Kisah Pria Uzur, Rela Mengais Barang Bekas untuk Menyambung Hidup

Kisah Pria Uzur, Rela Mengais Barang Bekas untuk Menyambung Hidup


KOTA BENGKULU, bengkulunews.co.id – ”Usia boleh tua, semangat muda punya”. Pepatah itulah yang patut dikemukaan bagi Nazarudin Zoro (84), warga Kelurahan Malabero Kecamatan Teluk Segara Kota Bengkulu.

Bagaimana tidak, diusia yang sudah tidak muda lagi, pria uzur ini, tetap bersemangat melakoni aktifitasnya sebagai pencari barang bekas, demi bertahan hidup.

Raut lelah, letih sangat terlihat diwajahnya. Namun, hal tersebut tidak bisa menghentikanya menuntun gerobaknya untuk meraup rupiah.

Saat dikonfirmasi bengkulunews.co.id, diselah istirahatnya ditepi jalan sekitaran Bank Indonesia (BI), pria kelahiran 84 tahun silam ini mengaku, jika pekerjaan tersebut dilakoninya sekira 20 tahunan.

Tak hanya itu, dirinya juga mengaku, uang dari hasil penjualan barang bekas yang ia peroleh itu dipergunakan untuk memenuhi kebutuhan dirinya bersama sang istri, Siti Alima (78).

”Bapak terpaksa bekerja seperti ini, karena bapak cuma hidup berdua sama ibu, tidak ada saudara yang membantu,” aku Zoro, Sabtu (29/4/2017).

Dari hasil yang ia peroleh, sampai Zoro, per hari dapat mengumpulkan uang sekira Rp17 ribu hingga Rp20 ribu per hari. Namun, kata dia, hal tersebut tergantung dari banyaknya barang bekas yang terkumpul.

Dalam pencarian barang bekas tersebut, Zoro menjelaskan, jika dirinya mulai melangkahkan kaki dari rumah sekira pukul 07.01 WIB hingga pukul 17.01 WIB, dengan jarak tempuh tidak kurang dari puluhan kilo meter (KM).

”Bapak sudah tidak kuat, jangankan mendorong gerobak, membawa baju dibadan sudah terasa berat. Maka dari itu setiap 400 meter berjalan Bapak selalu beristirahat,” ungkap Zoro.

Diakaui Zoro, dimasa tua ini dirinya hanya hidup berdua dengan sang istri, dan kebutuhan pun ia penuhi sendiri. Hal tersebut, kata dia, dari 8 saudara yang ia miliki, hanya dirinya yang masih hidup.

”Tapi, Bapak masih punya keponakan dan juga anak. Namun, 8 orang anak-anak bapak sama sekali tidak pernah memperdulikan Bapak dan juga Ibu. Jangankan kasih uang, jenguk saja tidak perna. Baik itu hari biasa maupun Hari raya,” kenang Zoro.

Tak hanya itu, selain dari hasil barang bekas, ia mengaku uang yang ia dapat merupakan bantuan atau sedekah dari orang yang kebetulan lewat.

”Kalau berharap dari barang bekas ini tidak seberapa dan tidak mencukupi. Dan ini dibantu dari sedekah dari orang- orang, baik itu berupa uang maupun berupa makan. Namun setidaknya Bapak dan Ibu merasa terbantu dan bersyukur. Bapak tidak meminta, melainkan warga sendiri yang memberi,” demikian Zoro.

Baca Juga
Tinggalkan komen