
Ilustrasi. AI Generated
(Serial tulisan tentang Tolak Tambang Emas Bukit Sanggul Seluma)
Pertambangan bukanlah sekadar industri ekstraktif yang mendulung pembangunan nasional, melainkan instrumen utama bagi kepentingan segelintir pihak: penguasa, politisi, dan pebisnis. Ketiganya bukan entitas terpisah, melainkan jaringan simbiosis yang saling menguatkan, di mana aliran sumber daya alam menjadi bahan bakar untuk mempertahankan dominasi.
Penguasa—baik di tingkat eksekutif maupun birokrasi—memanfaatkan lisensi dan regulasi pertambangan sebagai alat kontrol politik. Izin tambang sering kali diberikan secara selektif, bukan berdasarkan prinsip keberlanjutan lingkungan atau kesejahteraan rakyat, melainkan untuk membangun loyalitas dan mengamankan dukungan. Politisi, di sisi lain, menjadikan sektor ini sebagai sumber dana kampanye dan pengaruh elektoral. Melalui undang-undang yang longgar atau amendemen kebijakan, mereka memastikan aliran keuntungan mengalir ke kantong sekutu, sambil menyamarkan praktik korupsi di balik retorika “investasi asing” atau “pertumbuhan ekonomi”.
Pebisnis, sebagai ujung tombak operasional, meraup keuntungan eksponensial dari eksploitasi sumber daya—batu bara, nikel, emas, hingga mineral langka—dengan biaya lingkungan dan sosial yang ditanggung masyarakat luas. Mereka tidak beroperasi dalam ruang hampa; hubungan erat dengan penguasa dan politisi menjamin perlindungan hukum, subsidi terselubung, dan penundaan penegakan aturan. Ini bukan koinsidensi, melainkan desain sistemik: konsesi tambang menjadi mata uang politik untuk membeli pengaruh, sementara keuntungan finansial dikonversi menjadi modal kekuasaan.
Pada hakikatnya, semuanya bermuara pada satu tujuan: menjaga kekuasaan. Pertambangan bukan untuk rakyat atau bangsa, tapi untuk melanggengkan oligarki yang mengorbankan hutan, air tanah, dan masa depan generasi demi stabilitas rezim saat ini. Di balik janji lapangan kerja dan pendapatan negara, tersembunyi agenda perpetuasi elit—sebuah lingkaran setan di mana sumber daya alam habis, sementara kekuasaan tetap utuh di tangan yang sama.
HANYA DENGAN MEMUTUS RANTAI SIMBIOSIS INI, KEADILAN SEJATI ATAS BUMI NUSANTARA DAPAT DITEGAKKAN
Oleh : Muhammad Prihatno

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!