Gambar BengkuluNews

Konsolidasi atau Kuburan: Catatan dari dan untuk Bukit Sanggul

Alwin Feraro
Konsolidasi atau Kuburan: Catatan dari dan untuk Bukit Sanggul

Oleh : Muhammad Prihatno

(Serial tulisan tentang Tolak Tambang Emas Bukit Sanggul Seluma)

Ada sebuah bukit curam di Seluma, Bengkulu, bernama Bukit Sanggul—bagian dari Pegunungan Barisan yang lerengnya bergelombang tajam. Dari puncaknya mengalir sepuluh sungai besar yang memberi makan delapan puluh desa, ribuan hektare sawah, dan ratusan ribu nyawa.

Di bawah tanahnya tersimpan emas, konon, senilai Rp11 triliun. Di atas tanahnya tumbuh hutan lindung yang sejak 2023 telah diturunkan statusnya menjadi hutan produksi. Di sana PT Energi Swa Dinamika Muda sudah mengantongi IUP eksplorasi, dan bila tak ada yang menghentikan, buldoser akan melahap bukit itu dalam waktu dekat.

Tulisan ini bukan menceritakan kisah baru. Ia hanya pengulangan dari ribuan kisah tambang di negeri ini: emas untuk elite, racun untuk rakyat, janji lapangan kerja yang berakhir dengan air keruh dan anak-anak yang batuk darah karena merkuri.

Yang membuat Bukit Sanggul istimewa bukan besarnya cadangan emas, melainkan fakta bahwa kali ini rakyat masih punya waktu—dan masih punya pilihan: bersatu atau binasa. Sementara di banyak tempat lainnya, sakit rakyat telah menusuk tulang punggung.

Sejarah perlawanan rakyat di mana pun selalu menuliskan hukum yang sama: tanpa konsolidasi yang disiplin, kemarahan massa hanya akan menjadi asap yang cepat hilang ditiup angin. Konsolidasi bukan sekadar rapat-rapat, bukan pula sekadar membuat grup WhatsApp baru. Ia adalah proses panjang mengubah kumpulan individu yang takut dan tercekik menjadi satu tubuh yang bergerak serentak, yang tahu kapan harus diam, kapan harus berteriak, dan kapan harus memukul.

Ada empat tahapan yang tak boleh ditawar dalam proses itu.

Pertama, WACANA.

Sebelum rakyat “turun ke jalan”, ia harus lebih dulu turun ke dalam hatinya sendiri—ada nurani yang senantiasa mendampingi, yang menjadi energi abadi. Dari situlah semuanya dimulai.

Di Seluma, wacana yang hidup bukanlah seminar akademik di hotel ber-AC, melainkan obrolan malam di surau, cerita nenek tentang sungai yang dulu jernih, foto-foto sawah yang mulai retak karena tambang ilegal di hulu.

Wacana yang baik tidak memakai bahasa dokumen KLHK, melainkan bahasa ibu: “Kalau bukit ini bolong, anak kita minum apa?” Kalimat sesederhana itu, jika diulang ribuan kali dari mulut ke mulut, mampu membakar lebih ganas daripada seribu spanduk.

Kedua, PENGETAHUAN.

Amarah tanpa data akan menghasilkan “bumerang efek”. Rakyat Seluma perlu tahu persis: berapa hektare hutan yang akan lenyap (19.939 ha), berapa debit air yang akan hilang, bagaimana merkuri mengalir dari tailing ke piring nasi mereka.

Data itu harus sampai ke tangan tukang ojek, ibu-ibu arisan, dan anak SMA—bukan hanya ke aktivis yang sudah terbiasa membaca Amdal. Ketika seorang petani bisa menjelaskan dengan tenang kepada polisi Brimob bahwa tambang ini melanggar Perda No. 3 Tahun 2022 tentang Perlindungan Masyarakat Adat, saat itulah kekuasaan mulai gentar.

Ketiga, ORGANISASI.

Perlawanan besar yang tidak punya struktur hanya akan melahirkan martir, bukan kemenangan. Di Seluma sudah ada benih-benihnya: Walhi, Genesis, AMAN, GMKI, komunitas adat Serawai, kelompok mahasiswa Unib, dan ratusan warga biasa yang mulai muak.

Yang diperlukan sekarang adalah mengikat benih-benih itu menjadi satu jaringan hidup: sepuluh orang inti yang tak bisa dibeli, lima puluh kelompok kecil di setiap kecamatan, seratus kurir yang siap berlari membawa pesan bila terjadi kedaruratan—umpamanya. Organisasi yang baik tidak terlihat di medsos, tetapi terasa di lapangan: ketika satu orang ditangkap, seribu orang sudah tahu harus ke mana.

Keempat, TEKNIS.

Ini tahap yang paling diremehkan, padahal paling menentukan hidup mati. Air minum, masker, obat luka, radio HT, powerbank, peta jalur evakuasi, nomor pengacara, safe house, dana darurat—semua harus ada sebelum teriakan pertama terlontar.

Gerakan yang hanya punya semangat tetapi tak punya logistik akan mati di hari ketiga. Gerakan yang punya logistik akan hidup bertahun-tahun. Namun logistik terpenting bukanlah materi, melainkan semangat perlawanan.

Bukit Sanggul sedang berdiri di persimpangan sejarah yang sangat sempit. Rekomendasi Pinjam Pakai Kawasan Hutan belum turun. Gubernur masih bisa berkata, “Kami tak ingin rakyat sengsara.”

Mahkamah Agung masih bisa menerima gugatan. Masih ada celah tipis untuk menang tanpa mengorbankan satu nyawa pun. Namun celah itu hanya akan tertutup selamanya jika rakyat Seluma gagal melakukan apa yang selalu gagal dilakukan oleh ribuan komunitas lain di negeri ini. Maka diperlukan konsolidasi yang sabar, “ganas”, dan tanpa kompromi.

Jika berhasil, Bukit Sanggul akan menjadi monumen bahwa rakyat kecil di ujung Sumatra bisa mengalahkan korporasi bermodal triliunan dan negara yang lalai menjaga rakyatnya. Jika gagal, bukit itu akan menjadi kuburan hijau berikutnya—dan kita semua tahu cerita selanjutnya: air keruh, anak sakit, anak-anak tak sekolah, dan lagu pengantar tidur yang berjudul “Dulu sungai kami bening.”

Pilihan ada di tangan kita sekarang.

Bukan besok.

Bukan minggu depan.

Sekarang!

Dan pilihan itu hanya dua: KONSOLIDASI atau KUBURAN.

Seluma, waktumu hampir habis. Mulailah saat ini juga—dari desa mana pun, dari sepuluh orang saja. Karena kalau bukan kita yang membela Bukit Sanggul, tak ada lagi yang akan membela anak cucu kita nanti.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!