Logo

Bengkulu Alami Deflasi Pertama di Tahun 2024

Bengkulu Alami Deflasi Pertama di Tahun 2024

BENGKULU – Badan Statistik Provinsi (BPS) Bengkulu menyebut selama 6 Bulan terakhir, Provinsi Bengkulu mengalami Deflasi Minus 0,04 Persen dan Year-over-year (YOY) masih tinggi tingkatan dari nasional yaitu 3,64 persen.

“Pada hari ini, tanggal 1 juli, untuk pertama kalinya, selama 6 bulan dari januari hingga juni, pada kondisi Juni 2024 ini, Bengkulu mengalami Deflasi minus 0,04 persen. Nah tentunya ini hal yang mudah-mudah bergambar dengan baik, karena terus terang kita berharap harga-harga ini terkendali karena kita sudah sekian terus mengalami gejolak,” kata Win Rizal pada acara Press Release Berita Resmi Statistik, Senin (01/07/2024).

Kemudian ia menyampaikan selama 6 bulan terkahir, sampai dalam bulan juni secara kumulatif sebesar 1,56 persen dan secara c masih tinggi dari nasional yaitu 3,64 persen.

“Sampai dengan bulan Juni ini secara Kumulatif sebesar 1,56 persen dan secara Year-over-year memang kita masih cukup tinggi , masih di 3,64 ya, lebih tinggi dari nasional, ini yang harus kita jaga,” ujar Win.

Win juga menambahkan bahwa Year-over-year (YOY) tersebut masih mengikut sertakan sebagian dari perubahan harga di kondisi 2023.

“Dan mudah-mudahan upaya itu, kita bisa tetep mengendalikan dan kita bisa mampu untuk mencapai target,” tambah Win Rizal.

Kemudian Rohidin Mersyah Gubernur Bengkulu mengatakan ada beberapa angka yang cukup positif termasuk penurunan kemiskinan, tetapi posisinya belum banyak berubah dari sisi konteks Sumatera maupun Nasional.

“Saya kira ini yang masih perlu menjadi Pr besar bagi kita, bagi Pemerintah Daerah untuk menyusun program yang lebih jelas terarah, dalam bagaimana dampak ke angka kemiskinan,” ujar Rohidin.

Serta ia juga menjelaskan untuk Neraca Ekspor-impor perlu ada dorongan kembali, dalam kebijakan Pemerintah terhadap komoditas dan adanya Perusahan Petikemas untuk ekspor-impor di Bengkulu.

“Kemudian bagaimana mendorong Petani terkait eigen value nya, nilai tambah dari usaha tani, kemudian sarana-prasarana produksi yang sekarang memang cost of production petani kan naik, tapi sekarang Alhamdulillah kopi juga naik,” tutup Rohidin (Handi).