Sejarah Radio; Nostalgia dan Masa Depan Penyiaran

Sejarah Radio; Nostalgia dan Masa Depan Penyiaran

Siaran Radio Semarak. Foto, Dok Nin/BN

BENGKULU – “Saudara pendengar di seluruh Kepulauan Nusantara, Inilah Radio Republik Indonesia”. Suara ini sangat melegenda di era 80an. Intonasi yang berat diiringi instrumen lagu Rayuan Pulau Kelapa sukses memikat pendengarnya untuk tetap setia.

Media penyiaran ini menjadi yang nomor satu sebelum dunia ‘dijangkiti’ teknologi super seperti sekarang. Perkembangan radio di Indonesia diawali oleh Batavia Radio Vereniging (BRV) pada 16 Juni 1925 di Batavia (kini Jakarta).

Dulu, radio banyak digunakan untuk alat propaganda perang seperti saat Jepang menduduki Indonesia. Sebab, media penyiaran yang ditemukan oleh Guglemo Marconi (1906) ini memiliki kemudahan baik dari teknis maupun siaran, sebelum digaungkanya media visual seperti televisi.

Setelah keruntuhan Jepang akibat bom Hiroshima dan Nagasaki, Radio mengambil peranan kunci dalam merealisasikan kemerdekaan RI melalui momentum proklamasi. Sejak saat itu, Radio milik Jepang Hoso Kyoku yang baru sebulan didirikan berhenti pada 19 Agustus 1945.

Penghentian ini membuat delegasi dari delapan bekas radio Hosu Kyoku menggelar pertemuan dengan pemerintah. Hasilnya, pada 11 September 1945 disepakati lahirnya radio milik Indonesia, RRI dengan Abdulrachman Saleh sebagai pemimpinnya.

Hingga sekarang, eksistensi radio ternyata tidak memudar. Penyiaran digital dan tsunami internet tidak melemahkan identitas radio sebagai media penyiaran favorit. Fleksibiltas radio membuatnya sukses beradaptasi dengan perkembangan teknologi dunia.

Buktinya, berdasarkan data Outlook Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Indonesia 2020/2021, televisi dan radio mengalami pertumbuhan sebesar 10,42% pada 2020. Data Nielsen Radio Audience Measurement kuartal ketiga 2016 juga menunjukkan waktu mendengarkan radio per minggu bertumbuh dari tahun ke tahun.

Masa Depan Radio

Temuan Nielsen juga menunjukkan hingga kuartal ketiga 2016 terlihat bahwa 57% dari total pendengar radio berasal dari Generasi Z dan Milenial. Sesuai dengan yang disampaikan Kepala stasiun RRI Bengkulu, Nenny Afrantiny.

“Hasil survey KPI akhir tahun kemarin, di kalangan milenial itu RRI masih menjadi radio yang paling dominan didengarkan,” kata Nenny pada bengkulunews.co.id, Minggu (13/02/2022).

Untuk mengimbangi serangan teknologi, RRI melakukan sejumlah terobosan dengan cara-cara yang lebih modern. Alih-alih bertahan dengan penyiaran audio, radio tertua di Indonesia ini juga mengkuti tren dengan upgrade ke media online dan visual.

“Banyak sekali yang bisa ditawarkan, ada RRI Magazine, bisa juga lihat TV RRI, itu bagaimana suasana studio yang bisa dilihat langsung, penyiarnya bisa ditonton juga,” sambungnya.

RRI juga membagi segmennya menjadi beberapa programa yang menyasar golongan usia hingga profesi.

“Kita punya tiga programa, konten lokal untuk usia TK sampai orang tua, kiprah Indonesia untuk masyarakat petani dan nelayan di desa, program lokal milenial dan programa budaya yang kita sasar anak muda,” sampainya.

Selain RRI, terdapat beberapa radio di Bengkulu yang masih mengudara. Sebagian darinya merupakan radio kampus seperti L-BAAS, Semarak Unihaz, Swaraunib, Jazirah dan Radio Dehasen. Sisanya ada beberapa radio yang cukup terkenal seperti Lesitta, Santana dan radio daerah lainnya.

Baca Juga
Tinggalkan komen