Logo

Yunike Karolina, Perempuan dengan Profesi Jurnalis

Yunike Karolina. Foto, Cindy/BN

Yunike Karolina. Foto, Cindy/BN

BENGKULU – “Impian aku itu ingin menjadi wartawan perang. Jadi aku pernah nonton berita tentang seorang jurnalis yang melakukan liputan di medan perang, itu sangat menarik,” kenang Yunike saat disambangin beberapa waktu lalu.

Menjadi seorang jurnalis, sudah menjadi impian Yunike Karolina (37) sejak ia memutuskan memilih jurusan Komunikasi di Universitas Bengkulu (Unib) tahun 2004 lalu. Profesi yang masih didominasi maskulitas tersebut, menurutnya merupakan profesi yang unik dan penuh tantangan.

Pasang surut dialami ibu dua anak ini sepanjang 11 tahun karir jurnalistiknya. Yunike mengawali karir sebagai jurnalis di salah satu surat kabar harian terkemuka di Kota Bengkulu sejak tahun 2012. Setahun terakhir ia memutuskan mencoba peruntungan baru di media online dengan tagline “Mata Lokal Menjangkau Indonesia” sebagai editor.

Lingkungan kerja yang rata didominasi laki-laki, tidak membuat Yunike surut. Baginya perempuan dan laki-laki setara, apapun bisa dilakukan keduanya. Bahkan saat dua kali mengandung, Yunike tetap menjalankan tugasnya dengan baik.

Ia menolak jika ada anggapan jurnalis perempuan menjadi tidak produktif ketika dihadapkan dengan situasi kehamilan. Meskipun sedang berbadan dua, tidak ada yang dapat menghalanginya untuk menjadi seorang jurnalis profesional.

“Karena selama ini saya percaya diri saja,  tidak merasa perempuan adalah makhluk nomer dua.  Jadi ketika liputan ya mengalir saja,  karena saya merasa setara dengan laki-laki,” lanjut Yunike yang saat ini didapuk menjadi Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Bengkulu.

Namun ia tidak menampik ada rasa takut dan cemas ketika harus melakukan liputan tengah malam dengan lokasi yang sangat jauh.

“Rasa takut itu wajar ya tidak hanya perempuan saja. Tapi apapun itu kesulitan yang ada selalu menjadi tantangan tersendiri yang dapat dilewati. Kalau untuk kinerja kita perempuan tidak kalah dengan laki-laki,” tegas Yunike.

Menjadi ibu pekerja, Yunike harus pintar membagi waktu antara pekerjaan dan keluarga. Ia bersyukur, pasangan hidupnya memberikan dukungan besar bagi Yunike untuk mengembangkan karir. Sehingga ketika waktunya banyak tersita di lapangan, suami mendukung penuh. Ia tidak memungkiri, di sela-sela liputan masih memikirkan bagaimana kondisi anak-anaknya. Namun totalitas dalam bekerja sangatlah dijunjung tinggi Yunike.

“Semua perempuan bisa menggapai apapun, karena mereka tangguh. Perempuan dan laki-laki sama saja, tidak usah takut untuk melanjutkan apa yang sudah dimulai. Saya berharap perempuan di Bengkulu harus percaya diri dan semoga banyak perempuan di Bengkulu berada di posisi pimpinan dan pengambil keputusan,” demikian Yunike. (**)

Tulisan ini diproduksi kerjasama Bincang Perempuan dan Bengkulu News sebagai program peningkatan kapasitas jurnalis perempuan menulis berita berperspektif gender “Perempuan dalam Ruang Publik