HMI Bengkulu Kecam Penembakan Lima Petani Pino Raya
24 Nov 2025

Insiden tragis kembali terjadi di wilayah Pino Raya, Bengkulu Selatan pada Senin, 24 November 2025. Lima orang petani dilaporkan menjadi korban penembakan yang diduga dilakukan oleh pihak keamanan perusahaan sawit PT Agro Bengkulu Selatan (PT ABS).
Menanggapi kejadian tersebut, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Bengkulu melalui Bidang HAM dan Lingkungan Hidup menyampaikan kecaman keras terhadap dugaan tindakan penembakan tersebut.
“Kejadian seperti ini sudah terlalu sering menimpa masyarakat kita. Ini bukan lagi sekadar konflik agraria, tetapi sudah menjadi tragedi kemanusiaan. Sudah selayaknya negara hadir secara tegas dalam penyelesaian konflik tersebut agar tidak ada lagi darah masyarakat yang tertumpah di tanah kelahirannya sendiri,” tulis Luthfi dalam rilis yang diterima bengkulunews, Senin (24/11/2025).
Luthfi mengatakan, dari informasi yang beredar sebelum insiden penembakan, para petani sudah berulang kali mengalami intimidasi. Teror tersebut berupa perusakan pondok tempat mereka beristirahat serta penghancuran tanaman petani.
Menurutnya, kondisi ini memperlihatkan adanya pola kekerasan struktural yang dibiarkan tanpa pengawasan dari pemerintah maupun penegak hukum. Situasi tersebut tidak hanya merampas hak dasar warga negara, namun juga menunjukkan betapa rapuhnya posisi petani ketika berhadapan dengan perusahaan yang memiliki kekuatan modal dan akses terhadap aparat bersenjata.
“Tragedi ini kembali menjadi catatan kelam penegakan hak asasi manusia serta tata kelola agraria di Indonesia, khususnya di Provinsi Bengkulu yang dalam beberapa tahun terakhir kerap disorot akibat meningkatnya sengketa tanah. Konflik antara masyarakat dan perusahaan perkebunan tak jarang berujung pada korban jiwa, trauma psikologis, kerusakan lingkungan sosial, hingga hilangnya ruang hidup bagi warga lokal.”
HMI Bengkulu menegaskan bahwa pemerintah daerah maupun pusat memiliki tanggung jawab konstitusional untuk melindungi masyarakat, terutama petani yang mempertahankan tanah sebagai sumber hidup mereka. Kasus seperti ini, harus menjadi peringatan keras untuk meninjau ulang tata kelola agraria, mekanisme pemberian izin kepada perusahaan, dan pengawasan terhadap aktivitas perkebunan skala besar agar tidak lagi menyisakan korban.
Peristiwa Pino Raya dinilai harus menjadi momentum semua pihak baik pemerintah, aparat penegak hukum, perusahaan, akademisi, hingga organisasi masyarakat sipil, untuk melihat akar persoalan agraria secara lebih serius. HMI Cabang Bengkulu mendesak Pemerintah Provinsi Bengkulu segera turun tangan menyelesaikan konflik, serta meminta Kepolisian Daerah Bengkulu menindak pelaku penembakan tanpa pandang bulu.