Logo

Aksi Lingkungan Hidup Sedunia, Teatrikal Kerusakan Lingkungan di Bengkulu

Aksi Lingkungan Hidup Sedunia

Aksi Lingkungan Hidup Sedunia

BENGKULU – Koordinator aksi serta koordinator Fossil Free, Cimbyo Layas Ketaren mengatakan aksi yang dilakukan di Simpang Lima ini bertujuan dalam memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia 5 Juni 2022.

“Kita mau adain aksi radikal atau aksi damai, lewat bacaan puisi, nyanyi-nyanyian, dalam pembacaan tentang lingkungan kita di bengkulu,” kata Cimbyo pada Bengkulunews.co.id Minggu (05/02/22) Siang.

Dalam aksi ini sasaran yang diincar adalah masyarakat, Cimbyo meminta masyarakat dapat lebih perduli terhadap lingkungan. Termasuk isu-isu lingkungan yang ada di Bengkulu.

“Bengkulu itu lingkungannya sedang dirusak, karena sedang dirusak, jadi kita element masyarakat, pemerintahan, itu ikut ambil bagian dalam menyuarakan dan bertindak dalam menangani perusak lingkungan ini,” sambungnya.

Cimbyo juga meminta, lewat aksi ini nantinya pemerintah dan penegak hukum dapat bertindak dalam menangani perusak lingkungan hidup, sesuai dengan apa yang tertera di undang-undang.

“Kepada masyarakat, makin banyak, masyarakat yang dapat menyuarakan lingkungan. Serta, isue lingkungan. Ikut andil juga dalam, menyuarakan ruang hidup. Karena, menyelamatkan lingkungan itukan sama dengan menyelamatkan ruang hidup kita,” kata Cimbyo.

Cimbyo menjelaskan kondisi saat ini di hulu, perambahan hutan, penebangan liar hingga praktik jual beli kawasan hutan masih terus terjadi. Selain itu, penghancuran sumber air untuk pertambangan batu bara juga menyumbang kerusakan yang menambah penderitaan rakyat.

Sedangkan di hilir, pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) berbahan bakar batu bara Teluk Sepang sudah menimbulkan dampak buruk.

Hal tersebut juga ditekankan oleh Direktur Program dan Kampanye Kanopi Hijau Indonesia, Olan Sahayu mengatakan bahwa proses penghancuran ini terus berlangsung.

Olan mencontohkan, di habitat gajah Sumatera (Elephas Maximus Sumatranus) di Bentang Alam Seblat ditemukan 58 titik perambahan baru, ada pula ancaman tambang batu bara PT Inmas Abadi.

Saat ini seluas 23.740 hektare kawasan hutan Bentang Seblat di wilayah Bengkulu Utara dan Mukomuko telah dirambah dan kehilangan fungsinya tanpa ada tindakan berarti dari pemangku dan penegak hukum.

Sedangkan di Desa Pondok Bakil, Bengkulu Utara pengerukan batubara oleh PT Injatama sudah menimbulkan kerusakan dan merugikan rakyat.

Di sektor hilir, akibat pembakaran batu bara, pembuangan limbah cair ke laut tanpa izin diduga telah menyebabkan 28 ekor penyu mati.

Tidak hanya itu, limbah air bahang dengan suhu tinggi dapat menyebabkan pemutihan terumbu karang. Akibatnya, ribuan nelayan pesisir Kota Bengkulu dan Seluma akan terganggu penghidupannya karena hasil tangkap mereka bergantung pada kelestarian sumber daya laut.

Tidak hanya itu, pembakaran batu bara juga mengeluarkan abu beracun yang menyumbang emisi ke atmosfir. Setiap hari sebanyak 700 kg abu serta senyawa beracun seperti NOx, Sox, CO keluar dari cerobong PLTU.

Senyawa tersebut di atas bila dihirup manusia akan menyebabkan penyakit ISPA, kanker paru-paru, jantung, hingga kematian dini bagi warga Kota Bengkulu, Bengkulu Tengah dan Seluma yang terpapar abu pembakaran PLTU.

Padahal, pembakaran batu bara berkontribusi 44 persen pada emisi karbon dunia yang menjadi penyebab krisis iklim. Artinya, PLTU batu bara di Bengkulu ikut berkontribusi atas krisis iklim yang terjadi saat ini.

“Kita sudah tidak punya banyak waktu. Jika dalam abad ini tidak ada perbaikan pengelolaan lingkungan hidup, maka planet ini akan semakin kritis. Daya dukung lingkungan dipastikan akan hancur,” kata Olan.