Berita bengkulu
Berita Nasional dan Lokal #KitoNian

Dampak El-Nino, Luas Panen Padi dan Produksi Beras Bengkulu Mengalami Penyusutan

Salah satu lahan sawah di Kota Bengkulu. Foto, Indah/BN

BENGKULU – Musim kemarau tahun 2023 menjadi musim kemarau paling kering dalam tiga tahun terakhir. Sejumlah wilayah di Provinsi Bengkulu mengalami dampak kekeringan lahan pertanian akibat cuaca dari El Nino.

Berdasarkan data di Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kota Bengkulu luas panen Provinsi Bengkulu mengalami penurunan.

Di tahun 2020 luas lahan panen mencapai 64.137 hektare dengan total produksi 292.834 juta ton Gabah Kering Giling (GKG)

Selanjutnya pada tahun 2021 luas panen sebanyak 55.705 hektare, dengan hasil produksi padi sebanyak 271.117 juta ton GKG

Pada tahun 2022 produksi padi naik tipis menjadi 281.610 juta ton GKG dengan luas panen meliputi 57.152 hektare.

Sekretaris Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kota Bengkulu, Bahrizal mengatakan turunnya produksi padi di Bengkulu akibat kemarau dan El Nino dilihat dari areal persawahan yang mengalami kegagalan panen akibat kemarau

“Karena perubahan cuaca ini menyebabkan kekeringan air, lahan persawahan yang semestinya padi sudah berumur dua bulan dan harusnya sudah mulai bunting, namun karena adanya el nino ini sangat berpengaruh dengan hasil tanam membuat banyak hektare sawah tidak bisa digarap dan diproduksi maksimal, bahkan rata-rata hampir 80% para petani sudah tanam,” ungkap Bahrizal.

Diketahui lahan sawah di kota Bengkulu mencapai 580 hektare. Selama tiga tahun terakhir mengalami peningkatan setiap tahunnya. Namun pada tahun 2023  mengalami penyusutan akibat dari dampak El nino.

Ia menuturkan dalam menanggapi fenomena tersebut, Dinas Pertanian sudah memberikan bantuan berupa pompa air dan alat pertanian untuk menggerakan akomodasi yang terdampak, sayangnya bantuan tersebut sudah tidak memungkinkan lagi karena sumber air sudah mengalami kekeringan.

“Kita sudah berusaha memberikan bantuan mesin air, namun ternyata sudah tidak memungkinan lagi, karena sumber air yang mau disedot sudah tidak ada lagi,’’ katanya.

Bahrizal mengatakan pihaknya terus berupaya agar penurunan produksi padi itu tidak terjadi terlalu signifikan. Salah satunya dengan melakukan pendampingan kepada masyarakat petani. Serta memberikan bantuan benih.

“Kita akan mendampingi para petani bagaimana supaya mereka gairah dan semangat lagi dalam menghadapi dampak ini kedepannya,” ungkapnya.

Baca Juga
Tinggalkan komen