Logo

Kemarau dan Hama Serang Petani Bengkulu, Sulit Air dan Padi Jadi Pendek

Salah satu petani padi, Nurhasanah Mugiyono. Foto, Cindy/BN.

Salah satu petani padi, Nurhasanah Mugiyono. Foto, Cindy/BN.

BENGKULU – Setelah memasuki musim kemarau yang cukup panjang, sejumlah petani merasakan kesulitan. Mulai dari tanah yang kering, hasil panen yang menurun hingga banyaknya hama.

Salah satu petani padi, Nurhasanah Mugiyono (61) menuturkan kewalahan dengan kondisi musim kemarau saat ini. Ia merasakan kesulitan untuk menangani tanah kering, terlebih bibit yang ditanam sudah dalam kondisi cukup besar.

“Kita merasakan kendala lah ya, apa lagi daerah atas itu tidak mendapatkan air. Bahkan padinya pendek sebatas lutut, Alhamdullilah di tempat saya masih bisa ditangani,” kata Nurhasanah pada Bengkulunews.co.id Selasa (10/10/23) siang.

Kekeringan yang dialaminya tersebut dapat ditangani melalui alat pompa air yang dipinjam dari Kelompok Tani. Sawah seluas setangah hektar miliknya, membutuhkan waktu tiga hari untuk menyalurkan air dari siring ke tempatnya.

Sehingga bibit padinya bisa berkembang, walaupun Ia mengaku panda panen saat ini mengalami kemunduran. Jika biasanya Ia bisa memanen tiga bulan sekali, namun saat ini sudah lewat bulan keempat belum ada padi yang dapat di panen.

“Biasanya juga itu sebelum kemarau kami bisa panen 20 sampai 21 karung, tapi perkiraan kali ini tidak sampai. Paling delapan sampai sepuluh karung kita dapat,” keluhnya.

Belum lagi tanaman padi miliknya habis dimakan oleh hama seperti tikus bahkan burung, ditambah harga beras diperkirakan naik menjadi Rp10 ribu perkilo dari harga enam ribu. Nurhasana berharap pemerintah dapat memperhatikan kondisi para petani yang kesulitan dalam menghadapi musim kemarau panjang tersebut.

“Kita harap pemerintah ada memperhatikanlah para petani, juga kalau bisa Penyuluh pertanian itu bisa memberikan informasi kepada kami. Jadi jangan hanya sekedar datang foto, tetapi juga menanyakan kesulitan kami itu saja,” demikian Nurhasana.