Sepanjang 2017, Belasan Balita di Seluma Menderita Gizi Buruk

SELUMA – Dalam kurun waktu 2017 ditemukan 13 kasus balita menderita gizi buruk di Kabupaten Seluma.

Menurut Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Seluma, Chaidir Muchtar, para penderita gizi buruk tersebut tersebar di Desa Cahaya Negeri tiga orang, dan dua orang di Kelurahan Air Periukan dan Desa Talang Tinggi. Serta masing-masing satu orang di Seluma Timur, Rimbo Kedui, Puguk, Kembang Mumpo, Muara Maras serta Kota Tais.

“Dua orang diantaranya meninggal dunia, yaitu di Air Periukan dan Puguk,” kata Chaidir, Rabu (24/1/2018).

Balita di Air periukan karena orang tua bayi memiliki keterbelakangan mental sehingga tidak memahami tata-cara merawat bayi dengan baik, sehingga dititipkan pada neneknya.

Dan ketika ditangani oleh tim medis, kondisinya sudah menurun, sehingga meninggal di RSUD Tais.

“Sementara yang di desa Puguk, keadaan bayi memiliki penyakit penyerta yaitu bronhitis atau kelainan pada pernapasan dan paru-paru,” tutur Chaidir.

Kondisi itu diperparah lagi dengan kesadaran orang tuanya yang tidak ingin anaknya dirawat secara medis.

Pada umumnya usia bayi penderita gizi buruk dibawah dua tahun dan ada beberapa diatas dua tahun.

Dinkes Seluma sendiri sudah berupaya menangani secara khusus jika ada ditemukan kasus tersebut dengan perawatan intensif.

Penanganan medis selama tiga bulan dan telah dianggarkan dananya dari APBD yaitu Rp.100 juta untuk bayi yang dirawat dirumah dan Rp.35 juta yang dirawat di Puskesmas/RSUD.

Sementara saat ini secara umum kondisi bayi penderita gizi buruk sudah berangsur-angsur membaik, tetapi yang di Desa Kembang Mumpo kondisi bayi mengalami kelainan jantung, sehingga harus dioperasi dan disarankan ke Jakarta. Tetapi keluarga bayi tidak memiliki ongkos untuk berangkat berobat.

“Tahun 2016 lebih banyak lagi, yaitu 22 kasus dan dua diantaranya meninggal dunia,” tutup Chaidir.

Baca Juga
Tinggalkan komen