Gambar BengkuluNews

Bahasa yang Retak, Jiwa yang Terluka: Psikolinguistik Trauma Bencana Alam di Sumatera

Alwin Feraro
Bahasa yang Retak, Jiwa yang Terluka: Psikolinguistik Trauma Bencana Alam di Sumatera

Ilustrasi. AI Generated

Oleh: Rizka Novita Sari

Bencana alam yang melanda wilayah Sumatera, baik berupa banjir, gempa bumi, longsor, maupun kabut asap, tidak hanya berdampak pada kerusakan lingkungan dan infrastruktur. Lebih dari itu, peristiwa tersebut menyisakan tekanan psikologis yang mendalam bagi para korban. Ditengah situasi kehilangan dan ketidakpastian, bahasa hadir sebagai sarana utama manusia untuk memahami apa yang terjadi, mengekspresikan perasaan, serta mempertahankan keseimbangan mental. Disinilah psikolinguistik, yaitu kajian tentang hubungan bahasa dan proses psikologis, membantu kita membaca pengalaman bencana warga Sumatera.

Saat bencana terjadi, hal yang paling sering muncul adalah keinginan untuk bercerita. Banyak korban mencoba mengulang kembali apa yang mereka alami: air yang tiba-tiba naik, tanah yang mendadak bergerak, atau malam panjang yang dipenuhi rasa takut. Secara psikolinguistik, aktivitas bercerita ini bukan sekadar berbagi informasi. Narasi membantu otak menyusun kembali peristiwa kacau menjadi rangkaian yang lebih teratur. Dengan kata lain, bercerita adalah cara manusia memberi makna pada pengalaman traumatis. Psikolinguistik memandang fenomena ini sebagai respons alami otak terhadap pengalaman traumatis, ketika pikiran berusaha memproses kejadian yang datang secara tiba-tiba dan mengancam keselamatan.

Trauma juga memengaruhi pilihan kata. Banyak korban bencana yang menggunakan kata-kata bernuansa kehilangan, pasrah, atau kelelahan emosional. Ungkapan seperti “sudah habis semuanya”, “kami lelah”, atau “tidak tahu harus mulai dari mana” menggambarkan kondisi psikologis yang tertekan. Bahasa bukan hanya menjadi alat komunikasi, tetapi juga cermin keadaan batin. Apa yang diucapkan sering kali lebih jujur daripada yang mampu ditampilkan secara fisik.

Menariknya, tidak semua orang mengekspresikan mampu trauma melalui ledakan emosi. Sebagiannya justru memilih diam atau berbicara sangat singkat. Dalam psikolinguistik, diam juga dipahami sebagai bentuk bahasa. Ketika seseorang sulit bercerita atau menghindari topik pembicaraan, hal itu bisa menandakan bahwa otak belum siap membuka kembali memori yang menyakitkan. Oleh karena itu, memaksa mereka untuk “segera bercerita” justru dapat memperparah trauma.

Media sosial menjadi ruang penting dalam ekspresi bahasa pascabencana. Banyak warga Sumatera menuliskan pengalaman mereka melalui status, komentar, atau unggahan singkat. Bahasa yang digunakan sering kali sederhana, emosional, dan spontan. Dari sudut pandang psikolinguistik, menulis pengalaman traumatis dapat membantu individu mengurai emosi dan perlahan mengambil jarak dari rasa sakit. Kata-kata berfungsi sebagai jembatan antara pengalaman batin dan dunia luar.

Namun, bahasa juga bisa menjadi sumber luka baru jika tidak digunakan secara bijak. Pemberitaan yang sensasional, istilah yang menakutkan, atau komentar yang menyalahkan korban justru dapat memperdalam trauma psikologis. Para korban yang terus-menerus terpapar bahasa negatif, berisiko mengalami kecemasan berkepanjangan. Karena itu, penggunaan bahasa yang empatik dan manusiawi sangat penting dalam komunikasi kebencanaan.

Dalam proses pemulihan, bahasa memiliki peran terapeutik yang berperan besar dalam proses bangkit setelah bencana. Cerita membantu orang memahami apa yang terjadi, doa menghadirkan ketenangan, dan duka membuka ruang empati. Lewat bahasa, warga Sumatera tidak cuma menceritakan bencana, tapi juga pelan-pelan membangun kembali makna hidup mereka. Psikolinguistik mengingatkan kita bahwa pemulihan bukan cuma soal bangun jalan dan rumah, tapi juga memilih kata-kata yang manusiawi dan penuh empati.

Penulis adalah Mahasiswi UIN Syarif Hidayatullah

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!