Berita Nasional dan Lokal #KitoNian

Mahasiswa Unived Ngaku Gelisah Ada Aktivitas Kampanye di Kampus

Mahasiswa Unived saat beraudiensi bersama Dempo Xler

BENGKULU – Ketua Komisi I Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi Bengkulu, Dempo Xler mengatakan sejumlah mahasiswa Universitas Dehasen (Unived) melapor banyak aktivitas kampanye di kampus mereka. Kondisi ini disebut memecah konsentrasi mahasiswa.

“Teman-teman anak komunikasi Unived menyampaikan aspirasi mereka, bahwa mereka gelisah dengan keadaan kampus hari ini yang rentan digunakan sebagai sarana kampanye politik praktis,” kata Dempo, Senin (18/12/2023).

Dempo menyebut, aktivitas kampanye yang diakui oleh mahasiswa Unived itu, membuat perpecahan di antara mahasiswa. Ini berakibat pada runtuhnya kekompakan mahasiswa dalam mengawal konstitusi.

“Kegelisahan mereka itu punya alasan. Pertama membuat perpecahan sesama mahasiswa sehingga tidak kompak lagi di kampus. Dan berpotensi juga menyebabkan beberapa dosen yang menggiring mahasiswa untuk pro A, B atau C,” ungkap Dempo.

Tidak hanya itu, aktivitas kampanye ini disebut juga telah terlihat nyata dengan adanya atribut-atribut politik. Padahal, kata Dempo, undang-undang pemilu melarang pemasangan atribut tersebut di dalam lingkungan kampus.

“Dalam undang-undang kita yang baru, itu diperbolehkan di PKPU itu berkampanye di kampus. Tapi kampanye di kampus itu kampanye yang punya sistem, mesti tidak boleh membawa atribut, tidak boleh membawa nomor urut, tidak boleh membawa logo partai dan mesti punya izin,” jelas Dempo.

Dempo mengaku kampus memang harusnya menjadi wadah untuk pendidikan politik. Namun aktivitas itu hendakanya melibatkan seluruh peserta pemilu. Caranya bisa berdialog dan dibedah visi politiknya.

“Misal capres, maka undang ketiga capresnya,” sampai Dempo.

Juru bicara perwakilan mahasiswa Unived, Dwinka Sahadi mengatakan, aktivitas kampanye di lingkungan kampus merupakan tindakan yang tidak etis. Ia mengaku banyak atribut kampanye terpasang di kampus Unived.

“Menolak kampanye di lingkungan kampus. Karena tidak etis, misal seperti baner atau atribut lainnya yang dipasang di kampus,” ujarnya.

Baca Juga
Tinggalkan komen