

Aktivis: Warga Negara Paling Berbahaya

Ilustrasi. AI Generated

Oleh : Muhammad Prihatno

Di banyak negeri yang mengaku demokratis, ada satu jenis warga negara yang selalu membuat penguasa gelisah: aktivis. Mereka tidak membawa senjata, tidak memimpin pasukan, tetapi cukup dengan suara, pena, dan keberanian untuk mengguncang singgasana yang sudah bertahun-tahun bertahta. Maka tak heran jika penangkapan, persekusi, dan kriminalisasi terus terjadi, sering kali dengan cara-cara yang memalukan: penculikan berwajah sipil, tuduhan makar yang dibuat-buat, atau sekadar dibungkam di balik jeruji besi tanpa proses hukum yang layak.

Mengapa mereka begitu ditakuti?

Karena aktivis tidak sekadar mengeluh. Mereka menyuarakan substansi kebobrokan rezim: bukan hanya korupsi satu proyek, tetapi sistem yang dirancang untuk melanggengkan ketidakadilan. Mereka mampu membangunkan rakyat dari tidur panjangnya, dari ilusi “semua baik-baik saja”. Mereka punya kemampuan pengorganisasian, ideologi yang utuh, jaringan yang luas—terbuka maupun bawah tanah—dan yang paling berbahaya: mereka telah memilih jalan hidup yang tidak lagi memikirkan diri sendiri. Mereka mewakafkan hidupnya untuk transformasi, bukan sekadar reformasi kecil-kecilan yang bisa dinegosiasikan di meja makan malam.

Itulah sebabnya, bagi penguasa yang zalim dan korup, aktivis adalah ancaman eksistensial. Lebih berbahaya daripada teroris, karena teroris bisa ditumpas dengan peluru, sedangkan aktivis hanya bisa dibungkam sementara—ide mereka tetap hidup di kepala ribuan orang yang pernah mendengarnya.

Menjadi aktivis sejati bukan panggilan mudah

Ia menuntut syarat-syarat keras, antara lain:
• Selalu merasa “kurang”, sehingga lapar ilmu menjadi napas sehari-hari hingga kecerdasan dan referensi menyatu dengan darah dagingnya.
• Selalu hadir di tengah rakyat, merasakan sendiri pahitnya hidup mereka—bukan sekadar datang saat ada kamera dan massa.
• Skeptisisme total terhadap setiap kebijakan dan janji penguasa.
• Terlatih berdiskusi dengan siapa saja—buruh, petani, akademisi, ulama—karena perjuangan membutuhkan argumen, bukan hanya teriakan.
• Rela mewakafkan diri untuk transformasi.
• Belajar membunuh rasa takut setiap hari.
• Membuka diri selebar-lebarnya terhadap kritik, bahkan menciptakan ruang dan media agar kritik mengalir deras kepadanya.

Sejarah mencatat dua wajah aktivis.

  1. Wajah yang mulia:
    Hampir semua perubahan besar dalam peradaban manusia dipicu oleh aktivis. Kemerdekaan, penghapusan perbudakan, hak suara perempuan, jatuhnya tirani—semuanya bermula dari segelintir orang yang berani berdiri ketika yang lain memilih diam. Mereka adalah penyegar peradaban, pemberi harapan ketika segalanya tampak gelap.
  2. Wajah yang memalukan:
    Terlalu banyak aktivis yang berubah menjadi monster begitu kekuasaan diraih. Marah yang dulu membara karena nurani ternyata hanya karena belum kebagian kursi kenikmatan. Penderitaan rakyat yang dulu dijadikan alasan perjuangan kini hanya menjadi tangga menuju kekayaan dan privilese. Godaan kekuasaan, uang, dan kenikmatan biologis mampu merontokkan ideologi yang dulu diteriakkan di atas mimbar.

Paradigma Aktivis

Aktivisme bukan profesi, bukan pula hobi akhir pekan. Ia adalah pilihan hidup yang lahir dari kedalaman spiritual—sebuah komitmen yang tak lagi bisa ditawar. Ia adalah perjanjian antara diri sendiri dengan nilai-nilai yang dianggap suci.

Karena itu, seorang aktivis selalu berada dalam perjuangan terberat: bukan melawan rezim, bukan melawan polisi, bukan melawan fitnah—tetapi melawan dirinya sendiri. Melawan godaan untuk berkompromi, melawan keinginan untuk nyaman, melawan bisikan bahwa “cukup sampai di sini saja”.

Maka, ingatlah selalu:
Tak ada aktivis tanpa integritas.
Begitu integritas runtuh, ia bukan lagi aktivis. Ia hanya mantan pejuang yang kini menjadi bagian dari kebobrokan yang pernah ia lawan dengan gagah berani. Dan sejarah, dengan dingin dan tanpa ampun, akan mencatat namanya di kolom yang paling memalukan.

Aktivis sejati tahu bahwa kemenangan terbesar bukan ketika rezim jatuh, melainkan ketika ia tetap berdiri tegak sebagai manusia utuh—meski dunia di sekitarnya sudah lama ambruk karena korupsi dan kepalsuan.

Itulah sebabnya, sampai akhir hayatnya, seorang aktivis tetap menjadi warga negara paling berbahaya—bagi penguasa yang korup, dan bagi dirinya sendiri yang terus diuji oleh godaan kekuasaan.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!