
BENGKULU – Solidaritas Sosial dan Digital Menguat di Tengah Bencana Banjir dan Longsor Sumatera. Bencana banjir dan tanah longsor yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera dan Aceh sepanjang akhir 2025 menimbulkan dampak kemanusiaan yang sangat besar.
Berdasarkan data resmi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per 15 Desember 2025, tercatat sedikitnya 1.030 orang meninggal dunia, 206 orang dinyatakan hilang, dan ribuan lainnya mengalami luka-luka. Selain itu, ratusan ribu warga terpaksa mengungsi akibat rusaknya permukiman, terputusnya akses jalan dan jembatan, serta lumpuhnya fasilitas umum dan layanan dasar.
Wilayah terdampak seperti Aceh Tamiang, Kabupaten Agam, Tapanuli Tengah, dan Tapanuli Selatan mengalami kerusakan parah. Aktivitas ekonomi masyarakat berhenti total, lahan pertanian rusak, serta ribuan keluarga kehilangan sumber mata pencaharian.
Kondisi ini memperlihatkan bahwa bencana tidak hanya berdampak pada kerusakan fisik, tetapi juga menimbulkan krisis sosial, ekonomi, dan psikologis yang mendalam, terutama bagi kelompok rentan dan masyarakat di wilayah terpencil yang sulit dijangkau bantuan.
Di tengah kondisi darurat tersebut, solidaritas sosial masyarakat Indonesia menunjukkan peran yang sangat signifikan. Selain upaya pemerintah dan lembaga kemanusiaan, dukungan masyarakat luas mengalir melalui berbagai bentuk bantuan. Perkembangan media sosial turut mendorong lahirnya solidaritas digital, di mana influencer dan figur publik berperan besar dalam menggalang dana dan meningkatkan kepedulian publik secara cepat.
Sejumlah influencer dan artis nasional berhasil menghimpun bantuan dalam jumlah besar dalam waktu singkat. Ferry Irwandi tercatat menggalang dana sekitar Rp10 miliar dalam kurun waktu 24 jam melalui platform donasi daring. Praz Teguh berhasil menghimpun sekitar Rp3,3 miliar, sementara Rachel Vennya mengumpulkan sekitar Rp1,3 miliar dan Zaskia Mecca sekitar Rp772 juta. Dari kalangan artis muda, Shenina Cinnamon dan Angga Yunanda berhasil menghimpun dana sekitar Rp395 juta.
Sementara itu, figur publik dengan jangkauan pengaruh besar seperti Raffi Ahmad tercatat menyumbangkan bantuan hingga Rp15 miliar untuk korban bencana.
Secara keseluruhan, total bantuan yang berhasil dihimpun dari berbagai influencer dan figur publik tersebut mencapai lebih dari Rp30 miliar, menunjukkan kuatnya kepercayaan publik serta besarnya potensi solidaritas digital dalam merespons bencana kemanusiaan. Selain penggalangan dana, sejumlah influencer juga terlibat langsung dalam penyaluran bantuan ke lokasi terdampak.
Namun demikian, derasnya arus bantuan berbasis media sosial juga menghadirkan tantangan.
Beberapa daerah yang mendapat sorotan media cenderung menerima bantuan lebih banyak, sementara wilayah terpencil berisiko terabaikan. Kurangnya koordinasi antaraktor nonformal juga berpotensi menimbulkan penumpukan bantuan dan menurunkan kepercayaan publik apabila transparansi tidak dijaga dengan baik.
Para pengamat menilai bahwa kolaborasi yang lebih terstruktur antara pemerintah, lembaga kemanusiaan, influencer, dan masyarakat sangat diperlukan. Pemetaan wilayah terdampak, keterbukaan data korban, serta transparansi penyaluran bantuan menjadi kunci agar solidaritas yang tumbuh tidak bersifat sesaat, tetapi mampu menjangkau kelompok paling membutuhkan secara adil dan berkelanjutan.
Di balik besarnya dampak bencana, meningkatnya solidaritas sosial dan digital ini menjadi modal penting dalam membangun ketahanan sosial masyarakat Indonesia. Dengan pengelolaan yang tepat, solidaritas tersebut diharapkan tidak hanya membantu pemulihan pascabencana, tetapi juga memperkuat kesiapsiagaan dan kerja sama dalam menghadapi bencana yang terus berulang di masa mendatang.
Karya Tulis Mahasiswa/i Perpustakaan dan Sains Informasi FISIP UNIB
- Dinda Dwi Anjani
- Karina Atika Wulandari
- Arfiah Yunia Sahdila
- Cahya Vidya Amerli
- NadiaTry Wahyuli
- Ferlin Fernandes

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!